Babah Alun Bangun Tol Layang Setinggi 38 Meter, Anti Gempa 1.000 Tahun dan 100% Produk Lokal

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Babah Alun Bangun Tol Layang Setinggi 38 Meter, Anti Gempa 1.000 Tahun dan 100% Produk Lokal
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) membangun Tol Layang Harbour Road II Ancol Timur–Pluit setinggi 38 meter, tertinggi di Jakarta, dengan progres 44,12%.
  • Investasi mencapai Rp15,08 triliun, ditargetkan rampung 2028, dan didesain tahan gempa hingga 1.000 tahun dengan teknologi 100% dalam negeri.
  • Jusuf Hamka juga akan memulai konstruksi Tol Sawangan–Bojonggede–Salabenda tahun ini, serta ditantang membangun Tol Tambang sepanjang 12 km di Kabupaten Bogor.

Jakarta – Mohammad Jusuf Hamka atau akrab disapa Babah Alun, melalui PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk, tengah menggarap proyek tol strategis di Jabodetabek. Salah satu andalannya adalah Tol Layang (Elevated) tertinggi di Jakarta, yaitu Jalan Tol Harbour Road II Ruas Ancol Timur – Pluit, yang dibangun di atas Tol Sedyatmo dengan struktur bertingkat setinggi 38 meter.

Direktur Utama CMNP, Arief Budhy Hardono, menyampaikan progres pembangunan telah mencapai 44,12%, dengan pembebasan lahan mencapai 77% dan area yang siap dikerjakan kontraktor mencapai 81,55%. Proyek sepanjang 9,7 km dengan konfigurasi 2×3 lajur dan kecepatan 80 km/jam ini menyerap investasi Rp15,08 triliun dan ditargetkan beroperasi pada 2028. Tujuan utamanya mengurai kemacetan di Tol Harbour Road I serta memperlancar arus logistik dari Pelabuhan Tanjung Priok dan konektivitas menuju Bandara Soekarno–Hatta.

Keistimewaan tol layang ini terletak pada desain anti-gempa yang diklaim mampu bertahan hingga 1.000 tahun, serta penggunaan teknologi 100% produk dalam negeri. "Ini dibangun oleh anak bangsa sendiri tanpa orang luar negeri dan tidak menggunakan APBN," tegas Dewan Penasehat CMNP, Jusuf Hamka. Selain itu, Babah Alun juga memastikan konstruksi Tol Sawangan–Bojonggede–Salabenda akan dimulai tahun ini, sebagai perpanjangan Tol Depok–Antasari (Desari) dan terhubung dengan Bogor Outer Ring Road (BORR). Rencana jangka panjangnya memperpanjang ruas hingga Caringin.

Dalam pertemuan dengan Bupati Bogor Rudy Susmanto, Babah Alun juga mendapat tantangan membangun Tol Tambang sepanjang 12 km yang menghubungkan tiga kecamatan utama penghasil tambang di Kabupaten Bogor, yaitu Cigudeg, Rumpin, dan Parungpanjang. Jika seluruh tahapan berjalan lancar, ruas Sawangan–Salabenda sepanjang 27,9 km ditargetkan beroperasi pada 2028.

Analisis Pakar

Proyek Tol Harbour Road II dan jaringan tol baru yang digagas Jusuf Hamka menandakan geliat investasi infrastruktur yang masih kuat di tengah tekanan fiskal dan ketidakpastian global. Namun, dari kacamata makroekonomi, saya melihat beberapa aspek yang perlu dicermati. Pertama, skema pendanaan yang disebutkan tidak menggunakan APBN��ini menarik, tetapi publik perlu tahu apakah pendanaan berasal dari pinjaman perbankan, obligasi korporasi, atau ekuitas swasta. Dengan nilai investasi Rp15 triliun untuk satu ruas, beban utang perusahaan tentu meningkat, dan kelayakan bisnisnya sangat bergantung pada proyeksi lalu lintas (traffic) yang seringkali overestimated. Kedua, klaim ketahanan gempa 1.000 tahun memang menggoda, tetapi perlu diingat bahwa standar gempa di Indonesia mengacu pada SNI dan peta gempa terbaru; pernyataan tersebut harus diverifikasi dengan kajian risiko seismik yang transparan, karena bukan sekadar pencitraan, melainkan menyangkut keselamatan publik dan kepercayaan investor.

Dari sisi manfaat ekonomi, tol layang ini memang akan memangkas waktu tempuh logistik dari Tanjung Priok ke kawasan barat Jakarta dan bandara. Namun, saya khawatir tarif tol yang akan diberlakukan nanti bisa menjadi beban baru bagi pelaku usaha, terutama jika tidak ada subsidi silang atau pengaturan tarif yang adil. Sebagai jurnalis senior, saya sering melihat proyek infrastruktur besar justru menciptakan polusi baru—kemacetan di pintu keluar karena akses jalan kolektor tidak memadai. Pemerintah daerah dan pusat harus sinergi memperbaiki jalan arteri dan sistem transportasi massal, agar investasi tol tidak sia-sia. Selain itu, perluasan tol ke kawasan tambang di Bogor patut diapresiasi karena dapat memperlancar distribusi bahan tambang, tetapi jangan lupakan dampak lingkungan dan sosial yang harus dikaji secara komprehensif—jangan sampai pembangunan tol justru merusak kawasan resapan air di hulu Jabodetabek.

Terakhir, dari sisi politik ekonomi, Babah Alun menunjukkan keberanian sebagai pengusaha nasional yang berani bersaing dengan konglomerat asing di sektor jalan tol. Namun, saya mengingatkan bahwa konsesi tol diberikan pemerintah dengan masa pengelolaan tertentu; kepastian hukum dan stabilitas tarif sangat menentukan keberlanjutan proyek. Pemerintah perlu memberikan insentif fiskal yang jelas, misalnya pembebasan pajak bahan impor untuk konstruksi, tetapi di sisi lain memastikan bahwa proyek ini tidak menjadi beban bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui skema penjaminan yang tidak terukur. Saya menilai optimisme Jusuf Hamka patut dihargai, tetapi tetap harus dibarengi dengan disiplin waktu dan biaya. Jika proyek terlambat atau membengkak, maka dampaknya akan dirasakan oleh pengguna tol dan pemegang saham CMNP. Ke depan, saya merekomendasikan agar CMNP lebih agresif melakukan komunikasi publik mengenai studi kelayakan, rencana tarif, dan mekanisme pemeliharaan jangka panjang, karena transparansi adalah kunci kepercayaan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan Tol Harbour Road II Ancol–Pluit akan beroperasi?
    A: Proyek ditargetkan rampung pada tahun 2028, dengan progres konstruksi saat ini sekitar 44,12%.
  • Q: Berapa biaya investasi Tol Harbour Road II dan siapa yang membiayai?
    A: Investasi mencapai Rp15,08 triliun, dan dibiayai sepenuhnya oleh swasta (PT CMNP) tanpa menggunakan APBN, meskipun detail sumber pendanaan belum diumumkan secara rinci.
  • Q: Apa keunggulan utama Tol Layang Harbour Road II?
    A: Keunggulan utamanya adalah struktur tertinggi di Jakarta (38 meter), klaim ketahanan terhadap gempa 1.000 tahun, penggunaan 100% produk dalam negeri, dan fungsi pengurai kemacetan serta peningkatan konektivitas logistik ke Pelabuhan Tanjung Priok dan Bandara Soekarno–Hatta.
Meow! Tanya Nesi!
😸