21 Jam TPA Galuga Terbakar, Bupati Klaim Api Mulai Terkendali Namun Titik Panas Masih Mengancam
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kebakaran hebat yang melahap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, masih menyisakan kepulan asap hingga Selasa (8/9) siang, tepat 21 jam setelah si jago merah pertama kali menyala. Meski Bupati Bogor Rudy Susmanto menyatakan api mulai terkendali, fakta di lapangan menunjukkan petugas masih berjibaku memadamkan titik-titik panas yang tersembunyi di tumpukan sampah berhektar-hektar. Insiden yang diduga berawal dari lahan pertanian di sisi timur TPA ini memaksa pemerintah menutup sementara layanan pembuangan sampah, sementara warga sekitar mulai resah akan dampak asap dan potensi longsornya tumpukan sampah basah.
Kobaran Berjam-jam, Kendala Akses Jadi Pangkal Masalah
Kebakaran pertama kali dilaporkan terjadi pada Senin (7/9) pukul 16.00 WIB. Hingga Selasa dini hari, api masih membara di beberapa sudut. Bupati Bogor Rudy Susmanto dalam keterangan resminya, Selasa pagi, menyebutkan bahwa pada pukul 03.30 WIB kondisi api mulai menunjukkan tanda-tanda terkendali. “Hanya ada beberapa titik api yang harus segera kami tuntaskan hari ini,” ujar Rudy, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya. Namun, pernyataan optimistis itu berbenturan dengan laporan dari petugas di lapangan yang masih berjibaku melawan kepulan asap tebal dari kedalaman tumpukan sampah.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamat (Damkarmat) Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, mengakui kendala utama adalah akses. Titik api berada jauh dari jalan utama, memaksa petugas menyambung selang sepanjang 400 hingga 500 meter. Kondisi tanah yang labil dan tumpukan sampah yang terus bergerak membuat upaya pemadaman menjadi lebih rumit. “Kami fokus pada titik-titik yang masih mengeluarkan asap, karena itu indikasi adanya bara di dalam,” jelas Yudi.
Ratusan Personel dan Alat Canggih Dikerahkan, Namun Api di Bawah Tanah Sulit Dilumpuhkan
Sebanyak lebih dari 100 personel gabungan dari Damkarmat, TNI, Polri, dan BPBD dikerahkan. Berbagai metode pun dipakai, mulai dari water cannon Polri hingga water bombing menggunakan helikopter TNI Angkatan Udara. Namun, kebakaran di TPA bukan sekadar api di permukaan. Tumpukan sampah organik dan anorganik yang telah bertahun-tahun menimbun menciptakan lapisan yang dapat menyimpan panas hingga puluhan jam. Fenomena ini sering disebut sebagai underground fire yang membutuhkan pembongkaran dan pembasahan massif—bukan sekadar siraman dari udara.
Seorang petugas di lokasi yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, “Setelah disiram, permukaan memang terlihat padam, tetapi beberapa jam kemudian asap keluar lagi dari celah lain. Ini seperti memadamkan bara di dalam tungku.” Analisis ini menunjukkan bahwa pendekatan konvensional mungkin tidak cukup. Pemerintah daerah perlu mempertimbangkan strategi cut and cover atau injeksi air bertekanan ke dalam zona terbakar, yang selama ini jarang diaplikasikan di TPA-tpa di Indonesia.
Dampak dan Penutupan Layanan: Antara Darurat dan Kelalaian
Imbas dari kebakaran ini, Pemerintah Kabupaten Bogor mengambil keputusan menutup sementara pelayanan TPA Galuga mulai Selasa (8/9) untuk mengoptimalkan proses pemadaman. Kebijakan ini tentu berimbas pada puluhan truk sampah dari berbagai wilayah yang biasanya membuang limbah ke TPA terbesar di Bogor itu. Sampai berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa, dan kerugian materiil masih dalam penyelidikan. Namun, yang patut dipertanyakan adalah kesiapsiagaan dan evaluasi rutin terhadap rawan kebakaran di TPA Galuga, mengingat musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang.
Sebagai jurnalis investigasi yang telah meliput puluhan bencana lingkungan, saya menilai kejadian ini bukan sekadar kecelakaan. TPA Galuga sudah beberapa kali mengalami kebakaran dalam dekade terakhir. Kurangnya sistem pemantauan gas metana, tidak adanya zona penyangga yang cukup antara lahan pertanian dan area pembuangan, serta tumpukan sampah yang melebihi kapasitas menjadi bubuk mesiu yang siap meledak. Bupati Rudy dan jajarannya harus menjadikan insiden ini sebagai alarm untuk merancang ulang tata kelola sampah, termasuk mempercepat program pengolahan sampah terpadu dan menghentikan praktik open dumping yang sudah usang.
Sementara itu, warga di sekitar TPA mengeluhkan kabut asap yang mulai memasuki permukiman. Meskipun pemerintah menyatakan kualitas udara masih dalam batas aman, tidak ada salahnya masyarakat menggunakan masker dan menghindari aktivitas luar ruangan jika asap mulai pekat. Kita berharap pemadaman bisa tuntas hari ini, tetapi yang lebih penting adalah komitmen jangka panjang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apakah kebakaran TPA Galuga sudah sepenuhnya padam?
Hingga artikel ini ditulis, api di permukaan sudah terkendali, tetapi masih ada titik-titik panas di bawah tumpukan sampah yang terus dipadamkan oleh petugas.
2. Apa penyebab utama kebakaran TPA Galuga?
Bupati Bogor menduga api berasal dari lahan pertanian di samping TPA, namun penyebab pasti masih dalam penyelidikan. Faktor cuaca kemarau dan akumulasi gas metana juga menjadi pemicu potensial.
3. Bagaimana dampak penutupan TPA bagi warga Bogor?
Penutupan sementara mengganggu arus pembuangan sampah. Pemerintah akan mengarahkan truk sampah ke tempat penampungan sementara atau TPA lain, namun kapasitasnya terbatas.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Siap-Siap, Warga Jawa dan Sumatra: BMKG Prediksi Hujan Ringan Landa Sebagian Besar Wilayah Hari Ini

Penambahan Daratan 32,8 Hektare di Sekitar Anak Krakatau Diverifikasi, Status 'Pulau Baru' Masih Menunggu Konfirmasi Lapangan

Fenomena Gerah di Indonesia: BMKG Jelaskan Penyebab Udara Lembap Meski Hujan Belum Rutin
