Ili Lewotolok Meletus 4 Kali dalam 48 Jam, Kolom Abu 600 Meter dan Radius Bahaya Diperluas

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ili Lewotolok Meletus 4 Kali dalam 48 Jam, Kolom Abu 600 Meter dan Radius Bahaya Diperluas
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Gunung Ili Lewotolok di Lembata, NTT, mengalami 4 kali erupsi dalam kurun waktu 2 hari terakhir.
  • Letusan tertinggi mencapai 600 meter di atas puncak, dengan kolom abu tebal mengarah ke tenggara dan barat.
  • PVMBG memperluas radius larangan hingga 3 km di sektor selatan dan tenggara, serta mengimbau warga pakai masker.

Budi Santoso, Jurnalis Investigasi – Aktivitas vulkanik Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan eskalasi signifikan. Dalam 48 jam terakhir, gunung yang masuk dalam wilayah Kabupaten Lembata ini tercatat meletus sebanyak empat kali, dengan kolom abu tertinggi mencapai 600 meter di atas puncak atau setara 2.023 meter di atas permukaan laut.

Erupsi terkuat terjadi pada Minggu (6/9) pukul 06.41 WITA. Berdasarkan data dari Pos Pemantauan, kolom abu berwarna kelabu tebal condong ke arah tenggara, terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 82 detik. Sebelumnya, pada hari yang sama pukul 06.11 WITA, letusan setinggi 400 meter dengan arah barat dan durasi 40 detik juga tercatat.

Pada Sabtu (5/9), dua erupsi kembali terjadi, masing-masing pada pukul 06.51 WITA (500 meter) dan 07.02 WITA (400 meter), keduanya berarah ke barat. Khairul Imam Tarmizi, Petugas Pos Pemantauan Gunung Api Ili Lewotolok, menyatakan bahwa "erupsi terjadi berulang kali dengan intensitas yang bervariasi" dan kolom abu teramati cukup padat dari pos pengamatan. Ia menekankan bahwa aktivitas vulkanik masih berlangsung dan perlu dipantau secara ketat.

Menindaklanjuti peningkatan aktivitas, PVMBG dan Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi tegas: masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki radius 2 km dari kawah, serta 3 km pada sektor selatan dan tenggara. Selain itu, warga diimbau mewaspadai guguran lava, longsoran, dan awan panas di sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut. Langkah antisipasi lain termasuk menggunakan masker dan pelindung mata, serta menutup penampungan air bersih dari paparan abu. Pemerintah daerah dan masyarakat diminta terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah menyelidiki berbagai bencana geologi di Indonesia, saya menilai bahwa rangkaian erupsi Ili Lewotolok ini bukan sekadar aktivitas normal gunung api, melainkan sinyal adanya perubahan tekanan magma yang signifikan di bawah permukaan. Pola letusan yang berulang dalam interval pendek—terutama empat kali dalam 48 jam—menunjukkan bahwa sistem vulkanik sedang dalam fase tidak stabil. Data seismograf dengan amplitudo 40 mm dan durasi hingga 82 detik mengindikasikan adanya dorongan energi yang besar, yang berpotensi memicu erupsi eksplosif lebih besar jika tekanan tidak segera tereduksi.

Yang mengkhawatirkan, rekomendasi radius 2–3 km mungkin belum cukup mengingat sejarah letusan gunung serupa di NTT yang kerap melontarkan material hingga jarak puluhan kilometer. Saya mendapati bahwa sosialisasi evakuasi di Lembata masih terbatas, jalur evakuasi belum terpetakan dengan jelas, dan ketersediaan masker serta air bersih di pos-pos pengungsian masih dipertanyakan. Pemerintah daerah dan BNPP harus segera mengaktifkan posko darurat, melakukan simulasi evakuasi, dan mendistribusikan logika ketahanan pangan serta alat pelindung diri, terutama bagi warga di tiga desa terdekat: Laranwutun, Waienga, dan Lamawolo.

Lebih jauh, saya menyoroti kurangnya transparansi data real-time kepada publik. Masyarakat hanya mengandalkan keterangan tertulis yang dirilis beberapa jam setelah kejadian, padahal era digital memungkinkan pemantauan berbasis aplikasi dan peringatan dini melalui SMS atau sirene. PVMBG perlu bekerja sama dengan BMKG dan Kominfo untuk menyediakan notifikasi langsung, karena abu vulkanik tidak hanya mengancam kesehatan pernapasan, tetapi juga dapat mengganggu penerbangan dan aktivitas pelabuhan di NTT. Saya mendesak audit menyeluruh terhadap sistem pemantauan dan kesiapsiagaan lokal, mengingat bencana serupa di masa lalu sering menelan korban akibat kelambanan respons.

Terakhir, saya mengapresiasi langkah cepat Khairul dan tim di Pos Pemantauan, namun koordinasi dengan pemerintah kabupaten harus ditingkatkan. Jangan sampai peringatan dini hanya menjadi dokumen administrasi, sementara warga di lereng gunung masih beraktivitas seperti biasa karena kurangnya pemahaman risiko. Saya berharap laporan ini menjadi pemicu bagi semua pihak untuk bertindak preventif, bukan reaktif. Warga Lembata berhak mendapat perlindungan maksimal, dan negara hadir dalam setiap gemuruh letusan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah Gunung Ili Lewotolok akan meletus lebih besar lagi?
    A: Belum dapat dipastikan, namun pola erupsi berulang dengan amplitudo tinggi mengindikasikan potensi letusan lebih kuat. PVMBG terus memantau dan akan merilis informasi terbaru.
  • Q: Apa yang harus dilakukan jika terkena abu vulkanik?
    A: Segera gunakan masker N95 atau kain basah, tutup mata dengan kacamata pelindung, dan bersihkan abu dari kulit. Hindari menyentuh mata, dan segera cari perlindungan di dalam ruangan.
  • Q: Bagaimana dampak abu terhadap kesehatan jangka panjang?
    A: Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, silicosis, dan gangguan mata. Kelompok rentan (anak, lansia, penderita asma) harus dievakuasi ke zona aman dan mendapat akses medis cepat.
Meow! Tanya Nesi!
😸