Bisakah Manusia Picu Erupsi Gunung? Pakar Sebut Ini Hoaks, Energi Magma Setara Ribuan Bom Nuklir
Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

- Pakar kebencanaan Daryono secara tegas membantah narasi yang beredar bahwa erupsi gunung api di Indonesia beberapa waktu lalu adalah hasil rekayasa teknologi atau senjata buatan manusia.
- Dalam keterangan tertulisnya, Daryono menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik murni proses alamiah dari dinamika internal Bumi, dengan energi yang tak tertandingi oleh kemampuan teknologi saat ini.
- “Tudingan bahwa erupsi gunung api disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian,” ujar Daryono.
Pakar kebencanaan Daryono secara tegas membantah narasi yang beredar bahwa erupsi gunung api di Indonesia beberapa waktu lalu adalah hasil rekayasa teknologi atau senjata buatan manusia. Dalam keterangan tertulisnya, Daryono menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik murni proses alamiah dari dinamika internal Bumi, dengan energi yang tak tertandingi oleh kemampuan teknologi saat ini.
“Tudingan bahwa erupsi gunung api disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian,” ujar Daryono. Energi yang menggerakkan magma berasal dari mantel Bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer, dengan tekanan di kantong magma mencapai ratusan megapascal. Suhu magma yang mencapai 1.200 derajat Celcius dan volume jutaan meter kubik membuat campur tangan manusia mustahil—bahkan ledakan nuklir sekalipun tidak cukup untuk memicu erupsi secara terkendali.
Mengapa Narasi Rekayasa Teknologi Muncul?
Di tengah maraknya disinformasi, beberapa pihak mengaitkan erupsi dengan gelombang elektromagnetik atau ledakan buatan. Namun, Daryono menegaskan bahwa lapisan batuan padat di kerak Bumi meredam sinyal elektromagnetik, sehingga tidak ada mekanisme fisik bagi teknologi rekayasa untuk menggerakkan magma jauh di bawah permukaan. Sebagai pengamat teknologi, saya melihat ini sebagai contoh klasik bagaimana ketidaktahuan sains bisa melahirkan konspirasi yang viral. Faktanya, gunung api di Indonesia justru terpantau secara ketat oleh alat-alat geofisika yang canggih, namun itu hanya untuk memprediksi, bukan mengendalikan.
Lokasi Indonesia di Cincin Api dan Siklus Alamiah
Indonesia berada di jalur Cincin Api atau Ring of Fire, pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina. Penunjaman lempeng samudra membawa air dan sedimen ke kedalaman, memicu pelelehan batuan dan suplai magma dalam rentang waktu panjang. Daryono menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas beberapa gunung dalam waktu berdekatan bisa terjadi ketika sistem magma masing-masing mencapai kondisi kritis, terutama setelah gempa besar yang mengubah tegangan kerak. Ini adalah siklus geologis yang berlangsung jutaan tahun—bukan efek tombol kendali otomatis.
Pemantauan Vulkanik: Bukan Rekayasa, Tapi Deteksi Dini
Yang menarik, aktivitas magma justru bisa dipantau melalui gempa vulkanik, tremor, deformasi gunung (dengan GPS dan tiltmeter), serta perubahan komposisi gas dan suhu. “Erupsi tidak pernah terjadi mendadak, melainkan diawali rekaman seismisitas berbulan-bulan hingga bertahun-tahun,” tegas Daryono. Ini menunjukkan bahwa alam memberi sinyal, dan teknologi kita hanya mampu membaca sinyal itu—bukan menciptakannya.
Dari sudut pandang teknologi, upaya untuk “merekayasa” erupsi sama absurdnya dengan mencoba menghentikan gerakan lempeng. Energi yang dilepaskan saat erupsi setara dengan ribuan bom Hiroshima, dan manusia tidak memiliki sumber daya untuk menandingi, apalagi mengarahkannya. Jadi, narasi konspirasi itu tidak hanya salah secara geologi, tapi juga meremehkan kekuatan alam.
FAQ Terkait Berita Ini
- Apakah ada teknologi yang bisa memicu erupsi gunung api? Tidak. Energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan magma sangat besar, ratusan megapascal, dan tidak ada teknologi berbasis gelombang atau ledakan yang mampu menembus kerak Bumi hingga kedalaman puluhan kilometer.
- Mengapa beberapa gunung meletus hampir bersamaan? Itu bisa terjadi karena sistem magma masing-masing gunung sudah dalam kondisi kritis, dan aktivitas tektonik regional seperti gempa besar dapat memicu penyesuaian tegangan kerak, tapi tetap merupakan proses alamiah, bukan rekayasa.
- Bagaimana cara memantau aktivitas gunung api? Melalui seismometer untuk gempa vulkanik, GPS dan tiltmeter untuk deformasi, serta sensor gas dan suhu. Semua alat ini membantu prediksi, bukan kendali.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Anthropic Rilis FlashProve: Bukti Kriptografi untuk Memastikan Identitas Model AI

Data Center AI Beralih ke Mesin Jet Bekas Demi Kecepatan Listrik
