Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Shin Tae Yong & Mundari Jadi Dua Harapan Asia di Tengah Kepungan 13 Pelatih Eropa dan 3 Brasil!

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Shin Tae Yong & Mundari Jadi Dua Harapan Asia di Tengah Kepungan 13 Pelatih Eropa dan 3 Brasil!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Super League 2026/2027 diikuti 18 pelatih, 13 dari Eropa dan 3 dari Brasil, hanya dua pelatih Asia dan satu lokal.
  • Mundari Karya kembali ke kursi pelatih setelah 10 tahun vakum, menangani tim promosi Isenmulang Kalteng FC yang diragukan.
  • Shin Tae Yong, eks pelatih Timnas Indonesia, ditunjuk Persija Jakarta untuk membangkitkan tim dan memutus dominasi pelatih Eropa.

SUPER LEAGUE 2026/2027 bakal jadi medan perang taktik yang panas! Dari 18 juru taktik, pelatih Eropa mendominasi dengan 13 nama, terdiri dari empat Spanyol, tiga Portugal, tiga Belanda, serta satu Kroasia, Serbia, dan Bosnia. Sementara itu, Amerika Latin diwakili tiga pelatih Brasil. Hanya ada dua pelatih Asia—Mundari Karya dan Shin Tae Yong—dan satu pelatih lokal. Ini pertaruhan gengsi benua!

Mundari Karya ditunjuk menangani Isenmulang Kalteng FC, klub promosi yang sebelumnya bernama Adyhaksa FC. Ia menggantikan Ade Suhendra yang masih berlisensi A AFC dan tengah mengejar lisensi Pro. Masalahnya, Mundari terakhir melatih klub pada 2016! Sejak itu ia lebih banyak berkutat di balik layar sebagai tim technical study group I.League dan PSSI. Banyak pihak meremehkan langkahnya, apalagi skuad Isenmulang tak banyak berbenah di bursa transfer musim panas. Bisakah tangan dinginnya bertahan di tengah gempuran pelatih-pelatih asing? Performa tim promosi ini bakal menjadi ujian pembuktian yang sesungguhnya.

Sementara itu, Shin Tae Yong dipercaya Persija Jakarta untuk mengangkat harkat tim yang lima musim terakhir kehilangan kharisma. Nama Shin harum di Indonesia—ia membuat Timnas Garuda diperhitungkan di Asia sebelum dipecat PSSI pada 2025. Namun kiprahnya di level klub terakhir justru mengecewakan: setelah dari Timnas, ia menangani Ulsan Hyundai dalam waktu singkat. Meski pernah juara Liga Champions Asia bersama Seongnam Ilhwa Chunma pada 2010, tangan dinginnya di kompetisi domestik belum benar-benar teruji. Persija jadi taruhan besar, apalagi ada “kutukan” pelatih Timnas yang kurang berprestasi di klub setelahnya. Bisakah Shin mematahkan mitos itu?

Dalam empat musim terakhir, pelatih Eropa selalu merajai kasta tertinggi Indonesia. Kini, dua pelatih Asia menjadi harapan untuk menghentikan dominasi. Akankah pengalaman dan taktik khas Asia mampu menggoyang hegemoni Eropa? Super League 2026/2027 menyajikan drama yang tak boleh dilewatkan!

Analisis Pakar

Oleh Dimas Pratama — Saya melihat ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan arah sepak bola Indonesia. Dominasi pelatih Eropa dan Brasil menunjukkan bahwa manajemen klub lebih percaya pada “label” dan lisensi Pro UEFA daripada pemahaman lokal. Tapi jangan salah, Asia punya filosofi permainan yang berbeda—lebih kolektif dan disiplin—yang justru bisa jadi senjata untuk mengejutkan. Mundari, meski vakum, dikenal sebagai analis taktik yang jeli. Ia hafal karakter pemain Indonesia. Kelemahannya hanya soal jam terbang dan adaptasi cepat. Jika Isenmulang bisa bertahan di zona aman di awal musim, saya yakin ia akan menemukan ritme.

Shin Tae Yong adalah kuda hitam yang lebih berbahaya. Pengalamannya membangun Timnas dari nol membuktikan ia mahir membaca mental pemain. Persija punya skuad yang lebih mumpuni. Masalahnya, Shin harus membuktikan bahwa ia bisa menangani tekanan harian klub, bukan hanya turnamen jangka pendek. Saya menilai kutukan pelatih Timnas itu lebih karena faktor manajemen dan ekspektasi yang terlalu tinggi, bukan karena kualitas taktik. Shin punya modal juara Liga Champions Asia—itu tidak bisa diremehkan. Saya memprediksi Persija akan finis di 5 besar jika Shin diberikan waktu dan kepercayaan penuh.

Namun, jika bicara peluang juara, pelatih Eropa masih unggul dalam hal pengalaman menangani pertandingan dengan intensitas tinggi. Tapi sepak bola selalu punya kejutan. Saya justru tertarik melihat bagaimana duet Mundari-Shin bisa memecah dominasi dengan pendekatan yang lebih “membumi”. Mereka tahu betul kelemahan pemain lokal dan cara memaksimalkan potensi. Ini bukan sekadar soal taktik, tapi juga psikologi dan adaptasi budaya. Saya menantikan laga Isenmulang vs Persija—bisa jadi itu pertaruhan masa depan kepelatihan Asia di Indonesia.

Terakhir, saya menilai PSSI dan klub-klub harus mulai memberi ruang lebih bagi pelatih lokal dan Asia. Ketergantungan pada pelatih asing hanya akan membuat identitas sepak bola kita kabur. Shin dan Mundari adalah pintu masuk. Jika mereka sukses, percayalah, akan ada lebih banyak pelatih Asia yang dilirik. Ini momen sejarah—semoga mereka tidak menyia-nyiakannya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Siapa saja pelatih Eropa yang bersaing di Super League 2026/2027?
    A: Ada 13 pelatih Eropa, termasuk empat dari Spanyol, tiga dari Portugal, tiga dari Belanda, dan masing-masing satu dari Kroasia, Serbia, dan Bosnia & Herzegovina.
  • Q: Mengapa Mundari Karya dianggap diremehkan meski berpengalaman?
    A: Karena ia sudah 10 tahun tidak melatih klub (terakhir 2016) dan lebih banyak di balik layar, plus menangani tim promosi yang skuadnya kurang menjanjikan di bursa transfer.
  • Q: Bisakah Shin Tae Yong memecahkan 'kutukan' pelatih Timnas Indonesia yang gagal di klub?
    A: Itu tantangan terbesarnya. Namun rekam jejak juara Liga Champions Asia dan kemampuannya membangun tim nasional memberi optimisme, asalkan manajemen Persija memberinya waktu dan dukungan penuh.
Meow! Tanya Nesi!
😸