Erick Thohir Peringatkan PB IPSI: Jangan Ada Dualisme! Pencak Silat Siap Mengguncang Dunia?
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Ringkasan Singkat
- Menpora Erick Thohir resmi melantik pengurus PB IPSI periode 2026-2030 di Padepokan Pencak Silat TMII.
- Ia menegaskan pentingnya persatuan dan mengingatkan bahaya dualisme kepengurusan yang merusak cabang olahraga lain.
- Target besar: penyesuaian regulasi WADA, minimal 75 negara afiliasi (saat ini 83), dan kompetisi kontinental rutin mulai tahun depan.
Jakarta, 5 September 2026 – Erick Thohir tak main-main. Dalam pelantikan dan pengukuhan pengurus PB IPSI 2026-2030, Menteri Pemuda dan Olahraga itu menyampaikan pesan keras: jangan sampai PB IPSI terjerat dualisme kepengurusan seperti yang terjadi di banyak cabang olahraga lain. "Kita melihat dualisme di mana-mana. Mau di bawa ke mana nantinya itu? Karena itu persatuan perlu dijunjung oleh PB IPSI," tegasnya di hadapan para pengurus dan atlet yang memadati Padepokan Pencak Silat TMII.
Semangat juang Pencak Silat memang tak pernah padam, tapi Erick mengingatkan bahwa perjalanan menuju panggung global masih panjang dan penuh tantangan. Ia menyoroti tiga pilar utama: administrasi ke Badan Antidoping Dunia (WADA), perluasan federasi di berbagai negara, dan pembentukan turnamen tingkat benua yang reguler. "Perjuangan menuju dunia internasional sangat kompleks. Kalau ingin diakui dunia pasti harus menyesuaikan regulasi dunia dan WADA," ujarnya, sembari menambahkan bahwa kuota minimal 75 negara sudah tercapai (83 negara), tapi pertanyaan besarnya: apakah sudah tersebar di setidaknya empat benua?
Erick pun memastikan dukungan penuh Kemenpora untuk program ekspansi PB IPSI. "Perlu ada kompetisi kontinental secara reguler. Ini yang harus didisiplinkan dari pencak silat. Tahun depan harus mulai berjalan lagi." Ia menutup dengan pernyataan menggugah: "Stigma bahwa olahraga itu makan biaya harus dihapuskan. Olahraga itu investasi." Sebuah pesan yang menggema di tengah euforia pelantikan.
Analisis Pakar
Oleh: Dimas Pratama, Pengamat Olahraga & Jurnalis Senior
Peringatan Erick Thohir bukan sekadar basa-basi. Dualisme kepengurusan adalah kanker yang sudah melumpuhkan beberapa induk organisasi olahraga di negeri ini. Lihat saja kasus PSSI atau PBSI di masa lalu—perpecahan internal selalu berujung pada sanksi internasional, pembatalan kejuaraan, dan yang paling parah, hilangnya kepercayaan atlet. PB IPSI saat ini berada di persimpangan strategis: di satu sisi, pencak silat sedang naik daun setelah sukses di SEA Games dan Asian Games; di sisi lain, tuntutan globalisasi olahraga mengharuskan mereka bermain di liga yang lebih ketat. Jika dualisme muncul, maka semua pencapaian itu bisa runtuh dalam sekejap. Erick tepat menyentuh titik lemah itu, dan saya salut karena beliau tidak hanya berbicara, tapi juga menawarkan solusi konkret: kepatuhan WADA dan perluasan benua.
Soal WADA, ini bukan isapan jempol. Banyak olahraga tradisional Asia yang tersandung masalah doping karena kurangnya edukasi dan sistem pengujian yang terstandar. Pencak silat harus segera membentuk unit antidoping yang kredibel, melibatkan laboratorium terakreditasi, dan memberikan pemahaman kepada atlet bahwa 'ramuan tradisional' pun bisa mengandung zat terlarang. Tanpa itu, mimpi masuk Olimpiade akan tetap mimpi. Lalu, soal 83 negara—angka itu memang impresif, tapi sebaran geografisnya masih timpang. Mayoritas federasi berada di Asia dan Eropa Timur. Amerika, Afrika, dan Oseania masih minim. Erick benar-benar paham peta permainan; dia tidak sekadar mengejar kuantitas, tapi juga kualitas dan legitimasi.
Yang paling menarik adalah perintahnya untuk menggelar kompetisi kontinental secara reguler. Ini adalah kunci meningkatkan level pertandingan. Selama ini, kejuaraan internasional pencak silat masih sporadis, lebih banyak bergantung pada event multiolahraga. Padahal, untuk membangun popularitas dan pendapatan, kita butuh sirkuit tahunan seperti Piala Dunia atau Kejuaraan Benua. Bayangkan jika ada Kejuaraan Pencak Silat Asia setiap tahun, lalu ditambah turnamen antar-benua—itu akan menciptakan rivalitas abadi dan bintang-bintang baru. Erick memberi tenggat tahun depan, dan itu bukan sesuatu yang mustahil jika PB IPSI bergerak cepat dengan dukungan penuh Kemenpora. Saya optimistis, asalkan semua elemen bersatu, tidak ada ego sektoral, dan fokus pada visi besar: menjadikan pencak silat sebagai ikon budaya sekaligus olahraga prestasi dunia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa yang dimaksud dengan dualisme kepengurusan dalam olahraga?
A: Dualisme adalah kondisi ketika muncul dua atau lebih kepengurusan yang mengklaim sah dalam satu induk organisasi, yang sering memicu konflik internal, sanksi dari federasi internasional, dan merugikan atlet serta pembinaan. - Q: Mengapa kepatuhan terhadap WADA sangat penting bagi pencak silat?
A: WADA (Badan Antidoping Dunia) mengatur standar anti-doping global. Tanpa kepatuhan, atlet tidak bisa mengikuti turnamen internasional, dan olahraga tersebut kehilangan kredibilitas serta peluang masuk Olimpiade. - Q: Berapa target minimal federasi nasional yang harus dimiliki pencak silat untuk diakui dunia?
A> Menurut Erick Thohir, minimal 75 negara afiliasi dan tersebar di empat benua. Saat ini sudah ada 83 negara, namun distribusi benua masih perlu ditingkatkan.


