Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Houthi Gempur Saudi dengan Rudal dan Drone, 70 Luka-Luka & Instalasi Minyak Terbakar – Harga Minyak Tembus US$ 99

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Houthi Gempur Saudi dengan Rudal dan Drone, 70 Luka-Luka & Instalasi Minyak Terbakar – Harga Minyak Tembus US$ 99
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Serangan yang diklaim Houthi sebagai "operasi luas" ini menyasar pangkalan udara Khamis Mushait, fasilitas Saudi Aramco di dekat Abha, serta wilayah Najran dan Jazan—pelabuhan strategis di Laut Merah.
  • Otoritas Saudi mengonfirmasi kobaran api di berbagai titik dan menyebutkan bahwa perempuan serta anak-anak termasuk di antara 73 korban luka.
  • Perang Proksi yang Kian Memanas dan Dampaknya pada Pasokan Energi Konflik yang sempat mereda di Agustus kini kembali memuncak seiring saling serang antara Iran dan AS di kawasan Teluk.

Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan besar-besaran terhadap empat kota di selatan Arab Saudi pada Selasa (8/9/2026), melukai lebih dari 70 orang dan membakar sejumlah instalasi minyak milik negara. Eskalasi ini terjadi di tengah perang terbuka antara AS-Israel melawan Iran sejak Februari lalu, dan langsung mendorong harga minyak global melonjak lebih dari 2% ke atas US$ 99 per barel—level tertinggi sejak Juli.

Serangan yang diklaim Houthi sebagai "operasi luas" ini menyasar pangkalan udara Khamis Mushait, fasilitas Saudi Aramco di dekat Abha, serta wilayah Najran dan Jazan—pelabuhan strategis di Laut Merah. Otoritas Saudi mengonfirmasi kobaran api di berbagai titik dan menyebutkan bahwa perempuan serta anak-anak termasuk di antara 73 korban luka. Juru Bicara Koalisi pimpinan Saudi, Kolonel Turki al-Malki, bersumpah akan mengambil "tindakan keras", sementara juru bicara Houthi, Yahya Saree, membalas dengan tuduhan bahwa Riyadh memperburuk keadaan melalui serangan udaranya ke Yaman.

Perang Proksi yang Kian Memanas dan Dampaknya pada Pasokan Energi

Konflik yang sempat mereda di Agustus kini kembali memuncak seiring saling serang antara Iran dan AS di kawasan Teluk. Washington tengah berupaya mengamankan jalur Selat Hormuz yang diblokade, sementara Teheran mengancam akan mengumumkan "zona eksklusi maritim" yang membentang dari perimeter blokade AS hingga ke Teluk Persia. Akhir pekan lalu, pasukan AS menembaki kapal tanker Iran sebagai balasan atas tembakan Iran ke kapal perang AS, dan Iran mengaku menggunakan rudal balistik baru yang lebih mumpuni.

Sebagai analis ekonomi makro, saya melihat bahwa eskalasi ini bukan sekadar konflik militer, tetapi juga perang ekonomi yang menyeret pasar minyak dunia ke jurang ketidakpastian. Dengan sekitar seperlima pengiriman minyak global dan gas alam cair melalui Selat Hormuz sebelum perang, blokade dan serangan terhadap instalasi minyak Saudi berpotensi menciptakan krisis pasokan akut yang jauh lebih parah daripada gejolak harga saat ini. Di AS, harga eceran solar sudah memecahkan rekor di atas US$ 5,90 per galon, yang mulai mengancam prospek politik Partai Republik menjelang pemilu.

Trump Berusaha Redam Pasar, tapi Ancaman Rudal Iran Tetap Nyata

Presiden AS Donald Trump mencoba menenangkan pasar lewat pernyataan di media sosial, meyakinkan bahwa harga minyak akan turun drastis jika AS "MEMENANGKAN perang dengan Iran"—bahkan diprediksi di bawah US$ 2 per galon. Namun, pernyataan itu bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan: meskipun gempuran AS telah melemahkan kekuatan konvensional dan ekonomi Iran, Teheran masih memiliki persenjataan rudal dan drone yang dapat mengancam kapal tanker serta pangkalan militer AS di seluruh kawasan. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, dengan tegas menyatakan bahwa "postur operasional terhadap kapal perang dan pangkalan AS telah dikalibrasi ulang secara fundamental".

Dari sudut pandang bisnis dan investasi, pasar kini harus bersiap menghadapi volatilitas yang berkelanjutan. Harga minyak di atas US$ 99 per barel mungkin baru awal, jika konflik melebar ke fasilitas produksi lain atau jalur pelayaran di Laut Merah terganggu. Investor dan pelaku industri energi perlu memantau setiap perkembangan geopolitik dengan cermat, sementara pemerintah Indonesia—sebagai negara pengimpor minyak—harus segera mengkaji ulang kebijakan subsidi energi dan strategi ketahanan pasokan nasional.

FAQ Terkait Berita Ini

  • Apa yang memicu serangan Houthi ke Arab Saudi? Serangan ini merupakan eskalasi dari perang proksi antara Iran dan AS-Israel yang dimulai Februari lalu. Houthi—yang didukung Iran—menargetkan infrastruktur militer dan minyak Saudi sebagai balasan atas serangan udara koalisi Saudi ke Yaman.
  • Bagaimana dampak langsung terhadap harga minyak dunia? Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2% ke atas US$ 99 per barel pada hari serangan, karena pasar khawatir akan gangguan pasokan dari kawasan Teluk, terutama jika Selat Hormuz—yang dilalui seperlima minyak global—terus diblokade.
  • Apakah konflik ini akan mempengaruhi Indonesia? Ya, Indonesia sebagai importir minyak akan terdampak oleh kenaikan harga energi, yang bisa menekan nilai tukar rupiah dan membebani APBN melalui subsidi BBM. Pemerintah perlu mengantisipasi dengan kebijakan fiskal dan energi alternatif.
Meow! Tanya Nesi!
😸