Poros Solo Fiktif? PSI Bantah Isu Kuat Jelang Pilpres 2029, Sebut Asumsi Liar

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Poros Solo Fiktif? PSI Bantah Isu Kuat Jelang Pilpres 2029, Sebut Asumsi Liar
BAGIKAN:

Jakarta – Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bidang Politik, Bestari Barus, dengan tegas membantah keberadaan 'Poros Solo' yang disebut-sebut sebagai kekuatan politik utama menghadapi Pilpres 2029. Bestari menyatakan pihaknya tidak mengenal istilah tersebut dan menganggapnya sebagai asumsi liar, di tengah fokus partai menyelesaikan verifikasi faktual di KPU.

Pernyataan ini menepis spekulasi yang sebelumnya dilontarkan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, yang menyebut Poros Solo, Cikeas, dan Teuku Umar sebagai poros yang telah memasang kuda-kuda menuju kontestasi lima tahun mendatang. Bestari bersikukuh bahwa meskipun putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, kini menjabat sebagai Ketua Umum PSI, hal itu tak lantas mengonfirmasi adanya poros politik di Surakarta.

Bantahan Keras di Tengah Verifikasi KPU

"Kami tidak tahu dan tidak mengenal apa itu poros Solo," ujar Bestari kepada wartawan, Selasa (7/9). Ia menegaskan bahwa prioritas utama PSI saat ini adalah proses administrasi pemilu, bukan bergulat dengan wacana yang dinilai tak berdasar. "Kami enggak kenal poros Solo. Asumsi liar aja itu mungkin," tambahnya, sembari mengindikasikan bahwa isu tersebut sengaja digulirkan untuk mengalihkan perhatian publik dari kerja nyata partai.

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai pernyataan Bestari mencerminkan upaya PSI untuk menjaga jarak dari narasi politik dinasti yang kerap menempel pada PSI. Namun, gerakan cepat Doli yang menyoroti pidato AHY dan video viral Projo bersama Jokowi justru menunjukkan bahwa poros-poros ini sudah menjadi konsumsi elite partai. Apakah ini sekadar pengalihan isu atau pertanda awal pergerakan politik yang lebih masif? Yang jelas, denyut kontestasi 2029 mulai terasa, dan setiap pernyataan akan dibaca sebagai kode.

Sinyal dari Cikeas dan Teuku Umar

Doli sebelumnya menyebut Poros Cikeas—yang diasosiasikan dengan Partai Demokrat—telah memberikan sinyal kuat melalui pidato Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada peringatan HUT ke-25 Demokrat, Sabtu (5/9). Dalam pidatonya, AHY meminta seluruh kader di eksekutif, legislatif, dan kepala daerah untuk peka terhadap realitas rakyat—kalimat yang dinilai Doli sebagai gestur politik serius.

Tak hanya itu, Doli juga merujuk pada pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang duduk bersebelahan dengan Jokowi dalam video viral. Budi Arie dengan terang-terangan menyatakan kesiapan poros (Solo) menghadapi pilpres, menurut Doli. "Bila beberapa waktu lalu, Budi Arie sudah terang benderang, sekarang kita menyaksikan satu lagi poros (Cikeas) ikut memberikan sinyal yang kuat," kata Doli.

Dari perspektif analisis politik, dua poros yang disebut—Solo dan Cikeas—memang memiliki magnet kuat: kedekatan dengan kekuasaan saat ini dan jaringan kader yang mapan. Namun, bantahan Bestari justru membuka ruang tanya: mengapa poros yang sama tidak diakui oleh salah satu aktor yang berada di dalamnya? Apakah ada perbedaan strategi di internal koalisi pendukung Jokowi, atau justru ini bagian dari drama pemanasan yang sengaja dikaburkan?

FAQ Terkait Berita Ini

Apa itu Poros Solo yang disebut-sebut dalam Pilpres 2029?
Poros Solo adalah istilah yang dimunculkan oleh Wakil Ketua Umum Golkar, Ahmad Doli Kurnia, untuk merujuk pada kekuatan politik yang berpusat di Surakarta, dikaitkan dengan Presiden Jokowi dan putranya Kaesang Pangarep yang kini memimpin PSI. Namun, PSI membantah keberadaan poros tersebut dan menyebutnya asumsi liar.

Mengapa PSI menolak isu Poros Solo?
PSI menilai isu tersebut tidak berdasar dan mengganggu konsentrasi partai dalam menghadapi verifikasi faktual di KPU. Selain itu, mereka ingin menghindari narasi politik dinasti yang dapat memicu persepsi negatif di publik.

Bagaimana respon partai lain terhadap poros-poros politik ini?
Partai Demokrat melalui AHY memberikan sinyal via pidato kebangsaan, sementara Golkar justru mencuatkan isu ini ke publik. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari poros Teuku Umar atau aktor lain, sehingga wacana ini masih berupa spekulasi tingkat elite.

Meow! Tanya Nesi!
😸