Tulang Lele Jadi Cookies, Kulitnya Jadi Keripik! Mahasiswa UPH Sulap Limbah Jadi Cemilan Sehat & Omzet Tembus Jutaan
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Kapanlagi.com – Siapa sangka, tulang dan kulit ikan yang biasanya dibuang begitu saja bisa berubah jadi camilan renyah bernilai jual tinggi? Mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) membuktikan bahwa limbah lele bisa disulap menjadi cookies kaya kalsium dan keripik gurih, sekaligus mengerek omzet warga Tigaraksa hingga 300%. Inovasi ini bukan cuma soal kreativitas, tapi juga jawaban atas masalah stunting dan ekonomi lokal.
Lele Bukan Cuma Dagingnya: Gerakan Zero Waste dari Kampus
Di balik potensi budidaya lele dengan 600 kolam di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, selama ini hanya daging yang dimanfaatkan—menjadi abon atau dimsum pesanan. Padahal, tulang dan kulit menyimpan nutrisi melimpah. Himpunan Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan UPH, melalui program LESTARI (Lele Sehat Tigaraksa Mandiri), mengubah sisa produksi menjadi produk bernilai ganda. Dengan pendekatan zero waste, mereka mengolah tulang menjadi cookies dan kulit menjadi keripik, bahkan organ dalam diubah menjadi pupuk organik.
Program yang didukung hibah Rp24,8 juta dari Kemdiktisaintek dan tambahan Rp10 juta dari UPH ini melibatkan 16 mahasiswa dari 7 jurusan—mulai dari Teknologi Pangan, Manajemen, Hukum, hingga Teknik Sipil. Kolaborasi lintas disiplin itu memastikan inovasi tak cuma enak, tapi juga layak jual dan legal.
Cookies Tulang Lele: Camilan Kalsium Tinggi Penangkal Stunting
Ide cookies lahir dari riset dosen pembimbing, Prof. Dr. Ir. Adolf J. N. Parhusip, yang menemukan kandungan kalsium tulang lele mencapai 1.650 mg per 100 gram—lebih tinggi dari susu sapi! Dengan populasi 1.632 kasus stunting di Tigaraksa, camilan ini menjadi alternatif gizian yang mudah diterima anak-anak. Prosesnya pun sederhana: tulang dipresto, dikeringkan dengan cabinet dryer (atau sinar matahari), lalu dihaluskan dan dicampur adonan kue. Hasilnya? Renyah, gurih, dan kaya mineral.
Sementara itu, kulit lele yang mengandung kolagen dimarinasi jeruk nipis dan garam, dikeringkan, lalu digoreng hingga mengembang. Keripik ini dijamin anti amis dan teksturnya super renyah—cocok untuk teman nongkrong atau oleh-oleh kekinian.
Dari Dapur ke Pasar: Omzet Melonjak 300%
Tak sekadar pelatihan, tim LESTARI mendampingi masyarakat hingga urusan branding, legalitas, dan digital marketing. Hasilnya menggembirakan: sebelum program, omzet warga hanya Rp700–900 ribu per minggu; kini melonjak ke Rp3,4 juta per minggu! Produk olahan baru turut meningkatkan pemanfaatan lele hingga 90%, dengan target produksi naik 60% dan omzet 50% lebih tinggi.
"Kami tidak hanya mengajarkan cara membuat, tapi juga memastikan usaha ini berkelanjutan," ujar Joanna Faleshia, ketua tim. Pelatihan yang digelar di Gucang Farm pada Juni–Agustus 2026 diikuti 40 peserta, termasuk ibu-ibu PKK, karang taruna, dan pelaku UMKM. Mereka belajar mengemas produk, mengurus izin PIRT, hingga memasarkan lewat media sosial.
Komentar Editor: Inovasi Kecil, Dampak Besar
Sebagai pengamat budaya pop, saya melihat fenomena ini bukan sekadar tren makanan sehat. Ini adalah gerakan ekonomi kreatif yang menyentuh akar masalah: limbah makanan dan gizi buruk. Mahasiswa UPH berhasil membaca peluang dari sisa yang dianggap tak berguna, lalu mengemasnya dengan gaya kekinian—cookies dan keripik yang instagramable. Lebih dari itu, mereka menanamkan kesadaran bahwa inovasi pangan bisa jadi solusi nyata untuk stunting dan kemiskinan. Program LESTARI membuktikan bahwa peran kampus tak melulu di menara gading, tapi bisa turun ke lapangan dan mengubah hidup masyarakat.
"Kami jadi tahu bahwa lele bisa dikembangkan menjadi berbagai produk olahan. Rasanya juga enak, renyah, dan mantap," ujar Selamet Riyadi, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Tigaraksa, yang mengapresiasi pendampingan ini.
Dengan dukungan penuh dari UPH dan kolaborasi lintas jurusan, LESTARI menjadi contoh nyata bagaimana zero waste bukan sekadar jargon, melainkan strategi bisnis yang menguntungkan sekaligus ramah lingkungan. Semoga program serupa menjamur di daerah lain, karena potensi limbah pangan di Indonesia masih sangat besar untuk digarap.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apakah cookies tulang lele aman dikonsumsi anak-anak?
Ya, proses pengolahan yang higienis dan pengeringan dengan suhu terkontrol memastikan keamanan. Kandungan kalsiumnya tinggi, cocok untuk tumbuh kembang anak.
2. Bagaimana cara membuat keripik kulit lele di rumah?
Kulit lele dibersihkan, direndam jeruk nipis dan garam, dikeringkan di bawah sinar matahari atau dengan dehydrator, lalu digoreng hingga renyah. Praktis dan hasilnya gurih!
3. Apa manfaat ekonomi dari program LESTARI bagi warga?
Selain menambah variasi produk, omzet warga meningkat drastis dari Rp900 ribu menjadi Rp3,4 juta per minggu, membuka lapangan kerja baru, dan mengurangi limbah.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Bioskop Trans TV Perkenalan Civil War (2024) di Layar Kaca, Hadirkan Rangkaian Film Aksi dan Horor 2-8 November 2026

Angga Dwimas Sasongko Proyeksikan Krisis Industri Film: Produksi Melonjak, Penonton Anjlok

Lolox Ungkap Kesedihan Kehilangan Ayah di Gala Premiere Film GAK ADA MATINYA
