Keuntungan Whoosh Rp800 Miliar Setahun Dianggap Cukup Bayar Utang, Menteri Keuangan Optimistis
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa pengelolaan baru Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) di bawah Kementerian Keuangan mampu membayar seluruh kewajiban utang proyek, dengan keuntungan bersih sekitar Rp800 miliar per tahun dari badan layanan umum (BLU) yang tengah disiapkan. Pernyataan ini disampaikan di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (7/9/2026), usai pengalihan kepemilikan dari Danantara ke Kemenkeu yang efektif 15 September 2026. Purbaya menegaskan proses pengalihan tidak membebani APBN, karena tidak ada pembayaran kepada Danantara, melainkan hanya pergeseran tanggungan utang ke SMV (special mission vehicle) di bawah Kemenkeu.
Dalam keterangannya, Purbaya merinci bahwa satu perusahaan SMV saja saat ini menghasilkan keuntungan antara Rp3 triliun hingga Rp4 triliun per tahun. "Ditambah dengan operasionalnya sendiri, mungkin dapat Rp800 miliar keuntungannya," ujarnya. Angka ini, menurutnya, sudah cukup untuk menutup cicilan utang proyek Whoosh yang selama ini menjadi beban neraca PT KAI. Ia juga menambahkan bahwa perusahaan BUMN di bawah Kemenkeu akan membayar kewajiban tersebut secara periodik, sehingga tidak ada tambahan cost langsung bagi negara.
Polemik Utang Whoosh dan Skema Pengalihan
Utang proyek kereta cepat yang menelan biaya sekitar Rp114 triliun ini telah menjadi sorotan karena membebani keuangan PT Kereta Api Indonesia sebagai pemimpin konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). Konsorsium yang terdiri dari WIKA, KAI, Jasamarga, dan PTPN III itu memegang 60% saham PT KCIC, pengelola Whoosh, sementara 40% sisanya dikuasai konsorsium China. Kemenkeu mengambil alih 60% saham PSBI tanpa mengubah struktur kepemilikan asing dan tanpa membubarkan konsorsium. Langkah ini diharapkan memberikan solusi jangka panjang atas utang yang telah menjadi polemik, sekaligus memanfaatkan potensi operasional Whoosh yang mulai menunjukkan peningkatan penumpang.
Sebagai pengamat ekonomi makro, saya menilai optimism Purbaya beralasan, namun perlu diuji dengan proyeksi arus kas aktual dan skenario suku bunga. Pendapatan operasional Whoosh memang tumbuh, namun beban pemeliharaan dan depresiasi aset besar kerap menjadi jangkar. Jika SMV mampu mengoptimalkan efisiensi dan pendapatan non-tiket, Rp800 miliar per tahun mungkin cukup untuk menutup kewajiban pokok dan bungaβasalkan tidak ada gejolak nilai tukar yang signifikan. Namun, transparansi mengenai struktur utang dan jadwal pembayaran tetap krusial untuk menghindari krisis serupa di masa depan.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apakah pengalihan Whoosh ke Kemenkeu memerlukan biaya dari APBN?
Menurut Menteri Keuangan, tidak ada pembayaran khusus ke Danantara. Pengalihan hanya berupa pergeseran tanggungan utang ke SMV Kemenkeu, sehingga tidak membebani APBN secara langsung.
2. Berapa keuntungan bersih yang dihasilkan Whoosh saat ini?
Pemerintah menyebutkan keuntungan bersih dari operasional dan SMV sekitar Rp800 miliar per tahun, di luar keuntungan perusahaan lain di bawah Kemenkeu yang bisa mencapai Rp3β4 triliun.
3. Bagaimana dampak pengalihan ini terhadap PT KAI dan BUMN lain?
PT KAI tidak lagi menanggung beban utang Whoosh secara langsung, karena kepemilikan dialihkan ke Kemenkeu. BUMN lain yang tergabung dalam konsorsium tetap memiliki saham, namun manajemen utang beralih ke SMV.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Harga Emas Antam Naik Rp5.000, Tembus Rp2,531 Juta per Gram

Iran Waspadai Eskalasi Lama, Ancam Perluas Jangkauan Konflik Jika AS Teruskan Serangan

OJK Genjot Efisiensi Industri BPR: Merger Empat Bank Lokal Ini Efektif Mulai Agustus
