Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Drama Heroik di Nepal: Dua Pekerja Selamat dari Terowongan 170 Meter Usai 9 Hari Terperangkap Banjir Gletser

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Drama Heroik di Nepal: Dua Pekerja Selamat dari Terowongan 170 Meter Usai 9 Hari Terperangkap Banjir Gletser
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Dua pekerja pembangkit listrik tenaga air di Nepal berhasil dievakuasi hidup-hidup setelah sembilan hari terjebak dalam terowongan sedalam 170 meter akibat banjir bandang.
  • Operasi penyelamatan yang berlangsung di proyek Trishuli 3A melibatkan militer Nepal dan tim khusus, dengan upaya pembersihan puing yang memakan waktu hampir enam hari untuk mencapai lokasi.
  • Lebih dari 500 pekerja masih dinyatakan hilang dari berbagai proyek di kawasan Himalaya, sementara pihak berwenang meyakini adanya kantung udara yang memungkinkan korban lain bertahan.

Upaya penyelamatan terhadap sejumlah pekerja pembangkit listrik tenaga air di Nepal akhirnya membuahkan hasil pada Jumat (4/9) – sembilan hari pascabanjir bandang menerjang. Dua pekerja berhasil diangkat dari lubang sedalam 170 meter di terowongan proyek Trishuli 3A, salah satu daerah terdampak paling parah, menurut juru bicara militer Brigjen Raja Ram Basnet yang dikutip dari The Guardian.

Keduanya, Sanjay Shah (mandor) dan Kabir Maharjan (supervisor), ditemukan dalam keadaan sadar meskipun berlumuran lumpur. Shah, yang pertama kali dievakuasi, langsung diterbangkan ke rumah sakit di Kathmandu bersama rekannya. Saat berbicara dengan petugas militer, pertanyaan pertama Shah adalah: "Hari apa ini?" – ungkapan yang menggambarkan betapa lamanya mereka terisolasi dalam kegelapan.

Shah menceritakan bahwa saat banjir terjadi, ia berada di ruang kendali terowongan yang biasanya hanya diisi lima hingga enam orang, tetapi saat itu terdapat sekitar 40–45 pekerja. "Karena saya di ruang kendali, tanggung jawab saya adalah menyelamatkan nyawa semua orang. Saya tidak bisa melarikan diri sendiri," ujarnya. Ia mengaku sempat memperingatkan rekannya untuk lari, namun kehilangan waktu sehingga dirinya sendiri terperangkap. Untuk menjaga ketenangan, ia melafalkan mantra selama masa-masa gelap itu, dan hanya berkomunikasi dengan tiga atau empat orang lain melalui teriakan.

Bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser yang mencair di perbatasan Nepal–Tibet (wilayah kekuasaan China), yang mengirimkan gelombang air, puing, dan lumpur menghanyutkan lembah. Sebagian besar proyek pembangkit di sepanjang sungai Bhote Koshi dan Trishuli hancur. Banjir bandang tersebut memenuhi terowongan dengan batu-batu besar dan lumpur, sehingga pintu masuk tertutup dan mempersulit akses. Tim penyelamat membutuhkan hampir enam hari untuk menemukan terowongan Trishuli 3A, dan pada Jumat pagi, setelah terobosan, mereka mendengar suara dari dalam. Ketika tim berteriak, "Jangan panik, kami sedang menyelamatkanmu," jawaban yang diterima adalah, "Oke." – tanda harapan yang membangkitkan semangat.

Menteri Komunikasi Nepal, Bikram Timilsina, menyatakan pihak berwenang masih berharap menemukan lebih banyak korban selamat. Sejauh ini, lebih dari 270 orang telah dievakuasi dari berbagai proyek. Namun, angka hilang masih sangat tinggi: Asosiasi Produsen Listrik Independen Nepal mencatat 557 pekerja hilang dari proyek di sepanjang Trishuli, dengan sekitar 115 di antaranya diduga terjebak di terowongan utama. Total, sekitar 900 pekerja dilaporkan hilang dari 12 proyek, dan sekitar 500 di antaranya diyakini masih berada di dalam terowongan. Upaya juga difokuskan pada pembangkit Rasuwagadhi, di mana 46 pekerja diperkirakan masih hidup di ruang bawah tanah.

Operasi penyelamatan terus berlanjut dengan dukungan tentara dan spesialis, yang bekerja tanpa henti membersihkan puing. Keberhasilan menyelamatkan Shah dan Maharjan memberikan secercah harapan di tengah tragedi kemanusiaan yang melanda kawasan Himalaya.

Analisis Pakar

Kejadian ini bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan cerminan dari kerentanan infrastruktur energi di wilayah rawan bencana iklim. Nepal, yang menggantungkan sebagian besar pasokan listriknya pada pembangkit tenaga air, kini menghadapi ironi: sumber energi terbarukan yang diandalkan justru menjadi perangkap maut ketika perubahan iklim mempercepat pencairan gletser. Runtuhnya gletser di perbatasan Tibet menunjukkan bahwa dampak pemanasan global tidak mengenal batas negara, dan proyek-proyek besar yang dibangun tanpa kajian risiko bencana yang memadai akan menjadi bom waktu.

Dari sudut pandang keselamatan kerja, kasus ini menyoroti kurangnya prosedur evakuasi darurat dan sistem peringatan dini. Shah, sebagai mandor, rela mengorbankan kesempatan selamat demi mengevakuasi puluhan pekerja – sebuah tindakan heroik, tetapi juga bukti bahwa tidak ada protokol baku yang melindungi awak saat bencana datang. Ribuan pekerja di proyek-proyek terpencil sering kali bekerja dalam kondisi minim pengawasan, dengan akses darurat yang terbatas, dan tanpa pelatihan menghadapi skenario banjir gletser. Pemerintah Nepal dan investor asing harus segera mengevaluasi ulang standar keselamatan, termasuk penyediaan kantung udara, jalur evakuasi, dan komunikasi bawah tanah yang andal.

Respon internasional juga patut dipertanyakan. Meskipun militer Nepal bergerak cepat, bantuan dari negara tetangga dan lembaga global terlihat lambat. Bencana ini seharusnya menjadi panggilan bagi komunitas dunia untuk mendanai sistem pemantauan gletser dan peringatan dini di Himalaya, mengingat dampaknya tidak hanya pada Nepal tetapi juga India dan Bangladesh yang bergantung pada aliran sungai. Selain itu, operasi penyelamatan yang berlarut-larut menunjukkan keterbatasan logistik di medan pegunungan – investasi dalam teknologi pencarian dan penyelamatan, seperti drone dan sensor bawah tanah, sangat mendesak.

Yang paling menyentuh adalah ketahanan psikologis para korban. Shah bertahan dengan mantra dan komunikasi sederhana, namun kita tidak tahu berapa banyak rekan yang mungkin tidak mampu mengatasi trauma kegelapan dan kelaparan. Kejadian ini membuka mata bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan nyawa manusia. Ke depannya, Nepal perlu mendorong transparansi data, audit keselamatan berkala, dan kemitraan dengan ahli glasiologi untuk memetakan zona rawan. Tanpa langkah konkret, tragedi serupa akan terulang, dan nyawa para pekerja akan terus menjadi taruhan dalam perlombaan energi terbarukan yang tidak terencana.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Bagaimana dua pekerja bisa bertahan hidup selama 9 hari dalam terowongan?
    A: Mereka bertahan berkat adanya kantung udara di dalam terowongan yang menyediakan oksigen, serta akses ke air dari rembesan. Mereka juga berkomunikasi dan menjaga ketenangan dengan berteriak dan melafalkan mantra untuk menghemat energi.
  • Q: Berapa jumlah korban hilang dalam bencana banjir Nepal ini?
    A: Pihak berwenang memperkirakan sekitar 900 pekerja hilang dari 12 proyek pembangkit listrik tenaga air, dengan sekitar 500 di antaranya diduga terjebak di dalam terowongan. Sejauh ini, lebih dari 270 orang telah berhasil diselamatkan.
  • Q: Apa penyebab utama banjir bandang yang melanda proyek-proyek tersebut?
    A: Banjir dipicu oleh runtuhnya gletser yang mencair di perbatasan Nepal dan Tibet akibat perubahan iklim, yang melepas gelombang air, lumpur, dan puing-puing besar ke lembah sungai Bhote Koshi dan Trishuli, menghancurkan infrastruktur di sekitarnya.
Meow! Tanya Nesi!
😸