Trump Terima Rabi Anti-Zionis di Gedung Putih, Momen Bersejarah Sejak 1979

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Trump Terima Rabi Anti-Zionis di Gedung Putih, Momen Bersejarah Sejak 1979
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden AS Donald Trump bertemu delegasi rabi anti-Zionis dari kelompok Hasidut di Gedung Putih, Kamis (3/9).
  • Para rabi menyerukan penghentian perang di Gaza dan menegaskan Zionis serta pemerintah Israel tidak mewakili seluruh komunitas Yahudi.
  • Pertemuan ini adalah kunjungan resmi pertama komunitas Hasidik ke Gedung Putih sejak 1979, berlangsung menjelang Rosh Hashanah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima delegasi rabi dari kalangan Yahudi Hasidut yang dikenal anti-Zionis di Gedung Putih, Washington DC, pada Kamis (3/9). Delegasi tersebut menyerahkan surat yang mendesak penghentian agresi militer di Jalur Gaza, Palestina. Surat itu menegaskan bahwa gerakan Zionis dan kepemimpinan Israel tidak berbicara atas nama seluruh umat Yahudi, sebagaimana dikutip Al Jazeera.

Salah satu tokoh utama dalam pertemuan itu adalah Rabi Agung Aaron Teitelbaum, yang sebelumnya pernah mengkritik keras kebijakan pemerintah Israel. Pada Juli lalu, ia menyatakan, "Kami tidak punya perang dalam Zionisme, kami tidak terlibat dalam perang mereka, kami tidak terlibat dengan pemerintah Israel." Kehadiran Rabi Zalman Leib Teitelbaum, Rabi Bobov, Rabi Vizhnitz, dan Kepala Yeshiva Lakewood Malkiel Kotler turut memperkuat delegasi ini.

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh menantu Trump sekaligus utusan Dewan Perdamaian, Jared Kushner, Wakil Presiden JD Vance, serta anggota DPR fraksi Republik Mike Lawler. Menurut sumber yang mengetahui jalannya pertemuan, Vance sempat bercanda mengenai besarnya keluarga Hasidik, dan saat ditanya tentang perbedaan warna jubah rabi, salah satu rabi menjawab dengan candaan, "Warnanya sesuai saldo rekening bank," seperti dilaporkan Ynet News.

Pertemuan yang berlangsung menjelang hari raya Rosh Hashanah ini menjadi momen bersejarah karena merupakan kunjungan pertama komunitas Hasidik ke Gedung Putih sejak 1979, menandai perubahan signifikan dalam keterlibatan politik kelompok agama yang selama ini cenderung apolitis terhadap urusan kenegaraan Israel.

Analisis Pakar

Pertemuan ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan sinyal geopolitik yang kuat. Donald Trump, yang selama masa kepresidenannya dikenal pro-Israel secara ekstrem—mulai dari pemindahan kedutaan ke Yerusalem hingga pengakuan kedaulatan atas Golan Heights—kini membuka pintu bagi kelompok yang secara tegas menolak proyek Zionis. Ini menunjukkan fleksibilitas taktis dalam politik luar negeri AS, terutama menjelang pemilu dan upaya merangkul basis pemilih yang beragam, termasuk kalangan Yahudi konservatif yang kritis terhadap kebijakan Netanyahu.

Dari perspektif hubungan internasional, langkah ini dapat dibaca sebagai upaya mendiversifikasi narasi tentang konflik Israel-Palestina. Dengan memberikan panggung kepada rabi anti-Zionis, pemerintahan Trump secara tidak langsung mengakui bahwa suara Yahudi tidaklah monolitik. Hal ini berpotensi melemahkan legitimasi klaim Israel sebagai "negara seluruh umat Yahudi" dan membuka ruang bagi solusi dua negara yang lebih inklusif. Namun, di sisi lain, pertemuan ini juga dapat memicu ketegangan dengan lobi pro-Israel di AS dan partai politik yang selama ini mendukung kebijakan keras terhadap Palestina.

Kritik tajam dari Rabi Aaron Teitelbaum bahwa komunitasnya "tidak terlibat dengan pemerintah Israel" mencerminkan tradisi Hasidik tertentu yang memandang pendirian negara Israel sebelum kedatangan Mesias sebagai tindakan melawan kehendak Tuhan. Pandangan teologis ini sering diabaikan dalam wacana arus utama, namun kini mendapat sorotan di tingkat tertinggi pemerintahan AS. Ini juga mengingatkan kita bahwa agama dan politik selalu memiliki hubungan kompleks, dan penggunaan identitas keagamaan untuk tujuan diplomatis harus disikapi secara kritis.

Yang tak kalah menarik adalah candaan para petinggi AS dan rabi dalam pertemuan tersebut—meski terkesan ringan, hal itu menunjukkan adanya upaya membangun kedekatan personal yang dapat memuluskan komunikasi kebijakan. Namun, perlu diingat bahwa di balik candaan, ada tuntutan konkret untuk menghentikan perang di Gaza. Jika pertemuan ini berbuah kebijakan nyata, maka akan menjadi terobosan besar dalam mediasi konflik. Sebaliknya, jika hanya sekadar simbolis, maka akan menambah daftar panjang retorika tanpa tindakan yang kerap dikritik dari pemerintahan AS.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu gerakan anti-Zionis di kalangan Yahudi?
    A: Anti-Zionisme adalah pandangan yang menolak gagasan negara Israel sebagai rumah bagi seluruh bangsa Yahudi, seringkali berdasarkan alasan teologis (bahwa pendirian Israel harus menunggu kedatangan Mesias) atau politik (kritik terhadap kebijakan Israel terhadap Palestina). Kelompok Hasidik tertentu seperti Satmar adalah contoh utama yang memegang sikap ini.
  • Q: Mengapa pertemuan ini dianggap bersejarah?
    A: Karena ini adalah pertama kalinya sejak 1979 delegasi resmi dari komunitas Hasidik diterima di Gedung Putih, menandai pengakuan resmi terhadap suara Yahudi yang kritis terhadap Israel di level tertinggi pemerintahan AS.
  • Q: Apa dampak pertemuan ini terhadap konflik Gaza?
    A: Secara langsung, pertemuan ini tidak mengubah kebijakan AS atau Israel, namun dapat memicu perdebatan di Kongres dan publik tentang diversifikasi pendapat Yahudi, serta berpotensi mempengaruhi opini global terhadap perang Gaza jika diikuti dengan langkah diplomatik lebih lanjut.
Meow! Tanya Nesi!
😸