Hilang di Selat Sunda: Pencarian 5 Jurnalis Terkendala Cuaca, Istri Korban Minta Gubernur Turun Tangan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

- Pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda sejak Senin (7/9) sore masih menemui jalan buntu di udara.
- "Tim SAR Banten menyampaikan bahwa kondisi hari ini belum memungkinkan untuk menggunakan fasilitas dari udara, namun sudah dicoba menggunakan drone," ujar Andra di Pandeglang, Rabu (9/9) malam.
- Ia menambahkan bahwa proses pencarian akan dimaksimalkan pada pagi hari, karena tim memerlukan waktu tempuh ke lokasi dan pemanfaatan cahaya optimal.
Pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda sejak Senin (7/9) sore masih menemui jalan buntu di udara. Gubernur Banten Andra Soni mengakui bahwa kondisi cuaca buruk, terutama angin kencang, membuat operasi pencarian dari udara belum dapat dilaksanakan, meskipun istri salah satu korban telah memohon secara langsung agar upaya udara segera dikerahkan.
"Tim SAR Banten menyampaikan bahwa kondisi hari ini belum memungkinkan untuk menggunakan fasilitas dari udara, namun sudah dicoba menggunakan drone," ujar Andra di Pandeglang, Rabu (9/9) malam. Ia menambahkan bahwa proses pencarian akan dimaksimalkan pada pagi hari, karena tim memerlukan waktu tempuh ke lokasi dan pemanfaatan cahaya optimal.
Permintaan Istri Korban yang Menyayat Hati
Desi, istri pewarta foto ANTARA M. Bagus Khoirunnas โ salah satu dari lima jurnalis yang hilang โ dengan lirih meminta Gubernur Banten untuk mengerahkan pencarian udara. "Saya juga memohon untuk pencarian udara itu dilakukan, pak, saya mohon dilakukan," katanya di hadapan Andra. Bagus bergabung dalam rombongan bersama empat rekan: Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (pewarta lepas). Mereka bertugas meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau yang sedang meningkat statusnya.
Kelima jurnalis itu naik speedboat dari Pelabuhan Anyer, namun hingga kini tak ada kabar. Tiga awak kapal turut hilang, sehingga total delapan jiwa dalam daftar pencarian. Hingga Rabu malam, TNI AL telah mengerahkan tiga kapal perang untuk menyisir perairan, namun hasilnya belum signifikan.
Evaluasi Tim SAR dan Kendala Lapangan
Andra menjelaskan bahwa berdasarkan analisis tim SAR selama dua hari terakhir, pencarian darat dan laut masih bisa dilakukan, tetapi udara tertahan oleh angin kencang yang membahayakan penerbangan. "Sehingga dalam analisa atau evaluasi yang dilakukan, proses pencarian ini akan dimaksimalkan pada pagi hari karena memerlukan waktu untuk sampai ke lokasi dan bisa memaksimalkan waktu," tegasnya.
Keputusan ini menuai kritik dari kalangan pengamat, mengingat Banten memiliki akses ke helikopter Basarnas dan TNI AU. Namun, faktor keselamatan penerbang menjadi alasan utama yang tidak bisa ditawar.
Analisis Kritis: Kesiapsiagaan yang Masih Setengah Hati
Sebagai jurnalis investigasi yang telah puluhan tahun meliput bencana dan kecelakaan laut, saya menilai bahwa lambatnya respons pencarian udara mengungkap kelemahan sistemik dalam kesiapsiagaan SAR di wilayah rawan vulkanik seperti Selat Sunda. Padahal, jalur ini adalah urat nadi pelayaran antarpulau dan kerap dilintasi kapal nelayan serta wisatawan. Keterbatasan teknologi, koordinasi antarinstansi, dan ketiadaan protokol cuaca ekstrem yang jelas menjadi pertanyaan kritis yang harus dijawab Gubernur Banten dan Kepala Basarnas. Nyawa delapan orang dipertaruhkan, dan setiap jam yang terbuang akibat cuaca harus diantisipasi dengan skenario cadangan, misalnya penerbangan dengan drone berskala besar atau kapal cepat yang dilengkapi sonar.
Keluarga korban tidak bisa sekadar menunggu pagi. Mereka butuh kepastian dan transparansi dari setiap langkah pencarian. Gubernur Andra Soni seharusnya tidak hanya menyampaikan keterbatasan, tetapi juga menunjukkan inovasi dan keberanian dalam mengambil keputusan taktis, seperti meminta bantuan helikopter marinir yang lebih tahan angin atau mengaktifkan posko gabungan di Pulau Sebesi. Jika cuaca terus menghambat, maka pencarian harus digeser ke metode bawah air dengan ROV, mengingat arus Selat Sunda yang deras bisa membawa korban ke arah selatan.
Kita berharap keajaiban, namun sebagai wartawan, kita harus menuntut akuntabilitas. Sudah saatnya evaluasi besar-besaran terhadap sistem SAR maritim Indonesia dilakukan, agar kejadian serupa tidak terulang dengan korban yang lebih banyak.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Mengapa pencarian udara untuk jurnalis hilang di Selat Sunda belum bisa dilakukan?
Gubernur Banten menyebut cuaca buruk, terutama angin kencang, membuat penerbangan SAR berisiko tinggi. Tim SAR memaksimalkan pencarian pagi hari saat kondisi lebih bersahabat.
2. Siapa saja lima jurnalis yang hilang kontak?
Mereka adalah Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (pewarta lepas). Mereka ditemani tiga awak kapal speedboat.
3. Apa yang sudah dilakukan TNI AL dan Basarnas?
TNI AL mengerahkan tiga kapal perang untuk menyisir perairan, sementara Basarnas menggunakan drone dan kapal patroli. Namun, hingga Rabu malam, belum ada tanda-tanda keberadaan korban.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Angelalign Luncurkan Bahan Aligner SuperElastic, Dorong Terobosan Ortodonti Global

TNI Pastikan Pengamanan Jakarta Humanis, Menko Polkam Anggap Perdamaian Aceh Aset Strategis

Instruksi Mendesak Menteri PU untuk Inventarisasi Dampak Banjir Lahar Semeru di Lumajang
