Momen Haru Pinka Haprani: Trauma Healing Anak-Anak Korban Gempa NTT di Tenda Darurat

- Ringkasan Singkat Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih, Pinka Haprani, memimpin kegiatan trauma healing untuk ratusan anak korban gempa di Manggarai, NTT.
- Kegiatan berlangsung di tenda darurat SD Inpres Robo dan SMPN Satap Robo, melibatkan belasan relawan mahasiswa.
- Anak-anak diajak bermain, bernyanyi, menggambar, dan mendongeng untuk mengembalikan keceriaan pasca-gempa.
Ringkasan Singkat
- Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih, Pinka Haprani, memimpin kegiatan trauma healing untuk ratusan anak korban gempa di Manggarai, NTT.
- Kegiatan berlangsung di tenda darurat SD Inpres Robo dan SMPN Satap Robo, melibatkan belasan relawan mahasiswa.
- Anak-anak diajak bermain, bernyanyi, menggambar, dan mendongeng untuk mengembalikan keceriaan pasca-gempa.
Ratusan anak-anak korban gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mendapat suntikan semangat melalui kegiatan trauma healing yang digagas oleh Taruna Merah Putih. Ketua Umum DPP Pinka Haprani turun langsung berbaur dengan anak-anak usia PAUD hingga SMP di tenda pengganti ruang kelas SD Inpres Robo dan SMPN Satap Robo, Kecamatan Wae Ri'i, Selasa (1/9).
Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Sekretaris Jenderal DPP Taruna Merah Putih Rio Dondokambey, Bendahara Umum Stephanie Octavia, serta Bupati Manggarai Heribertus Nabit, para relawan menghadirkan beragam permainan, nyanyian, dan dongeng. Anak-anak juga diajak menggambar dan membaca cerita, sebagai bagian dari pendampingan psikososial untuk memulihkan trauma pasca-gempa bumi yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu.
"Kegiatan tersebut melibatkan belasan relawan mahasiswa dari berbagai kampus di Ruteng. Anak-anak juga diajak menggambar, membaca, bercerita, serta bermain bersama," demikian keterangan resmi Relawan TMP. Kehadiran Pinka dan jajaran pengurus DPP disambut antusias oleh anak-anak yang tampak ceria meski harus belajar di tenda darurat.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi yang telah menyusuri berbagai bencana di Indonesia, saya menilai kegiatan trauma healing ini penting, namun tidak cukup sebagai aksi seremonial. Anak-anak korban gempa tidak hanya membutuhkan hiburan sesaat, tetapi program pemulihan psikososial yang berkelanjutan. Gempa bumi di Manggarai bukanlah yang pertama dan bukan yang terakhir; daerah ini berada di zona rawan gempa, sehingga kesiapan mental anak-anak harus menjadi prioritas jangka panjang.
Sayangnya, pemerintah daerah dan nasional kerap terlena dengan bantuan fisik—tenda, makanan, dan logistik—sementara layanan konseling dan terapi anak sering dianggap sekunder. Padahal, trauma pada anak bisa memengaruhi perkembangan kognitif dan emosional mereka hingga dewasa. Kegiatan seperti yang dilakukan Taruna Merah Putih perlu diintegrasikan dengan kebijakan pendidikan tanggap bencana, termasuk pelatihan guru dan kader desa untuk mendeteksi gejala stres pascatrauma.
Selain itu, perlu ada evaluasi dampak dari kegiatan ini. Apakah hanya sekadar hiburan, atau benar-benar ada perubahan signifikan pada kondisi psikologis anak? Saya mendorong lembaga seperti Kementerian Sosial dan BNPB untuk melakukan kajian longitudinal. Jangan sampai trauma healing hanya menjadi konten publikasi, sementara anak-anak kembali menghadapi ketakutan setiap kali gempa susulan terjadi. Bupati Manggarai yang hadir seharusnya menjadikan momen ini sebagai pemicu untuk mengalokasikan anggaran khusus bagi kesehatan mental anak di daerah bencana.
Kita juga perlu mengkritisi kesiapan relawan. Apakah mereka sudah terlatih dalam pendampingan psikososial? Taruna Merah Putih patut diapresiasi, tetapi keterlibatan mahasiswa yang belum tentu memiliki latar belakang psikologi atau pendidikan anak memerlukan supervisi profesional. Saya berharap ke depan, kolaborasi dengan psikolog dan organisasi profesi menjadi syarat utama dalam setiap program trauma healing, agar dampaknya terukur dan tidak sekadar seremonial belaka.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa itu trauma healing dan mengapa penting bagi anak-anak korban gempa?
A: Trauma healing adalah serangkaian kegiatan psikososial untuk membantu korban, terutama anak-anak, mengatasi ketakutan, kecemasan, dan stres pascabencana. Melalui permainan, seni, dan cerita, anak-anak diajak mengekspresikan perasaan dan memulihkan keceriaan, sehingga mencegah gangguan mental jangka panjang.
Q: Bagaimana kondisi anak-anak korban gempa di Manggarai saat ini?
A: Anak-anak di wilayah terdampak, khususnya di Kecamatan Wae Ri'i, masih bersekolah di tenda darurat. Meski demikian, mereka menunjukkan semangat tinggi saat menerima kegiatan trauma healing. Namun, kebutuhan akan ruang belajar permanen dan dukungan psikologis berkelanjutan masih sangat mendesak.
Q: Apa peran Taruna Merah Putih dalam penanganan bencana NTT?
A: Taruna Merah Putih, melalui relawan mahasiswa dan pengurus pusat, aktif melakukan pendampingan langsung, baik dalam bentuk bantuan logistik maupun program pemulihan psikososial. Mereka juga menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan bantuan tepat sasaran, meskipun perlu peningkatan kapasitas dan keberlanjutan program.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Pembebasan Sanksi Pajak Kendaraan di DKI Jakarta Resmi Berlaku 2 November 2026, Tanpa Perlu Ajukan Permohonan

Rano Karno Soroti Peran Gotong Royong dalam Solusi Ketahanan Kota di Depan Delegasi CityNet

Angelalign Luncurkan Bahan Aligner SuperElastic, Dorong Terobosan Ortodonti Global
