Kebakaran TPA Galuga Berhasil Dijinakkan, tapi Kekacauan Sampah Bogor Terus Membara

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kebakaran TPA Galuga Berhasil Dijinakkan, tapi Kekacauan Sampah Bogor Terus Membara
BAGIKAN:

Bogor – Kobaran api yang melahap puluhan hektar tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, mulai dapat dikuasai petugas gabungan pada Selasa (8/9) dini hari. Namun, kepulan asap tebal masih menyelimuti area pembuangan, menyisakan pertanyaan kritis tentang darurat pengelolaan sampah yang tak kunjung usai.

Api pertama kali terdeteksi pada Senin (7/9) sekitar pukul 16.00 WIB, lalu membesar secara signifikan pada tengah malam dan merambat ke tumpukan sampah kering. Bupati Bogor Rudy Susmanto menyatakan kondisi mulai terkendali pukul 03.30 WIB, setelah puluhan unit mobil pemadam dan alat berat dikerahkan. Tidak ada korban jiwa, tetapi dampak asap sudah dirasakan warga sekitar hingga radius 2 kilometer.

Kegagalan Sistemik di Balik Tumpukan Sampah

Insiden kebakaran di TPA Galuga bukanlah pertama kali. Pada 2023, peristiwa serupa terjadi dan memakan waktu lima hari untuk dipadamkan. Fenomena ini menjadi cermin kelambanan pemerintah daerah dalam menerapkan teknologi pengolahan sampah modern. Metode open dumping yang masih digunakan di Galuga menjadikan tumpukan sampah sebagai 'bom waktu'—terutama di musim kemarau, gas metana mudah memicu api.

Bupati Rudy berjanji melakukan evaluasi total, namun janji serupa telah diucapkan pasca kebakaran sebelumnya. Sementara itu, kapasitas TPA yang sudah melampaui batas (overload) mencapai 150% dari desain awal memperparah risiko. Aktivis lingkungan menilai bahwa penanganan darurat semata tidak cukup; diperlukan peta jalan jelas untuk mengubah Galuga dari zona bencana menjadi fasilitas pengelolaan sampah berkelanjutan.

Asap dan Dampak Kesehatan yang Diabaikan

Kepulan asap yang masih terlihat hingga Selasa siang mengandung partikel berbahaya seperti dioksin dan karbon monoksida. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah membagikan masker, tetapi sosialisasi evakuasi mandiri dinilai lambat. Warga Desa Galuga mengeluhkan sesak napas dan iritasi mata, sementara petugas pemadam kewalahan karena titik api muncul di lapisan dalam tumpukan sampah—memerlukan pembongkaran manual.

Di tengah situasi ini, kontroversi soal anggaran pengelolaan sampah menguat. Anggaran lingkungan tahun 2025 hanya naik 3% meskipun volume sampah harian mencapai 900 ton. Ironis, ketika kebakaran justru menambah beban biaya operasional pemadaman dan rehabilitasi lahan.

Kritik: dari Darurat Menjadi Rutinitas

Sebagai jurnalis investigasi, saya mencatat pola berulang: kebakaran TPA Galuga selalu dimulai dengan 'api kecil' yang kemudian membesar karena kurangnya sistem deteksi dini dan respons lambat. Bupati dan jajarannya seharusnya tidak hanya bermegah 'api terkendali', tetapi menjawab pertanyaan publik: kapan Galuga berhenti menjadi sumber bencana? Tanpa komitmen membangun insinerasi dan daur ulang yang memadai, warga Bogor akan terus menjadi korban kebijakan yang reaktif, bukan preventif.

Kebakaran ini seharusnya menjadi alarm bagi seluruh kabupaten/kota di Indonesia yang masih mengandalkan TPA konvensional. Sudah saatnya pemerintah pusat dan daerah menarik pelajaran dari Galuga: pengelolaan sampah adalah urusan darurat kemanusiaan dan lingkungan, bukan sekadar ceremonial pemadaman.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apa penyebab utama kebakaran TPA Galuga?
Penyebab pasti masih dalam penyelidikan, namun faktor cuaca panas dan gas metana dari tumpukan sampah organik menjadi pemicu paling umum. Sistem open dumping mempercepat proses pembakaran spontan.

2. Apakah kebakaran ini berdampak pada kualitas udara di Bogor?
Ya. Tim pemantau lingkungan mencatat penurunan indeks kualitas udara di beberapa titik, terutama konsentrasi PM2,5 meningkat. Warga di sekitar TPA disarankan menggunakan masker dan membatasi aktivitas luar ruang.

3. Langkah apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk mencegah kebakaran serupa?
Pemerintah Kabupaten Bogor berencana memperbaiki sistem pengelolaan dengan menambah area pemadaman, tetapi belum ada rencana kongkret untuk menghentikan praktik open dumping. Aktivis mendesak percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy).

Meow! Tanya Nesi!
😸