Nilai Tukar Nelayan Cuma 103, Zulhas Target Naik ke 120 Tahun Depan - Indonesia Rugi Rp250 Triliun Tiap Tahun!

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Nilai Tukar Nelayan Cuma 103, Zulhas Target Naik ke 120 Tahun Depan - Indonesia Rugi Rp250 Triliun Tiap Tahun!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan nilai tukar nelayan naik dari 103 ke 120 paling lambat tahun 2026, demi mengangkat mereka dari garis kemiskinan.
  • Rendahnya daya tawar nelayan bikin Indonesia rugi Rp250 triliun per tahun karena kapal asing dari Thailand, Vietnam, Jepang, dan Tiongkok lebih leluasa mengeruk ikan di laut RI.
  • Pemerintah siapkan Kampung Nelayan lengkap dengan pabrik es, cold storage, SPBN, dan balai lelang agar posisi tawar nelayan naik.

Jakarta, CNBC Indonesia - Menyadari bahwa nilai tukar nelayan Indonesia masih mentok di angka 103 dan masuk kategori desil satu alias garis kemiskinan, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) ambil ancang-ancang serius. Targetnya, tak hanya mengembalikan martabat 160 juta jiwa petani, peternak, dan nelayan, tapi juga mendongkrak kesejahteraan mereka secara struktural.

Dalam acara Lampung Financial Festival, Sabtu (5/9/2026), Zulhas menegaskan bahwa kedaulatan pangan adalah soal kehormatan bangsa. "Nelayan ini kenapa kita harus berdaulat? Tadi ya pangan itu harus berdaulat termasuk padi, termasuk ikan, termasuk jagung. Kenapa sih? Karena kedaulatan itu kehormatan. Kehormatan siapa? Kehormatan keluarga kita," tegasnya.

Parahnya, jika nelayan bertahan di desil satu, artinya mereka benar-benar tidak punya cadangan. "Kalau tidak diberikan beras atau uang, maka tidak bisa makan atau bertahan hidup," ujar Zulhas menggambarkan realitas pahit di lapangan. Padahal, lanjut dia, nelayan dan petani adalah benteng pertahanan pertama negara. "Kalau diserang perang dia maju duluan membela tanah air. Nggak mungkin kita tidak mau tahu," katanya.

Penyebab rendahnya nilai tukar nelayan, menurut Zulhas, sangat klasik: ketiadaan daya tawar. "Dia kalau dapat ikan harusnya dibeli dengan dua juta ditawar lima ratus ribu harus dijual kalau nggak ikannya busuk. Dia nggak punya daya tawar," ungkapnya. Ironisnya, posisi tawar yang lemah ini justru dimanfaatkan oleh negara tetangga. "Yang kuat siapa? Thailand, Vietnam, Jepang, Tiongkok. Jadi menurut Menteri Kelautan, Indonesia dirugikan ikannya setiap tahun kira-kira dua ratus lima puluh triliun. Karena apa? Karena nelayan kita tidak berdaya," tegas Zulhas.

Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintah menyiapkan program Kampung Nelayan. Fasilitasnya tak main-main: pabrik es untuk menjaga kesegaran tangkapan, cold storage sebagai gudang pendingin, SPBN untuk memastikan BBM tersedia, hingga balai lelang yang memberikan harga transparan dan layak. Konsepnya sederhana: nelayan tidak boleh dipaksa jual murah karena ikan bisa disimpan sampai harga pantas datang.

"Kalau ikannya ditawar murah dia bisa simpan. Apa bisa sukses? Belum tentu. Tidak mudah. Oleh karena itu perlu kerjasama semua pihak," tandas Zulhas.

Analisis Pakar

Dari sudut pandang makro ekonomi, masalah nilai tukar nelayan ini sebenarnya adalah cerminan klasik dari kegagalan struktural dalam rantai nilai sektor kelautan Indonesia. Angka 103 yang disebut Zulhas bukan sekadar statistik kesejahteraan—itu adalah representasi dari ketimpangan distribusi kekayaan (wealth distribution gap) di sektor primer. Nelayan adalah tulang punggung produksi, tapi mereka selalu menjadi penerima残价 (residual price) dalam rantai pasok. Ketika ikan baru diangkat dari laut, 80-90% margin sudah lebih dulu jatuh ke tengkulak, eksportir, dan distributor besar. Nelayan hanya kebagian 10-20%, itupun kalau harga sedang bagus.

Kerugian Rp250 triliun per tahun yang disoroti Zulhas memang bukan angka kecil. Itu setara dengan hampir 12-15% dari total PDB sektor perikanan Indonesia. Artinya, ada kebocoran ekonomi (economic leakage) masif yang terjadi karena lemahnya kedaulatan maritim kita. Ini sebenarnya Ironi of the Commons versi Indonesia: laut kita luas, tapi hasilnya lebih banyak dinikmati oleh kapal asing. Thailand dan Vietnam dikenal punya armada tangkap yang lebih modern, teknologipendinginan yang lebih baik, dan akses permodalan yang lebih gampang. Tanpa industrialisasi perikanan tangkap dan koperasi nelayan yang serius, gap ini cuma akan melebar.

Konsep Kampung Nelayan yang ditawarkan pemerintah sebenarnya langkah di arah yang benar. Cold storage dan balai lelangadalah dua hal krusial yang selama ini jadi titik hilang (missing link) dalam rantai nilai. Dengan cold storage, nelayan bisa menunggu harga terbaik tanpa tertekan "jual sekarang atau ikan busuk". Dengan balai lelang, harga ditentukan oleh mekanisme pasar, bukan negosiasi satu-satu di dermaga. Tapi tantangannya besar: eksekusi di lapangan. Indonesia punya pengalaman buruk dengan program serupa yang mandek di tengah jalan karena lemahnya koordinasi antarkementerian, birokrasi yang berbelit, dan minimnya pendampingan teknis ke koperasi lokal.

Sebagai catatan untuk para pelaku pasar dan investor, ada dua hal yang layak dicermati. Pertama, perbaikan kesejahteraan nelayan dalam jangka panjang akan berdampak positif ke sektor keuangan—nelayan yang punya pendapatan layak adalah pasar baru untuk kredit mikro, asuransi maritim, dan produk keuangan inklusif lainnya. Kedua, industrialisasi perikanan tangkap akan membuka peluang besar di sektor processing, cold chain logistics, dan ekspor produk olahan. Jika target naik ke 120 ini tercapai, multiplier effect-nya ke PDB bisa sangat signifikan. Tapi kalau mandek di wacana, ya status quo: Indonesia terus jadi gudang ikan mentah untuk negara tetangga. Pelajaran dari Zulhas ini seharusnya jadi wake-up call bahwa kedaulatan pangan bukan slogan, melainkan prasyarat kedaulatan ekonomi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu nilai tukar nelayan dan kenapa penting?
A: Nilai tukar nelayan adalah indikator yang mengukur daya beli dan kesejahteraan nelayan dengan membandingkan pendapatan mereka terhadap kebutuhan pokok. Semakin tinggi angkanya, semakin sejahtera. Saat ini angka 103 menunjukkan nelayan Indonesia masih berada di garis kemiskinan (desil satu).

Q: Berapa target nilai tukar nelayan yang dicanangkan Zulhas?
A: Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan nilai tukar nelayan bisa naik ke angka 120 paling lambat tahun depan, dari posisi saat ini yang masih di 103.

Q: Kenapa Indonesia rugi Rp250 triliun per tahun dari sektor kelautan?
A: Kerugian tersebut terjadi karena nelayan Indonesia lemah daya tawar, tidak punya cold storage, dan sering dipaksa jual murah. Akibatnya, kapal asing dari Thailand, Vietnam, Jepang, dan Tiongkok lebih leluasa mengeksploitasi ikan di perairan Indonesia.

Meow! Tanya Nesi!
😸