Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Indonesia Tertinggal dari Vietnam dan Thailand: Kapan Bisa Lepas dari Jebakan Pendapatan Menengah?

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Indonesia Tertinggal dari Vietnam dan Thailand: Kapan Bisa Lepas dari Jebakan Pendapatan Menengah?
BAGIKAN:

Masih panjang jalan Indonesia menuju status negara maju. Demikian peringatan tegas Kepala dan CEO Asian Development Bank Institute (ADBI), Bambang Brodjonegoro, dalam Konferensi ADBI-Bappenas, Rabu (9/9/2026). Berdasarkan metodologi probabilitas jebakan pendapatan menengah (Middle Income Trap), skor Indonesia hanya 0,44—jauh di bawah ambang batas 0,6—dan bahkan terpaut di bawah Thailand (0,562) serta Vietnam (0,506). Artinya, secara kuantitatif, dua negara tetangga itu memiliki peluang lebih besar untuk naik kelas sebelum Indonesia.

Bambang menyoroti bahwa negara-negara Asia yang berhasil lolos dari jebakan pendapatan menengah, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, memiliki kesamaan: transformasi struktural yang didorong oleh koherensi kelembagaan. Jepang unggul dalam koordinasi birokrasi dan kemampuan industri; Korea mengandalkan sinergi bisnis-negara dan orientasi ekspor; sementara Singapura membangun tata kelola teknokratis yang dipadu investasi asing langsung (FDI) yang kuat dan pengembangan kapabilitas teknologi.

"Pada akhirnya, mereka memiliki peningkatan produktivitas yang menghasilkan transformasi struktural dan mencapai status berpenghasilan tinggi," papar Bambang. Namun, bagi Indonesia dan sejumlah negara seperti Filipina, Kamboja, Myanmar, dan India, jalan masih terjal. Probabilitas MIT yang rendah mencerminkan lemahnya koordinasi kebijakan, rendahnya kompleksitas ekspor, dan keterbatasan penguasaan teknologi.

Peluang di Tengah Tantangan

Di tengah perbandingan yang kurang menggembirakan, Bambang menekankan bahwa Indonesia masih punya harapan asalkan serius melakukan transformasi struktural yang terarah. Langkah yang harus ditempuh antara lain: memperkuat basis sumber daya, mendalami manufaktur, meningkatkan pengembangan pemasok domestik, menarik FDI yang intensif teknologi, serta meningkatkan keterampilan dan inovasi. Tak kalah penting, kebijakan institusional dan industri yang konsisten menjadi fondasi.

"Tujuannya bukan mengurangi integrasi dengan ekonomi dunia, tetapi integrasi yang lebih canggih," tegas Bambang. Artinya, Indonesia harus bergeser dari pemain pasif rantai nilai global menjadi peserta aktif yang menciptakan nilai tambah domestik lebih tinggi. Hal itu akan mendorong pertumbuhan berbasis produktivitas, bukan sekadar eksploitasi sumber daya alam atau tenaga kerja murah.

Analisis: Mengapa Thailand dan Vietnam Lebih Unggul?

Jika membaca data ADBI, pertanyaan kritis muncul: apa yang membuat Thailand dan Vietnam lebih siap? Dalam kasus Vietnam, negara tersebut berhasil memanfaatkan pergeseran rantai pasok global dengan reformasi regulasi yang agresif dan perjanjian dagang mutakhir, seperti CPTPP dan EVFTA. Thailand, meski menghadapi ketidakstabilan politik, tetap memiliki basis industri otomotif dan elektronik yang mapan serta ekosistem pariwisata bernilai tambah.

Indonesia, di sisi lain, masih bergulat dengan birokrasi yang berbelit, infrastruktur yang timpang, dan hilirisasi yang baru berjalan di sektor komoditas mentah. Padahal, daya saing ekspor Indonesia masih tertahan di produk berbasis sumber daya alam, sementara ekspor manufaktur bernilai tambah masih rendah. Tanpa terobosan dalam pendidikan vokasi, riset, dan digitalisasi industri, jarak dengan Thailand dan Vietnam justru berpotensi melebar.

Namun, bukan berarti Indonesia tanpa kartu truf. Dengan populasi besar, pasar domestik yang tumbuh, dan kekayaan sumber daya strategis, potensi lompatan masih terbuka. Kuncinya ada pada keberanian politik untuk melakukan reformasi struktural yang tidak populer, termasuk penyederhanaan regulasi, peningkatan kualitas birokrasi, dan insentif bagi investasi berteknologi tinggi. Seperti disampaikan Bambang, koherensi kelembagaan adalah kunci—tanpa itu, probabilitas 0,44 hanya akan menjadi angka statis yang menyedihkan.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang dimaksud dengan probabilitas jebakan pendapatan menengah (MIT)?
MIT adalah ukuran yang dikembangkan ADBI untuk menghitung peluang suatu negara terperangkap di level pendapatan menengah tanpa bisa naik ke status negara maju. Ambang batas 0,6 menunjukkan tingkat kesiapan struktural, dan skor di bawahnya mengindikasikan risiko tinggi.

Mengapa Vietnam dan Thailand lebih tinggi dari Indonesia?
Keduanya memiliki transformasi struktural yang lebih maju, dengan kebijakan industrial yang lebih konsisten, integrasi dagang yang lebih dalam, serta peningkatan kualitas SDM dan teknologi yang lebih cepat dibanding Indonesia.

Apa langkah konkret yang harus dilakukan Indonesia?
Menurut Bambang, Indonesia perlu memperkuat basis sumber daya, mendalami manufaktur, meningkatkan pemasok domestik, menarik FDI teknologi, serta mengadopsi kebijakan industri yang konsisten dan berkelanjutan, sembari tetap terintegrasi dengan ekonomi global secara cerdas.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸