Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Sidang Hak Asuh Anak Ruben vs Sarwendah Berlanjut di E-Court, Ada Perbaikan Gugatan Tapi Substansi Tetap Sama!

SelebritiNadia PutriNadia PutriSumber: CNN Selebriti
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Sidang Hak Asuh Anak Ruben vs Sarwendah Berlanjut di E-Court, Ada Perbaikan Gugatan Tapi Substansi Tetap Sama!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Gugatan hak asuh anak Ruben Onsu terhadap Sarwendah akan kembali disidangkan secara e-court pada 9 September di PN Jakarta Selatan.
  • Pihak Ruben memastikan pokok gugatan tetap memperebutkan hak asuh, dengan alasan eksploitasi dan lingkungan tidak baik bagi anak, meski ada perbaikan redaksi.
  • Mediasi gagal setelah 30 hari, Sarwendah sempat hadir tapi pergi ke rumah sakit, Ruben juga tidak hadir karena jadwal check-up.

Pertarungan hukum antara Ruben Onsu dan Sarwendah soal hak asuh anak kian memanas! Setelah mediasi buntu, sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan akan berlanjut melalui sistem e-court pada 9 September mendatang. Agenda kali ini memasuki tahap pokok perkara, dengan pembacaan gugatan dari pihak Ruben dan penyampaian hasil mediasi yang gagal mencapai titik temu.

Pengacara Ruben, Tiffany Setiawaty, mengungkapkan bahwa ada sedikit perbaikan redaksi dalam gugatan, tapi substansi utamanya tetap sama: memperebutkan hak asuh anak. "Kami tidak mengubah pokok gugatan kami, yaitu hak asuh anak," tegasnya. Tak hanya itu, pihak Ruben juga menyoroti adanya eksploitasi dan dugaan lingkungan yang tidak baik bagi anak, serta klaim bahwa Sarwendah tidak memenuhi kesepakatan bersama setelah perceraian, di mana Ruben seharusnya mendapat waktu bersama anak 2-3 hari dalam sepekan.

Di sisi lain, kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, menyatakan bahwa kliennya akan memberikan jawaban dalam sidang e-court pekan depan. "Sidang selanjutnya jawaban dari pihak kami seminggu, ya. Tapi kemungkinan e-court. Jadi, tidak hadir di persidangan, ya, untuk minggu depan tanggal 9," ujarnya. Keputusan ini diambil setelah proses mediasi selama 30 hari dinyatakan gagal. Sarwendah sendiri sempat hadir di PN Jaksel pada Rabu (2/9) sekitar pukul 10.56 WIB, tapi harus pergi lebih dulu karena ada pemeriksaan rumah sakit. Ruben juga tak hadir, diwakili kuasa hukumnya, dengan alasan jadwal check-up yang sama.

Kegagalan mediasi dipicu oleh berbagai persoalan, mulai dari finansial hingga kesehatan anak yang saling disorot. Perkara ini bermula ketika Ruben menggugat Sarwendah pada 30 Juni 2026. Kini, semua mata tertuju pada sidang e-court yang akan menjadi penentu nasib anak-anak mereka.

Analisis Pakar

Nadia Putri โ€” Kasus ini bukan sekadar perceraian artis biasa. Ini adalah cerminan betapa kompleksnya dinamika keluarga di bawah sorotan publik, apalagi ketika harta, gengsi, dan kesehatan anak ikut menjadi taruhan. Ruben dan Sarwendah sama-sama figur publik yang punya citra besar, tapi justru di sinilah ironi terjadi: di tengah hiruk-pikuk pemberitaan, esensi kepentingan anak seolah tenggelam oleh ego masing-masing pihak.

Mari kita bedah. Ruben mengklaim tidak mendapat haknya sebagai ayah, bahkan menuding adanya eksploitasi dan lingkungan buruk. Namun, pernyataan ini masih sebatas dugaan. Di sisi lain, Sarwendah dinilai tidak memenuhi akta kesepakatan bersama. Tapi, apakah benar-benar solusi terbaik adalah memperebutkan hak asuh secara penuh? Bukankah anak-anak justru membutuhkan kehadiran kedua orang tua, bukan hanya salah satu? Saya khawatir, proses hukum yang berlarut-larut ini justru akan mengorbankan psikologis anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan.

Menarik juga melihat bahwa kedua pihak memilih untuk tidak hadir langsung dalam beberapa sidang karena alasan kesehatan. Apakah ini bentuk penghindaran atau memang prioritas? Publik tentu bertanya-tanya. Namun, satu hal yang pasti: mediasi gagal, dan e-court menjadi pilihan. Sistem ini memang efisien, tapi apakah cukup untuk menggali emosi dan fakta secara mendalam? Dalam kasus sensitif seperti ini, interaksi langsung seringkali lebih bermakna. Saya berharap hakim bisa menggali fakta secara objektif, tanpa terbawa euforia pemberitaan media.

Yang lebih menyayat hati, anak-anak menjadi korban utama. Mereka tidak bisa memilih, dan justru harus menerima kenyataan bahwa orang tua mereka bertikai di ruang sidang. Jika Ruben dan Sarwendah benar-benar mencintai anak-anak mereka, seharusnya mereka mengutamakan dialog, bukan gugatan. Saya mengajak keduanya untuk merenung: apakah kemenangan di pengadilan akan mengembalikan kebahagiaan keluarga? Atau justru meninggalkan luka yang tak terobati? Ini adalah ujian sejati bagi kedewasaan dan cinta kasih orang tua.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Apa alasan utama Ruben Onsu menggugat hak asuh anak terhadap Sarwendah?

Ruben menggugat karena merasa tidak mendapatkan haknya sebagai ayah, seperti kesepakatan waktu bersama anak 2-3 hari per minggu. Ia juga menduga adanya eksploitasi dan lingkungan yang tidak baik bagi anak, serta Sarwendah tidak memenuhi akta kesepakatan pasca-perceraian.

Mengapa sidang lanjutan dilakukan secara e-court dan siapa yang akan hadir?

Sidang e-court ditetapkan karena proses mediasi gagal dan untuk efisiensi. Pada sidang 9 September, pihak Sarwendah akan memberikan jawaban secara daring, sehingga tidak hadir fisik di pengadilan. Pihak Ruben juga diperkirakan tidak hadir langsung karena wakil kuasa hukum.

Apa dampak dari perebutan hak asuh ini terhadap anak-anak Ruben dan Sarwendah?

Dampaknya sangat besar, terutama secara psikologis. Anak-anak bisa merasa tertekan, kehilangan kestabilan, dan terjebak dalam konflik orang tua. Para ahli menyarankan agar kedua pihak mengutamakan kepentingan terbaik anak, bukan hanya kemenangan hukum, dengan tetap menjalin komunikasi dan kerja sama pengasuhan.

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ