Mengering Total, Bendung Karet Pati Berubah Jadi Kuburan Ikan & Bau Menyengat
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ringkasan Singkat
- Bendung Karet Sungai Juana, Pati, mengalami kekeringan ekstrem akibat musim kemarau panjang.
- Ribuan ikan mati ditemukan di dasar bendung, menimbulkan bau busuk yang mengganggu warga sekitar.
- Warga setempat terpaksa mengumpulkan bangkai ikan, sementara pemerintah daerah belum memberikan solusi konkret.
Pemandangan memilukan terjadi di Bendung Karet Pati, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Permukaan air Sungai Juana yang menjadi sumber utama bendung menyusut drastis hingga memperlihatkan dasar sungai yang berlumpur. Tak hanya itu, tumpukan bangkai ikan memenuhi cekungan bendung, menyebarkan aroma busuk yang menyengat hingga radius puluhan meter.
Warga sekitar terlihat sibuk mengumpulkan ikan-ikan mati yang sebagian besar berukuran sedang, diduga jenis ikan tawar lokal seperti nila dan mujair. Mereka menggunakan ember dan jaring kecil, bukan untuk konsumsi, melainkan untuk membersihkan lokasi dari potensi sumber penyakit. "Bau sudah sangat menyengat sejak tiga hari lalu, kami khawatir ini bisa memicu wabah," ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Fenomena ini bukan pertama kali terjadi di Sungai Juana. Namun, tingkat kekeringan tahun ini dinilai paling parah dalam satu dekade terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan bahwa El Nino lemah masih berdampak pada pola curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya di pantura Jawa.
Pemerintah Kabupaten Pati melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) mengklaim tengah melakukan pemantauan. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah nyata seperti normalisasi sungai atau penyediaan pompa air darurat. Ketidakpedulian ini menuai kritik dari pegiat lingkungan yang menilai bencana ekologi seperti ini seharusnya bisa diantisipasi dengan sistem pengelolaan air yang lebih baik.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis yang telah bertahun-tahun meliput bencana lingkungan, saya melihat kasus Bendung Karet Pati adalah cermin dari kegagalan tata kelola sumber daya air di tingkat daerah. Bukan sekadar musim kemarau, melainkan akumulasi dari minimnya infrastruktur penyimpanan air, alih fungsi lahan di hulu, dan buruknya sistem drainase. Ketika bendung karet yang seharusnya berfungsi sebagai pengatur debit air justru mengering, itu menandakan tidak ada cadangan air yang cukup, padahal musim hujan sebelumnya masih tergolong normal.
Yang lebih memprihatinkan adalah respons aparat yang terkesan reaktif, bukan preventif. Kematian massal ikan bukan hanya soal bau, tetapi juga indikator kesehatan ekosistem sungai. Ikan mati karena kadar oksigen terlarut menurun drastis akibat volume air menyusut dan suhu meningkat. Ini adalah peringatan dini bahwa kekeringan di Jawa Tengah tidak hanya mengancam pertanian, tetapi juga keanekaragaman hayati perairan. Jika dibiarkan, dampaknya akan merambat ke sektor perikanan budidaya dan mata pencaharian nelayan sekitar.
Saya mengkritik kebijakan pemerintah yang masih bergantung pada solusi jangka pendek seperti mendistribusikan air tanki, padahal akar masalahnya adalah ketiadaan waduk atau embung di sepanjang aliran Sungai Juana. Anggaran infrastruktur lebih banyak tersedot untuk proyek-proyek prestise, sementara bendung karet yang sudah berusia puluhan tahun nyaris tidak pernah direvitalisasi. Tidak heran jika setiap kemarau tiba, daerah ini selalu menjadi langganan bencana.
Sudah saatnya DPRD Pati memanggil dinas terkait untuk memaparkan peta jalan ketahanan air lima tahun ke depan. Masyarakat juga perlu diedukasi untuk tidak membuang sampah ke sungai, karena sampah organik yang membusuk memperparah penurunan kualitas air. Tanpa sinergi antara pemerintah, akademisi, dan warga, maka siklus kematian ikan dan bau busuk akan kembali terulang, dan kita hanya akan menjadi penonton pasif atas musibah yang sebetulnya bisa dicegah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa Bendung Karet Pati bisa mengering?
A: Penyebab utamanya adalah musim kemarau panjang yang diperparah El Nino, ditambah kurangnya infrastruktur penyimpanan air dan sedimentasi sungai yang mengurangi kapasitas tampung. - Q: Apakah ikan mati tersebut berbahaya jika dikonsumsi?
A: Sangat berbahaya. Ikan mati karena kekurangan oksigen dan suhu tinggi biasanya mengalami pembusukan cepat, mengandung bakteri dan racun histamin yang dapat memicu keracunan makanan. - Q: Apa langkah yang harus dilakukan pemerintah untuk mengatasi?
A: Pemerintah harus melakukan normalisasi sungai, membangun embung atau waduk kecil, menyediakan pompa air darurat, dan menerapkan sistem peringatan dini kekeringan berbasis data cuaca.


