Bupati Klaten Langsung Petik Melon di Green House Petani Milenial, Bisakah Ini Jadi Model Ketahanan Pangan Masa Depan?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

KLATEN – Aroma manis menyambut rombongan Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo saat memasuki Green House Pamenang Farm di Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Rabu (3/9). Di tengah hamparan tanaman melon yang tertata rapi, sang bupati tak ragu memetik sendiri buah berwarna hijau kekuningan itu, didampingi Ketua TP PKK Klaten Fahrani Hamenang. Acara sambung rasa yang digelar pemerintah desa itu menjadi ajang perkenalan dua varietas unggulan: Sweet Lavender dan Golden Aroma, hasil budidaya petani milenial Irfan Tri Kusuma dari Pamenang Farm.
Kehadiran pejabat daerah di tengah lahan pertanian memang bukan pemandangan baru, namun yang menarik adalah narasi yang dibangun: pertanian modern bukan lagi monopoli generasi tua. Irfan, yang masih berusia di bawah 30 tahun, dengan percaya diri memaparkan keunggulan melonnya—Sweet Lavender yang renyah dan Golden Aroma yang lembut, dengan tingkat kemanisan yang disebutnya berbeda dari melon biasa. "Ini panen perdana, setelah ini kami buka wisata petik buah dengan harga Rp35 ribu per kilogram," ujarnya di hadapan Bupati dan warga sekitar.
Ketahanan Pangan yang Dipertontonkan, Tapi Apakah Berkelanjutan?
Bupati Hamenang pun tak ketinggalan memberi apresiasi. Ia menyebut Desa Joho sebagai contoh desa yang berhasil menggerakkan ketahanan pangan secara terpadu, mulai dari jagung, buah-buahan, hingga protein. "Maturnuwun, di Joho ini luar biasa, ketahanan pangan sudah bergerak dan berkembang," ucapnya dengan gaya khas Jawa. Namun sebagai jurnalis investigasi yang telah menyaksikan banyak program seremonial, saya tak bisa menutup mata pada pertanyaan dasar: apakah ini sekadar pencitraan politik menjelang tahun politik, atau ada keberpihakan nyata pada regenerasi petani?
Data BPS menunjukkan rata-rata usia petani di Indonesia di atas 50 tahun, dan Klaten bukan pengecualian. Kehadiran Irfan sebagai petani milenial memang menggembirakan, tetapi perlu diingat bahwa budidaya melon di green house membutuhkan modal awal yang tidak kecil. Irfan mengakui memilih green house untuk bebas hama, namun biaya konstruksi dan perawatan bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tanpa dukungan kredit bunga rendah dan pendampingan teknis berkelanjutan, mungkinkah model ini direplikasi oleh pemuda desa lain? Bupati dan jajarannya tampaknya masih pada tahap pujian, bukan pada tahap regulasi dan anggaran yang konkret.
Wisata Petik dan Harga Premium, Akankah Pasar Menerima?
Menariknya, Irfan memilih jalur agrowisata dengan memungut biaya Rp35 ribu per kilogram, jauh di atas harga melon rata-rata di pasaran yang hanya sekitar Rp15-20 ribu. Strategi ini jelas mengandalkan nilai tambah pengalaman dan eksklusivitas. Tapi di tengah daya beli masyarakat yang masih tertekan, apakah segmen pasar ini cukup luas? Irfan sendiri mengaku bahwa sisa panen akan dijual ke pemborong—sebuah pengakuan jujur bahwa tidak semua produk bisa terserap di pasar premium. Ini menjadi catatan kritis: budidaya melon dengan biaya tinggi hanya akan berhasil jika didukung rantai pemasaran yang terintegrasi dan promosi yang masif, bukan sekadar mengandalkan kunjungan pejabat.
Acara yang juga diwarnai panen jagung, pemberian bantuan, dan dialog warga itu memang menghadirkan gegap gempita layanan Pemkab Klaten. Namun dari sisi substansi, belum terlihat bagaimana pemerintah akan mengawal keberlanjutan usaha Irfan dan petani milenial lainnya. Apakah ada program magang, pelatihan manajemen, atau akses pasar yang difasilitasi? Tanpa itu, sambung rasa hanya akan berakhir sebagai foto-foto di media sosial.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa keunggulan melon Sweet Lavender dibandingkan melon biasa?
Menurut petani Irfan, Sweet Lavender memiliki tekstur lebih renyah dan rasa manis yang khas, berbeda dengan melon lokal. Golden Aroma cenderung lebih lembut. Kedua varietas ini dibudidayakan di green house untuk menghindari hama dan menghasilkan kualitas yang lebih konsisten.
Bagaimana cara membeli atau mengunjungi wisata petik di Pamenang Farm?
Wisata petik melon dibuka dengan harga Rp35.000 per kilogram. Lokasinya di Desa Joho, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten. Pengunjung dapat memetik sendiri buah yang sudah siap panen dan membayar sesuai berat. Namun disarankan untuk menghubungi pengelola terlebih dahulu karena ketersediaan buah terbatas.
Apakah program ini bisa menjadi contoh bagi desa lain di Klaten?
Bupati Klaten menyebut Desa Joho sebagai model, namun keberhasilan replikasi sangat bergantung pada ketersediaan modal, keterampilan teknis, dan akses pasar. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya memberi pujian tetapi juga menyusun skema pendampingan yang terukur agar petani muda lain tertarik dan mampu bertahan.


