Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Sekolah di Nepal Selamatkan 900 Siswa dari Banjir Bandang: Satu Langkah Tepat yang Jadi Penentu

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Sekolah di Nepal Selamatkan 900 Siswa dari Banjir Bandang: Satu Langkah Tepat yang Jadi Penentu
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kepala Sekolah Rajendra Dawadi di Nuwakot, Nepal, memutuskan mengevakuasi 900 siswa hanya 10 menit sebelum banjir bandang menghantam sekolah.
  • Keputusan itu diambil setelah mendengar peringatan dari warga setempat, meskipun saat itu belum terlihat tanda-tanda banjir.
  • Banjir yang melanda perbatasan Nepal-China menewaskan lebih dari 1.200 orang dan merusak puluhan sekolah, berdampak pada hampir 19.000 anak.

Seorang kepala sekolah di Nepal merasa bersyukur karena berhasil menyelamatkan 900 siswanya dari bencana banjir bandang yang melanda kawasan Nuwakot pada Rabu (26/8) lalu. Rajendra Dawadi, kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli, mengungkapkan bahwa tindakan cepatnya terinspirasi dari peringatan empat orang yang datang ke sekolah, salah satunya dari Betrawati, sebuah kota di hulu sungai. Tanpa menunggu bukti visual, Dawadi segera memerintahkan evakuasi seluruh siswa, meskipun saat itu belum ada tanda-tanda banjir yang tampak.

“Saya memutuskan tidak boleh menunda lagi. Meskipun banjir tidak akan datang, itu hanya masalah satu hari kelas saja,” ujarnya kepada BBC. Keputusan itu terbukti tepat ketika Dawadi melihat bangunan asrama sekitar 100 meter dari sungai tersapu derasnya air bah. “Jika kami mengambil keputusan 10 menit lebih lambat, kita semua tidak akan bisa berbicara kepada Anda hari ini,” tambahnya. Seorang siswi, Yunisha (16), menceritakan bahwa dirinya dan teman-temannya selamat hanya dalam waktu 10 detik setelah berlari di jalan berlumpur sambil menyaksikan pasar setempat hanyut di depan mata. Ia baru dapat bertemu kembali dengan keluarganya tiga hari kemudian.

Evakuasi serupa juga terjadi di area lain, di mana para guru menyuruh siswa segera mengosongkan ruang kelas tanpa membawa tas dan bekal. Ibu salah satu siswa mengatakan kepada Associated Press bahwa peringatan dini dari guru menjadi kunci keselamatan mereka. Menurut organisasi amal Save the Children, setidaknya 69 sekolah telah hancur atau rusak akibat banjir, berdampak pada hampir 19.000 anak. Sementara itu, jumlah korban jiwa akibat banjir bandang di perbatasan Nepal dan China telah mencapai lebih dari 1.200 orang, dengan ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.

Analisis Pakar

Kisah kepemimpinan Rajendra Dawadi menyoroti dua aspek krusial dalam manajemen bencana: kearifan lokal dan keberanian mengambil risiko. Di tengah sistem peringatan dini yang seringkali tidak sempurna di negara berkembang, informasi dari warga sekitar—yang akrab dengan perilaku sungai—menjadi aset tak ternilai. Dawadi tidak hanya mendengar, tetapi juga mempercayai sinyal tersebut meskipun secara visual belum ada ancaman. Ini menunjukkan bahwa dalam situasi krisis, kecepatan mengambil keputusan seringkali lebih penting daripada menunggu konfirmasi ilmiah yang lengkap, terutama ketika nyawa anak-anak menjadi taruhannya.

Namun, dari sudut pandang kebijakan publik, insiden ini juga membuka pertanyaan besar tentang kesiapsiagaan infrastruktur pendidikan di Nepal. Dengan 69 sekolah rusak dan hampir 19.000 anak terdampak, bencana ini mengungkap kerentanan sistem pendidikan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Pemerintah Nepal dan komunitas internasional perlu mengevaluasi ulang standar bangunan sekolah di daerah rawan banjir, serta memperkuat pelatihan evakuasi berbasis skenario nyata. Keberhasilan Dawadi tidak boleh menjadi sekadar anekdot, melainkan harus menjadi model yang direplikasi secara sistematis di ribuan sekolah lain yang berada di jalur sungai.

Lebih jauh, bencana ini mengingatkan kita pada tantangan global yang dihadapi oleh negara-negara Himalaya, di mana pencairan gletser dan perubahan pola hujan semakin meningkatkan frekuensi banjir bandang. Kerja sama lintas batas antara Nepal dan China, serta dukungan dari lembaga internasional seperti Save the Children, sangat diperlukan untuk membangun sistem peringatan dini yang terintegrasi. Tanpa itu, kisah selamat seperti yang terjadi di Tribhuvan Trishuli akan tetap menjadi pengecualian, bukan standar. Di sisi lain, peran guru dan kepala sekolah sebagai garda terdepan dalam keselamatan siswa perlu diakui dan didukung dengan pelatihan serta sumber daya yang memadai, karena mereka sering kali menjadi satu-satunya lapisan pertahanan sebelum bantuan datang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa jumlah korban jiwa akibat banjir bandang di Nepal?
    A: Lebih dari 1.200 orang tewas, sementara ribuan lainnya masih hilang hingga berita ini ditulis.
  • Q: Bagaimana cara kepala sekolah menyelamatkan 900 siswa?
    A: Ia memutuskan mengevakuasi seluruh siswa segera setelah menerima peringatan dari warga setempat, tanpa menunggu tanda banjir terlihat, sehingga mereka meninggalkan sekolah hanya 10 menit sebelum air bah menerjang.
  • Q: Apa dampak banjir terhadap anak-anak dan sekolah di Nepal?
    A: Setidaknya 69 sekolah hancur atau rusak, dan hampir 19.000 anak terdampak, baik dari sisi pendidikan maupun kehilangan tempat berlindung yang aman.
Meow! Tanya Nesi!
😸