Gunung Lewotolok Kembali Erupsi, Bandara Wunopito NTT Ditutup - Bisnis Penerbangan dan Pariwisata Terancam
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

- Bandara Wunopito di Lewoleba, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi ditutup sementara mulai Selasa (8/9) pagi hingga Rabu (9/9) dini hari akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotolok .
- Penutupan ini tertuang dalam NOTAM C1134/26 yang diterbitkan AirNav Indonesia, menyusul erupsi yang terjadi pada pukul 06.35 WITA dengan kolom abu setinggi 800 meter di atas puncak yang bergerak ke arah barat.
- Keputusan penutupan diambil demi keselamatan penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat mengganggu mesin pesawat dan visibilitas.
Bandara Wunopito di Lewoleba, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi ditutup sementara mulai Selasa (8/9) pagi hingga Rabu (9/9) dini hari akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotolok. Penutupan ini tertuang dalam NOTAM C1134/26 yang diterbitkan AirNav Indonesia, menyusul erupsi yang terjadi pada pukul 06.35 WITA dengan kolom abu setinggi 800 meter di atas puncak yang bergerak ke arah barat.
Keputusan penutupan diambil demi keselamatan penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat mengganggu mesin pesawat dan visibilitas. AirNav Indonesia bersama pemangku kepentingan terus memantau perkembangan kondisi, dan pembaruan informasi akan disesuaikan dengan evaluasi keselamatan. "Sebaran abu menjadi perhatian serius dalam operasional penerbangan," ujar EVP Corporate Secretary AirNav, Hermana Soegijantoro.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata NTT
Penutupan Bandara Wunopito bukan sekadar gangguan operasional, tetapi juga pukulan bagi aksesibilitas ke NTT, terutama bagi sektor pariwisata dan distribusi logistik. Bandara ini merupakan pintu masuk utama ke wilayah Lembata dan sekitarnya, yang selama ini mengandalkan angkutan udara untuk mobilitas barang dan jasa. Dengan penutupan yang diperkirakan berlangsung hingga 24 jam, potensi kerugian ekonomi tidak bisa diabaikan.
Sebagai pengamat ekonomi makro, saya menilai bahwa kejadian ini mengingatkan kita pada kerentanan infrastruktur transportasi di kawasan rawan bencana. Pemerintah daerah dan pelaku usaha perlu memiliki rencana kontingensi, seperti optimalisasi jalur laut dan peningkatan sistem peringatan dini, agar rantai pasok tidak terputus setiap kali terjadi aktivitas vulkanik. AirNav dan BMKG patut diapresiasi atas respons cepat, namun koordinasi jangka panjang untuk mitigasi risiko harus menjadi prioritas.
Monitoring dan Koordinasi Berkelanjutan
AirNav memastikan bahwa pemantauan terhadap sebaran abu dan aktivitas Gunung Ili Lewotolok terus dilakukan secara intensif. Informasi aeronautika akan diperbarui secara berkala, dan koordinasi dengan maskapai serta otoritas bandara terus berjalan. Langkah ini sejalan dengan komitmen AirNav untuk mengutamakan keselamatan sebagai aspek utama dalam pelayanan navigasi penerbangan.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apa penyebab penutupan Bandara Wunopito?
Penutupan disebabkan oleh abu vulkanik dari erupsi Gunung Lewotolok yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan.
2. Berapa lama bandara ditutup?
Berdasarkan NOTAM, penutupan berlangsung dari 8 September 2026 pukul 07.01 WIB hingga estimasi 9 September 2026 pukul 06.00 WIB.
3. Apa dampak ekonomi dari penutupan ini?
Penutupan berdampak pada akses pariwisata dan distribusi logistik di NTT, yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi sektor usaha dan mobilitas masyarakat.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

KSPI Tekan Pemerintah: Naikkan Batas Bebas Pajak JHT ke Rp400 Juta, Ajukan Dasar Emas

LPS Ungkap 14 BPR dan BPRS Tumbang di 2026: Lemahnya Tata Kelola Jadi Biang Kerok Utama

Respons Emiten Affiliates Salim & Sinar Mas: Nyalakan Lampu Kuning Pasca Pemanggilan Bos Sawit oleh Singapura
