Krisis Karhutla Ijen: Helikopter Water Bombing Dipindah dari Semeru, Api 20 Hektar Masih Mengintai
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

BANYUWANGI, (BERITAHARIINI) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Ijen yang telah melalap 20 hektare areal konservasi memaksa pemerintah memindahkan helikopter water bombing dari lokasi bencana Gunung Semeru. Pemindahan ini dilakukan di tengah kondisi medan ekstrem berupa tebing curam dan angin kencang yang justru menghambat operasi pemadaman, baik dari udara maupun darat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengonfirmasi pergeseran unit helikopter tersebut setelah operasi di Semeru dinyatakan selesai. Pengiriman helikopter ke Ijen, menurut Gatot, berdasarkan surat permohonan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan surat tanggap darurat Bupati Banyuwangi. Unit tersebut mulai beroperasi pada Minggu (6/9) melalui jalur Bondowoso, dengan dua kali sortie masing-masing membawa satu ton air.
Namun, pada Senin (7/9) hari ini, aktivitas water bombing terpaksa dihentikan sementara karena helikopter menjalani perawatan rutin, dan dijadwalkan kembali beroperasi pada Selasa (8/9). 'Khusus hari Senin seperti biasanya, helikopter mendapatkan perawatan rutin sehingga pada hari Senin ini tidak dilakukan water bombing. Water bombing akan dilakukan kembali pada hari Selasa,' ujar Gatot.
Operasi Terhambat Medan dan Cuaca, Pemetaan Ulang Belum Mungkin
Fokus penanganan saat ini terpusat di dua titik rawan: Gunung Merapi Ungup-ungup, Taman Sari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, dan Dusun Curah Macan, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso. Gatot mengakui bahwa medan yang berupa tebing terjal serta perubahan cuaca mendadak dengan hembusan angin kencang menjadi kendala utama bagi tim darat dan penerbangan water bombing. 'Ini juga yang mempengaruhi kesulitan tim darat untuk melakukan pemadaman serta terganggunya operasional helikopter pada saat water bombing, karena cuacanya sering berubah dan anginnya kencang,' jelasnya.
Akibat kondisi tersebut, hingga berita ini diturunkan, data luas area terdampak masih bertahan di angka 20 hektare. Pemetaan ulang belum dapat dilakukan, sehingga potensi perluasan kebakaran tidak terpantau secara akurat. 'Hingga hari ini data masih tetap, daerah yang mengalami dampak kebakaran sebanyak 20 hektar. Ini belum bisa berkembang datanya karena memang belum dilakukan pemetaan kembali,' kata Gatot.
Analisis: Keterlambatan Respons dan Celah Koordinasi
Sebagai jurnalis investigasi yang telah menyusuri berbagai bencana di Indonesia, saya menilai pergeseran helikopter dari Semeru ke Ijen – meskipun logis – justru menyiratkan keterbatasan armada dan kesiapsiagaan yang masih reaktif. Alih-alih memiliki unit siaga permanen di kawasan rawan karhutla, pemerintah daerah kembali mengandalkan operasi pindah-pindah yang rentan terhadap jeda operasional, seperti jadwal perawatan rutin yang memakan waktu sehari penuh di tengah kebakaran aktif.
Lagi pula, 20 hektare bukanlah angka kecil, apalagi di kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan merupakan ikon pariwisata nasional. Keterlambatan pemetaan ulang menunjukkan lemahnya sistem monitoring berbasis teknologi, seperti drone atau citra satelit, yang seharusnya dapat terus memperbarui data meski medan sulit dijangkau. Kondisi cuaca ekstrem memang faktor alam, namun kesiapan logistik dan antisipasi pola angin musiman seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk menyusun strategi pemadaman yang lebih adaptif.
Jika koordinasi antara BPBD, BKSDA, dan pemerintah kabupaten masih mengandalkan surat menyurat untuk merespons darurat, maka kita patut mempertanyakan efektivitas sistem peringatan dini dan alokasi anggaran penanganan bencana. Sudah saatnya pendekatan reaktif diganti dengan peta risiko dinamis dan kesiagaan pra-musim kemarau, agar pergeseran helikopter bukan menjadi solusi dadakan, melainkan bagian dari rencana kontinjensi yang matang.
Masyarakat sekitar dan pegiat lingkungan tentu berharap water bombing besok dapat berjalan optimal. Namun, tanpa perbaikan sistemik, api bukan satu-satunya yang membakar – kepercayaan publik pun ikut terkikis di tengah tumpang tindih tanggung jawab dan minimnya transparansi data lapangan.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa penyebab utama kebakaran di Gunung Ijen?
Penyebab pasti masih dalam penyelidikan, namun kebakaran diduga dipicu oleh musim kemarau panjang dan kelalaian aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan. BPBD belum merilis hasil investigasi resmi.
Mengapa water bombing dihentikan sementara pada hari Senin?
Helikopter harus menjalani perawatan rutin berkala, yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Operasi akan dilanjutkan Selasa, namun jeda sehari ini dikritik karena kebakaran masih aktif dan luas area belum diperbarui.
Apakah 20 hektare merupakan angka akhir?
Belum. Pemetaan ulang belum dilakukan akibat medan sulit dan cuaca buruk, sehingga kemungkinan luas area terdampak bertambah masih terbuka lebar.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ditlantas Polda Metro Buka Dua Gerai SIM Keliling di Jakarta pada Minggu

Polda Metro Siagakan Lima Kantong Parkir Besar untuk Jaga Ketertiban Apel Akbar Palestina di Monas

Kapolda Metro Tekankan Penataan Lingkungan sebagai Kunci Akar Permasalahan Narkoba di Kampung Muara Bahari
