Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Malam Api di Selat Sunda: Anak Krakatau Kembali Bergemuruh, Warga Diimbau Jauh dari Radius Maut

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Malam Api di Selat Sunda: Anak Krakatau Kembali Bergemuruh, Warga Diimbau Jauh dari Radius Maut
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Gunung Anak Krakatau erupsi menerus selama lebih dari 5 jam, memuntahkan lava pijar dan dentuman keras yang terdengar hingga Banten, Lampung, dan Jawa Barat.
  • PVMBG mempertahankan status Siaga (Level III) dan melarang aktivitas dalam radius 3 km dari puncak, namun memastikan tidak ada potensi tsunami besar seperti 2018.
  • Warga pesisir diimbau tetap tenang, mengikuti arahan BPBD, dan mewaspadai ancaman awan panas, batu pijar, serta hujan abu lebat.

Ringkasan Singkat

  • Gunung Anak Krakatau erupsi menerus selama lebih dari 5 jam, memuntahkan lava pijar dan dentuman keras yang terdengar hingga Banten, Lampung, dan Jawa Barat.
  • PVMBG mempertahankan status Siaga (Level III) dan melarang aktivitas dalam radius 3 km dari puncak, namun memastikan tidak ada potensi tsunami besar seperti 2018.
  • Warga pesisir diimbau tetap tenang, mengikuti arahan BPBD, dan mewaspadai ancaman awan panas, batu pijar, serta hujan abu lebat.

Banten, 5 September 2026 – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali memuncak pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9) dini hari. Erupsi menerus yang berlangsung selama sekitar 5,5 jam itu melontarkan semburan api berwarna merah menyala setinggi puluhan meter, membentuk fenomena air mancur lava (lava fountain) yang disertai gemuruh dan getaran terasa hingga ke pesisir Banten, Lampung, dan Jawa Barat.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, dalam keterangan resmi yang diterima Sabtu (5/9), mengonfirmasi bahwa erupsi terjadi mulai pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB dini hari. Meskipun tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup awan dan kabut, lontaran material pijar tampak sangat dominan dari kedua pos pengamatan, yaitu Pos PGA Kalianda (Lampung Selatan) dan Pos PGA Pasauran (Serang, Banten).

"Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di sejumlah wilayah diduga berkaitan dengan erupsi ini," jelas Lana. Ia menambahkan bahwa fenomena lava fountain yang berlangsung selama beberapa jam merupakan hal umum pada gunung api aktif, dan menjadi jawaban atas laporan warga mengenai suara menggelegar di kawasan pesisir.

Yang patut dicatat, PVMBG menegaskan bahwa struktur fisik Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-tsunami 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan belum cukup masif untuk memicu keruntuhan besar. "Tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," tegas Lana. Namun, ancaman bahaya di sekitar puncak tetap tinggi, terutama dari aliran lava dan lontaran batu pijar yang dapat melesat hingga radius 3 kilometer.

Badan Geologi pun mengeluarkan rekomendasi ketat: masyarakat, wisatawan, dan pendaki dilarang memasuki wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas. Warga pesisir di Banten dan Lampung diminta untuk tidak panik, tetap beraktivitas seperti biasa, namun senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat dan waspada terhadap potensi awan panas, hujan abu, serta lontaran material vulkanik.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah menyusuri jejak bencana vulkanik di Indonesia selama lebih dari dua dekade, saya menilai pernyataan resmi dari Badan Geologi kali ini tergolong "standar prosedur" namun menyimpan sejumlah celah yang perlu dipertanyakan. Pertama, mengapa status Siaga (Level III) tidak dinaikkan menjadi Awas (Level IV) padahal erupsi menerus dengan lava fountain jelas menunjukkan peningkatan energi yang signifikan? Dalam pengalaman saya, mitigasi bencana di Indonesia kerap kali bersifat reaktif, bukan preventif. Kita masih ingat betapa tragisnya erupsi 2018 yang justru mengejutkan banyak pihak karena peringatan dini yang kurang tegas.

Kedua, jaminan bahwa "tidak ada potensi tsunami besar" patut dikaji ulang. Meskipun tubuh gunung yang baru tumbuh memang relatif kecil, namun aktivitas magmatik di bawah permukaan bisa memicu longsoran bawah laut yang tidak terdeteksi dari pemantauan visual. PVMBG hanya mengandalkan dua pos pengamatan darat—tidak ada disebutkan adanya pemantauan batimetri atau sensor tekanan dasar laut yang terintegrasi. Dalam kasus 2018, kegagalan membaca sinyal dini justru berawal dari terlalu percaya pada asumsi stabilitas lereng.

Ketiga, imbauan "tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa" terdengar seperti nada meremehkan. Warga pesisir yang mendengar dentuman keras dan melihat percikan api dari kejauhan tentu memiliki naluri bertahan yang wajar. Alih-alih sekadar meminta tenang, pemerintah daerah seharusnya segera mengaktifkan jalur evakuasi dan simulasi darurat, mengingat akses ke pulau-pulau kecil di Selat Sunda sangat terbatas. Saya mendesak BPBD provinsi untuk tidak hanya menjadi corong imbauan, tetapi juga menyediakan peta risiko terkini dan titik kumpul aman yang jelas, karena dalam situasi krisis, kecepatan informasi adalah nyawa.

Terakhir, saya menyoroti minimnya edukasi publik mengenai perbedaan antara erupsi efusif (aliran lava) dan eksplosif (letusan). Masyarakat perlu diberi pemahaman bahwa lava fountain saat ini belum tentu berbahaya dalam skala besar, namun potensi abu dan gas beracun tetap mengancam kesehatan. Pemerintah pusat harus segera mengalokasikan anggaran darurat untuk pemantauan udara dan pembagian masker ke wilayah pesisir, karena abu vulkanik dapat menyebar hingga puluhan kilometer. Ini bukan soal tenang atau panik, melainkan soal kesiapsiagaan yang terukur dan transparan—sesuatu yang masih sangat kurang dalam budaya mitigasi bencana kita.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah Gunung Anak Krakatau akan meletus besar dan memicu tsunami seperti 2018?
    A: Berdasarkan pernyataan resmi PVMBG, saat ini tidak ada indikasi potensi tsunami besar karena tubuh gunung yang baru tumbuh masih kecil dan stabil. Namun, potensi aliran lava dan lontaran batu pijar tetap tinggi dalam radius 3 km, sehingga masyarakat diimbau menjauhi zona tersebut.
  • Q: Apa yang harus dilakukan jika berada di pesisir Banten atau Lampung saat erupsi berlangsung?
    A: Tetap tenang, ikuti arahan BPBD setempat, hindari pantai jika terjadi gemuruh kuat atau surut air laut mendadak, dan segera cari informasi dari sumber resmi seperti PVMBG atau BMKG. Jangan percaya pada hoaks dan selalu siapkan tas siaga bencana.
  • Q: Apakah aman untuk bepergian ke kawasan wisata Selat Sunda atau menuju Pulau Anak Krakatau?
    A: Tidak aman. Badan Geologi melarang semua aktivitas dalam radius 3 km dari pusat erupsi. Wisatawan dan pendaki dilarang mendekati gunung, dan pelayaran di sekitar Selat Sunda juga diimbau untuk waspada terhadap material vulkanik yang jatuh.
Meow! Tanya Nesi!
😸