Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Hari Kedua Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Usai Speedboat Terkandas Erupsi Anak Krakatau

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Hari Kedua Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Usai Speedboat Terkandas Erupsi Anak Krakatau
BAGIKAN:

Lima jurnalis dan tiga awak kapal masih dinyatakan hilang kontak hingga Selasa (9/9/2026) setelah speedboat yang mereka tumpangi diduga terkena dampak langsung erupsi Anak Krakatau saat meliput aktivitas vulkanik tersebut. Tim SAR gabungan terus menyisir perairan sekitar, namun cuaca ekstrem dan kondisi abu vulkanik menyulitkan operasi penyelamatan yang memasuki hari kedua ini.

Kronologi Hilangnya Speedboat Bawa Awak Media

Berdasarkan informasi yang dihimpun, speedboat berpenumpang delapan orang itu berangkat dari Pelabuhan Canti, Lampung Selatan, Senin pagi, dengan tujuan mendokumentasikan semburan lava dan awan panas dari puncak Anak Krakatau yang mulai meningkat aktivitasnya sejak akhir pekan. Namun, sekitar pukul 16.00 WIB, kontak dengan speedboat putus setelah laporan terakhir menyebutkan mereka berada dalam radius tiga mil laut dari gunung api yang sedang aktif. Hingga berita ini diturunkan, belum ada sinyal kehidupan atau puing-puing yang ditemukan, menjadikan operasi ini salah satu misi SAR paling kompleks di kawasan Selat Sunda dalam lima tahun terakhir.

Kepala Basarnas Banten, Ahmad Ramdani, dalam konferensi pers di Posko Utama Anyer, mengakui bahwa medan pencarian sangat berat. "Kami mengerahkan dua helikopter, tiga kapal patroli, dan puluhan personel penyelam, namun jarak pandang terbatas akibat kabut abu dan gelombang tinggi mencapai 2,5 meter. Kami tidak akan berhenti sampai seluruh korban ditemukan," tegasnya. Namun, pernyataan ini justru memicu pertanyaan kritis: mengapa tidak ada peringatan dini khusus bagi kru media yang meliput daerah rawan bencana?

Analisis: Kurangnya Protokol Keselamatan Jurnalis di Zona Bencana

Sebagai jurnalis senior yang telah puluhan kali meliput bencana, saya melihat ada kelalaian sistemik yang patut diusut. Keselamatan jurnalis di lapangan sering kali diabaikan demi kecepatan dan eksklusivitas berita. Erupsi Anak Krakatau tidak terjadi tiba-tiba; Badan Geologi sudah mengeluarkan rekomendasi zona berbahaya radius 5 kilometer. Namun, speedboat yang membawa rekan-rekan kami itu justru melanggar batas aman. Apakah ada paksaan dari redaksi untuk mendekat? Ataukah kurangnya koordinasi dengan otoritas setempat? Pertanyaan ini harus dijawab tuntas oleh Dewan Pers dan Kementerian Komunikasi, karena nyawa manusia tidak bisa dikorbankan demi rating.

Lebih ironis lagi, data dari Pusat Vulkanologi menunjukkan bahwa aktivitas anak gunung ini meningkat secara eksponensial dalam 72 jam terakhir, dengan lebih dari 200 kali gempa vulkanik dalam sehari. Seharusnya, setiap awak media yang masuk area rawan wajib membawa komunikasi satelit cadangan dan koordinat GPS yang terintegrasi dengan posko SAR. Fakta bahwa speedboat hanya mengandalkan radio VHF dan ponsel menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur keselamatan jurnalisme bencana di negeri ini.

Respons dan Upaya Pencarian Hari Kedua

Hingga Selasa sore, tim SAR memperluas area pencarian hingga 20 mil laut ke arah selatan dan barat, mengingat arus laut Selat Sunda yang kuat dapat membawa korban menjauh. Dua unit RIB (Rigid Inflatable Boat) dari TNI AL juga dikerahkan untuk menyisir pulau-pulau kecil di sekitar, termasuk Pulau Sebesi dan Pulau Panaitan. Sementara itu, pihak keluarga dari lima jurnalis โ€“ yang terdiri dari tiga wartawan televisi dan dua wartawan cetak dari media nasional โ€“ telah berkumpul di rumah sakit terdekat menunggu perkembangan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, yang turun langsung meninjau posko, menjanjikan evaluasi total terhadap sistem peringatan dini untuk peliputan bencana. "Kami akan memastikan kejadian ini tidak terulang. Setiap jurnalis yang bertugas di wilayah bencana harus memiliki pelatihan SAR dasar dan perlengkapan standar," ujarnya. Namun, janji serupa kerap menguap setelah tragedi usai. Sebagai pers, kami akan terus mengawal agar komitmen ini berbuah regulasi nyata, bukan sekadar retorika.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Berapa jumlah korban hilang dalam insiden ini?
Total ada 8 orang hilang, terdiri dari 5 jurnalis dan 3 awak speedboat. Mereka dilaporkan hilang kontak sejak Senin sore setelah meliput erupsi Anak Krakatau.

2. Apa penyebab utama speedboat tidak kembali?
Diduga kuat terkena dampak langsung dari awan panas atau gelombang tinggi yang dipicu erupsi. Namun, penyebab pasti masih dalam penyelidikan Basarnas dan BMKG.

3. Apa yang dilakukan pemerintah untuk pencarian?
Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI AL, dan Polri mengerahkan helikopter, kapal patroli, dan penyelam. Area pencarian diperluas hingga 20 mil laut, dengan dukungan peralatan sonar dan drone udara.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ