Prabowo Akui Indonesia Terjebak 'Takdir' Ring of Fire, Perintahkan Anggaran Mitigasi Membengkak
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Presiden Prabowo Subianto untuk pertama kalinya secara terbuka menyebut rentetan bencana alam yang melanda Indonesia—mulai dari gempa magnitudo 7,7 di Flores hingga erupsi lima gunung api dalam waktu berdekatan—sebagai "takdir" yang tak terelakkan bagi negeri yang berada di lingkaran api Pasifik. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat terbatas penanganan bencana secara daring, Senin (7/9), dan langsung diikuti instruksi strategis: menambah anggaran mitigasi secara signifikan serta memastikan seluruh jajaran bergerak cepat menghadapi ancaman yang terus mengintai.
Di tengah kepanikan publik pasca gempa NTT dan erupsi Gunung Anak Krakatau, Prabowo menegaskan bahwa status geografis Indonesia di the ring of fire bukanlah kutukan, melainkan kondisi faktual yang harus dihadapi dengan kesiapan total. "Ini adalah takdir kita, negara yang berada di lingkaran api, jadi ini membawa kita untuk siap menghadapi keadaan seperti ini setiap saat," ujarnya dalam sambutan yang juga dihadiri para menteri koordinator bidang kemaritiman dan investasi, serta kepala BNPB.
Klaim Respons Cepat vs Realitas Lapangan
Kepala negara mengklaim bahwa pemerintahannya saat ini lebih responsif dibanding masa-masa sebelumnya. Ia menyebut penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berjalan "masif dan cukup cepat". Namun, pernyataan ini patut diuji dengan data lapangan: hingga Selasa pagi, ribuan warga di pesisir Selat Sunda masih mengungsi tanpa akses listrik dan air bersih, sementara koordinasi antarinstansi di Flores dilaporkan masih tumpang tindih.
Sebagai jurnalis yang telah mengikuti siklus bencana selama dua dekade, saya menilai bahwa perbaikan kecepatan respons memang terjadi, tetapi yang lebih krusial adalah mitigasi struktural dan pembangunan infrastruktur tahan gempa. Bukan sekadar anggaran besar, tetapi bagaimana anggaran itu dialokasikan ke sistem peringatan dini berbasis komunitas, perkuatan bangunan publik, dan edukasi kebencanaan yang berkelanjutan. Prabowo tampaknya sadar akan hal ini, namun eksekusi di tingkat daerah sering menjadi titik lemah.
Anggaran Mitigasi Naik Signifikan, Tapi Ke Mana?
Prabowo memerintahkan penambahan alokasi anggaran bencana secara besar-besaran, tanpa menyebutkan angka pasti. Ia menyebut momen ini sebagai "pembelajaran" bagi kabinetnya. Pertanyaan yang menggantung: apakah tambahan dana itu akan digunakan untuk pembelian alat berat, perbaikan jalur evakuasi, atau justru membengkak di pos birokrasi? Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa dana darurat sering terserap untuk kegiatan seremonial dan studi kelayakan yang tak kunjung usai.
Di sisi lain, Badan Geologi mencatat bahwa aktivitas vulkanik di Indonesia sedang meningkat, dengan setidaknya lima gunung api berada pada status waspada atau siaga. Erupsi beruntun ini bukan kejadian langka, tetapi intensitasnya yang terjadi hampir bersamaan memaksa pemerintah untuk menyusun peta risiko yang lebih dinamis. Prabowo tampaknya memilih pendekatan pragmatis: siapkan dana dan perintah cepat. Namun, sebagai pemimpin, ia juga perlu memastikan bahwa jajarannya tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam memetakan zona bahaya dan relokasi pemukiman.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apa saja lima gunung api yang erupsi bersamaan?
Meski Presiden tidak menyebutkan secara rinci, berdasarkan laporan PVMBG, yang masuk dalam daftar erupsi terbaru antara lain Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda), Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung Lewotobi, dan Gunung Ibu. Status masing-masing bervariasi, namun semuanya tercatat mengalami peningkatan aktivitas dalam pekan terakhir.
2. Berapa besar tambahan anggaran mitigasi yang diminta Prabowo?
Presiden belum membeberkan angka riil, namun ia menegaskan bahwa alokasi akan "ditambah secara signifikan". Dalam rapat terbatas, Menteri Keuangan disebut diminta untuk menyiapkan skenario pembiayaan dari dana cadangan dan realokasi belanja kementerian lain.
3. Apakah gempa Flores magnitudo 7,7 memicu tsunami?
BMKG mengonfirmasi bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami, namun peringatan dini telah dicabut setelah beberapa jam. Meski demikian, dampak kerusakan bangunan di pesisir Flores dan NTT masih dalam pendataan, dengan korban jiwa sementara mencapai puluhan orang.


