35 Tahun Berpacu di Nada! Addie MS dan Twilite Orchestra Bikin Aula Simfonia Bergemuruh
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

- Malam Minggu (6/9/2026) yang dingin di Aula Simfonia Jakarta tiba-tiba memanas oleh ribuan pasang mata yang menatap panggung megah.
- Di atas konduktor, seorang maestro bernama Addie MS mengayunkan baton, dan dentuman orkestra pun mengguncang Kemayoran.
- Ya, konser perayaan 35 tahun Twilite Orchestra sukses besar—dihadiri penonton dari berbagai kalangan, bahkan sampai melimpah ke lorong.
Malam Minggu (6/9/2026) yang dingin di Aula Simfonia Jakarta tiba-tiba memanas oleh ribuan pasang mata yang menatap panggung megah. Di atas konduktor, seorang maestro bernama Addie MS mengayunkan baton, dan dentuman orkestra pun mengguncang Kemayoran. Ya, konser perayaan 35 tahun Twilite Orchestra sukses besar—dihadiri penonton dari berbagai kalangan, bahkan sampai melimpah ke lorong. Tak heran, di akhir pertunjukan, seluruh ruangan berdiri memberikan standing ovation panjang yang terasa tak berujung.
Perjalanan panjang orkestra simfonik tertua di Indonesia ini memang layak dirayakan dengan gegap gempita. Didirikan pada 8 Juni 1991 oleh Addie MS, almarhum Oddie Agam, dan Indra Usmansjah Bakrie, Twilite Orchestra telah menjadi saksi dan pelaku sejarah musik klasik-tanah-air. Malam itu, mereka menghadirkan kekuatan monumental: 200 penyanyi dari Twilite Chorus, Perbanas Institute Choir, PSM IPB Agria Swara, Paduan Suara Gita Swara Jaya, UHAMKA Choir, dan PSM Universitas Mercu Buana—semua serempak mengalunkan harmoni yang bikin merinding.
Babak Pertama: Nasionalisme hingga Bintang Galaksi
Konser dibagi dalam dua babak yang sama-sama mengguncang emosi. Babak pertama dibuka dengan Indonesia Raya yang sontak membuat semua penonton berdiri tegak. Lalu, meluncurlah Die Fledermaus Overture dan The Phantom of the Opera yang selalu bikin nostalgia. Tapi yang paling memukau adalah penampilan magis Rama Widi pada Fantasia Nusantara—kecapi solo harpa yang berpadu dengan orkestra seolah membawa pendengar terbang di atas nusantara. Tak ketinggalan, lagu Padre ciptaan Adinda A. Bakrie yang mengalir penuh haru, didedikasikan untuk sang ayah. Babak pertama ditutup dengan gemuruh Star Wars—dan penonton langsung berteriak kegirangan.
Babak Kedua: Opera, Final Fantasy, dan Puncak Dramatis
Babak kedua dibuka dengan Liberi Fatali dari Final Fantasy yang bikin para gamer di aula ikut bergumam. Lalu, dua vokalis dunia menghipnotis: Oswin Wilke dengan Nessun dorma yang dramatis, dan Meechot Marrero—soprano Sidney Opera House—dengan O mio babbino caro dan Sempre libera yang begitu indah. Puncaknya, duet Libiamo ne'lietti calici yang dibawakan keduanya bersama seluruh chorus—aula bergetar, penonton tak bisa diam. Tepuk tangan dan sorakan pun menjadi penghormatan terbaik.
Di sela-sela kemeriahan, Addie MS naik ke panggung dengan senyum lebar. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam: "Twilite Orchestra didirikan oleh Bapak Indra Usmansjah Bakrie, Almarhum Oddie Agam, dan saya. Malam ini begitu istimewa, merayakan 35 tahun yang jatuh pada 8 Juni 1991. Kami juga bersyukur atas dukungan luar biasa dari para sponsor." Ucapan itu sontak disambut riuh, apalagi ketika ia menyebut bahwa orkestra ini adalah yang terlama di Indonesia—sebuah pencapaian yang patut dibanggakan.
Sebagai pengamat budaya pop, saya Nadia Putri merasa konser ini bukan sekadar perayaan, tapi juga pernyataan: musik simfonik tetap relevan dan bisa merangkul lintas generasi. Dari anak muda yang ikut bernyanyi Star Wars hingga orang tua yang terhanyut aria klasik, semua larut dalam satu harmoni. Twilite Orchestra telah membuktikan bahwa usia 35 tahun bukanlah penghalang, melainkan loncatan untuk terus berkarya.
FAQ Terkait Berita Ini
Kapan konser 35 tahun Twilite Orchestra diadakan?
Konser digelar pada Minggu, 6 September 2026, di Aula Simfonia Jakarta, Kemayoran.
Siapa saja bintang tamu yang tampil?
Ada soprano Meechot Marrero, tenor Oswin Wilke, dan harpis Rama Widi, serta 200 penyanyi dari berbagai paduan suara.
Apa makna spesial dari konser ini?
Ini adalah puncak perayaan 35 tahun Twilite Orchestra sebagai orkes simfonik terlama di Indonesia, sekaligus ajang nostalgia karya-karya legendaris mereka.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Perpisahan Chimot: Permintaan Maaf dan Warisan 20 Tahun for Revenge

Sinematografi Romantis: Tian Xiwei Kembali ke Drama Modern 'Love Knows No Walls' dengan Nuansa Suspense Gelap

Reese Witherspoon Pangkas Separuh Staf Hello Sunshine, Fokus pada Proyek Film dan Buku
