Kebakaran Blok B TPA Putri Cempo Masih Membara, 105 Jiwa Mengungsi—Target 7 Hari Diragukan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 105 warga Dusun Sulurejo masih bertahan di pengungsian GOR UTP Desa Plesungan, Karanganyar, hingga Selasa (8/9), akibat dampak asap dari kebakaran Blok B TPA Putri Cempo Solo yang belum sepenuhnya padam. Kendati area terbakar secara umum berkurang dan Blok C serta D dinyatakan aman, titik api di sekitar jalur SUTET masih menyulitkan pemadaman, memaksa ratusan warga menjauh dari rumah mereka selama hampir sepekan terakhir.
Api di Blok B Belum Padam, Ancaman SUTET Jadi Prioritas
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa operasi pemadaman kini difokuskan pada Blok B, khususnya di area dekat Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) yang masih menyisakan titik api. Tim gabungan dari pemadam kebakaran Solo Raya, Semarang, dan Cilacap, serta personel TNI/Polri dan relawan, terus berupaya menyemprotkan air dan menerapkan metode injeksi untuk menjangkau sumber api di tumpukan sampah yang dalam.
Menurut rencana, pemadaman Blok B ditargetkan rampung dalam tujuh hari ke depan. Namun, target ini patut dipertanyakan mengingat kendala teknis yang diakui sendiri oleh BNPB: "sejumlah selang pemadam mengalami kerusakan dan kebocoran". Dalam kondisi darurat seperti ini, keterbatasan peralatan dapat menjadi penghambat serius, apalagi jika cuaca tidak mendukung dan pasokan air terbatas. BNPB memang mengklaim telah mengoptimalkan hidran di fasilitas PLTSa dan menambah tandon, tetapi apakah itu cukup untuk operasi masif selama berhari-hari? Saya menilai, tanpa perbaikan infrastruktur pemadaman yang cepat, target tujuh hari hanya angan-angan.
Dampak Kesehatan dan Pengungsian: Pemenuhan Kebutuhan Dasar Jadi Sorotan
Ratusan warga yang mengungsi di GOR UTP sebagian besar adalah penduduk Dusun Sulurejo RT 05–10, yang setiap hari terpapar asap pekat. BNPB menyatakan penanganan dampak asap dilakukan paralel dengan pemadaman, namun kita perlu mengkritisi kesiapan logistik dan layanan kesehatan di pengungsian. Apakah masker, alat pernapasan, dan tenaga medis tersedia cukup? Sebab, asap kebakaran sampah mengandung zat berbahaya seperti dioksin dan partikel halus yang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut, terutama pada anak-anak dan lansia.
Pemerintah daerah dan BNPB seharusnya tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga melakukan pemantauan kualitas udara secara real-time dan menyediakan fasilitas kesehatan darurat di lokasi pengungsian. Hingga kini, belum ada laporan rinci mengenai status kesehatan para pengungsi—ini celah informasi yang harus segera diisi.
Operasi Modifikasi Cuaca: Solusi atau Gimmick?
BNPB bersama BMKG mulai mempersiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pemadaman, dengan syarat ketersediaan awan yang memenuhi kriteria. OMC memang terbukti efektif dalam beberapa kasus kebakaran hutan, namun untuk kebakaran sampah di TPA yang bersifat bawah permukaan, hujan buatan mungkin tidak serta-merta memadamkan api di kedalaman. Selain itu, ketergantungan pada kondisi awan membuat opsi ini sangat spekulatif. Apakah ini sekadar langkah simbolis untuk menunjukkan keseriusan? Saya khawatir, tanpa strategi jangka panjang seperti pengelolaan sampah yang lebih baik dan penghentian praktik pembakaran terbuka, insiden serupa akan terus berulang.
Kebakaran Hebat Sejak 2 September: Pengingat akan Tata Kelola Sampah yang Buruk
Kebakaran bermula pada Rabu (2/9) dan dengan cepat membesar di gunungan sampah TPA terbesar di Soloraya itu. Ini bukan pertama kalinya TPA Putri Cempo terbakar—fenomena ini telah menjadi langganan setiap musim kemarau, menandakan lemahnya sistem pengelolaan sampah dan kurangnya investasi dalam teknologi ramah lingkungan. Pemerintah Kota Solo dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah perlu duduk bersama untuk merumuskan solusi struktural, seperti pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi yang lebih modern, atau pengurangan sampah plastik secara drastis. Jika tidak, kita hanya akan sibuk memadamkan api, sementara akar masalah tetap membara.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Berapa jumlah warga yang mengungsi akibat kebakaran TPA Putri Cempo?
Sebanyak 105 jiwa dari Dusun Sulurejo, Desa Plesungan, Kabupaten Karanganyar, masih berada di pengungsian GOR UTP hingga Selasa (8/9).
2. Apa penyebab utama kebakaran di TPA Putri Cempo?
Penyebab pasti masih dalam penyelidikan, namun kebakaran sering dipicu oleh gas metan dari tumpukan sampah organik yang mengalami pembusukan, ditambah cuaca panas dan kemungkinan adanya percikan api dari aktivitas sekitar.
3. Bagaimana upaya pemadaman yang dilakukan dan kapan selesai?
Tim gabungan memprioritaskan Blok B di dekat SUTET menggunakan penyemprotan air dan injeksi. Target pemadaman total dalam 7 hari ke depan, namun terkendala selang bocor dan ketersediaan air, sehingga pelaksanaan disesuaikan dengan kondisi lapangan.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ancol Transformasi Masjid Apung An-Nur Jadi Pusat Ibadah dan Silaturahmi Sosial

Cegah Balap Liar, Pemkot Jaksel Tutup Lima Akses JLNT Antasari Saat Akhir Pekan

Pengendara Motor Tewas Tertabrak Minibus di Kembangan, Jenazah Dievakuasi ke RSUD Tangerang
