Kera Sakti Era AI! 'Beyond Wukong' Tayang Perdana di TV China, Rating Langsung Ngegas
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

China baru saja mencatat sejarah baru di dunia pertelevisian—dengan menayangkan serial drama berdurasi penuh pertama yang sepenuhnya diproduksi oleh kecerdasan buatan (AI). Bertajuk Beyond Wukong, drama adaptasi dari novel klasik Journey to the West ini langsung mendapat slot prime time dan berhasil mencetak rekor rating puncak. Peristiwa ini terjadi pada pekan lalu, tepatnya saat Global Times melaporkan kesuksesan debutnya, dan menjadi uji coba pertama dari kebijakan baru regulator penyiaran China, '21 Broadcasting Guidelines', yang memungkinkan produksi konten dengan skema tinjau sambil tayang.
Penggunaan AI di drama AI sebetulnya bukan barang baru di Negeri Tirai Bambu—biasanya dipakai untuk menutupi wajah aktor yang tersandung kontroversi. Tapi Beyond Wukong lain cerita. Seluruh visualnya, dari latar hingga karakter, dirancang dengan memadukan estetika lukisan tradisional China dan sentuhan teknologi digital modern. Cerita berpusat pada Sun Xiaosheng, seekor kera batu muda yang memulai petualangan kosmik seribu tahun setelah era Kera Sakti, demi memulihkan tatanan alam semesta.
Debat Panas: Karya Seni atau Sekadar Visual Canggih?
Keputusan berani ini langsung memicu perdebatan sengit di media sosial China. Sebagian penonton memuji kemampuan AI yang menyegarkan kembali budaya klasik dengan kemegahan visual yang sulit dijangkau produksi konvensional. Namun, tak sedikit yang meragukan kedalaman emosi dan penokohan—kekhawatiran klasik ketika mesin mulai menggantikan sentuhan manusia. Apakah AI bisa menghadirkan getaran batin karakter? Atau hanya sekadar tontonan mata?
Nadia sendiri sempat berpikir, ini seperti melihat lukisan indah tanpa jiwa—tapi tunggu dulu. Sutradara utama, Li Dongshen, buru-buru menegaskan bahwa manusia tetap memegang kendali penuh. Tim penulis manusia merancang alur cerita, dinamika emosi, dan perkembangan karakter. Sementara AI membantu pembuatan visual dan tata adegan. “Belum ada model AI yang bisa menulis naskah sendiri secara mandiri,” ujar Li. “Penciptaan tetap digerakkan oleh pemikiran dan estetika manusia.”
Yang menarik, Li mengakui AI memang memangkas biaya produksi yang biasanya besar untuk perbaikan naskah. Tapi ia juga menggarisbawahi keterbatasan AI—mesin tak punya insting intuitif seperti juru kamera manusia. Maka tim produksi pun tetap memakai pengisi suara manusia dan mempertahankan tim artistik inti, demi menghindari isu hak cipta dan menjaga kualitas seni.
Pengamat: AI Hebat di Kerangka, Tapi Masih Kaku di Hati
Pengamat media dari Universitas Normal Nanjing, Zhang Peng, menilai Beyond Wukong menjadi bukti masuknya AIGC ke sistem industri televisi arus utama. Namun ia mengakui ekspresi mikro karakter buatan AI masih kaku dan perkembangan emosi terkesan formulatis. “AI mampu membangun kerangka visual yang megah, tapi belum bisa memahami makna iman, pengorbanan, dan rasa kemanusiaan mendalam yang menjadi roh literatur klasik,” ujarnya.
Nadia setuju—sehebat apa pun AI, karya besar selalu butuh denyut nadi manusia. Tapi langkah China ini tetap patut diacungi jempol sebagai pionir. Pertanyaannya, akankah industri kreatif kita di Indonesia juga berani mengambil risiko serupa? Atau justru kita akan lebih menghargai goresan tangan manusia? Satu hal pasti: dunia hiburan sedang berubah, dan kita semua penontonnya.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa itu drama full AI dan bedanya dengan produksi biasa?
Drama full AI berarti seluruh proses pembuatan visual, animasi, dan tata adegan dibantu oleh kecerdasan buatan, tanpa kamera atau aktor fisik. Namun naskah, karakter, dan emosi tetap dirancang manusia.
Apakah Beyond Wukong tayang di Indonesia?
Belum ada informasi resmi mengenai penayangan di Indonesia. Saat ini masih tayang di saluran utama TV China dan menjadi perbincangan hangat di platform streaming global.
Bagaimana tanggapan publik China terhadap drama ini?
Terbagi dua: ada yang memuji visual megah dan inovasi, tapi banyak pula yang skeptis terhadap kedalaman emosi dan potensi menggeser tenaga kerja manusia di industri film.


