Rahasia Lakban Coklat Eko Yuli: Titik Fokus yang Sumbang Puluhan Medali Olimpiade & Dunia!
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Ringkasan Singkat
- Eko Yuli Irawan menggunakan lakban sebagai titik fokus untuk menjaga konsentrasi saat latihan angkat besi.
- Teknik ini membantu atlet veteran itu meraih medali Olimpiade, emas dunia, dan berbagai gelar bergengsi lainnya.
- Para atlet Pelatnas PB PABSI kini meniru trik lakban, dan pelatih mengaku terbantu dengan ide sederhana namun efektif ini.
Suara 'Bak, Bik, Buk' dari plat baja bersautan menggema di sasana pemusatan latihan (Pelatnas) PB PABSI pada sebuah petang di Komplek Marinir, Jalan Kwini, Jakarta. Para atlet angkat besi tengah asyik dengan 'beban' masing-masing, seiring hitungan pekan jelang Asian Games 2026. Tak ada canda, tak ada tawa. Hanya peluh yang mengucur deras serta perintah pelatih untuk 'Angkat' lagi dan lagi. Sesekali erangan atlet terdengar setelah berhasil mengangkat bebannya. Kepala mereka sebentar menunduk, namun tak lama kemudian menatap satu titik: segaris lakban di dinding.
Apa sebab atlet perlu memelototi lakban berwarna coklat di tembok? CNNIndonesia.com bertanya pada sang pencetus sekaligus lifter veteran Indonesia, Eko Yuli Irawan. "Itu titik fokus saya," kata Eko, dengan senyum lebarnya. Mengapa lakban? Eko menjawab, karena barang tersebut kebetulan ada di tempat latihan. Mudah terlihat, menempel, dan fungsional. "Jadi dari awal saya latihan sebagai lifter, saya butuh yang namanya titik fokus untuk dilihat. Bentuknya bisa apa saja. Pokoknya benda mati," ujar Eko. "Kemudian di tempat latihan, ketemu lakban. Saya tempel dan itu membantu saya untuk menjaga pikiran tetap stabil. Karena dalam angkat besi bukan cuma kekuatan fisik, tapi juga pikiran. Di sini, di kepala," Eko menambahkan, sambil menunjuk pelipisnya.
Lakban tersebut ditaruh segaris lurus dengan pandangan atlet saat mengangkat beban. Atlet 37 tahun itu tak punya jarak tertentu, asal terlihat mata sudah cukup baginya. Cara itu sudah dilakukan Eko selama puluhan tahun menjadi lifter aktif. Bicara prestasi tak perlu ditanya. Medali Olimpiade, Emas Kejuaraan Dunia, Piala Dunia, Asian Games, SEA Games, dan sederet turnamen bergengsi lainnya sudah dirasakan.
Namun ada persoalan lain soal lakban dan kaitannya dengan titik fokus. Sebab di pertandingan, hal-hal seperti itu tak boleh dilakukan. Alhasil, Eko selalu mencari cara untuk menemukan titik fokusnya. "Sebelum bertanding biasanya atlet kan pengenalan dengan tempat dulu. Saya cari di situ titik fokusnya apa yang lurus dengan mata. Bisa kamera atau benda apapun," kata dia. Di satu sisi, Eko menceritakan momen unik ketika Olimpiade 2020 Tokyo yang bergulir di masa pandemi Covid-19. Saat itu, arena dibuat lebih gelap karena tak boleh ada penonton. Lampu hanya menyorot ke atlet yang berlaga, dan Eko berhasil meraih medali perak. "Waktu itu saya sulit cari titik fokus karena pandangan lurus ke depan gelap semua. Tapi ya mau tidak mau, saya membayangkan ada benda di sana. Memang berkat latihan dengan melihat lakban itu membantu saya untuk tetap fokus," ucap Eko.
'Taktik Lakban' itu pun dicontoh oleh atlet lain di sasana PB PABSI. Di berbagai sudut tembok, terlihat tempelan lakban dengan ragam bentuk, ada ukuran kecil seujung hari hingga bentuk 'X'. Masing-masing atlet punya caranya sendiri. Hal ini disadari oleh salah satu pelatih di Pelatnas PB PABSI, Samsuri. Dirinya justru merasa terbantu dengan ide Eko Yuli terhadap program latihan atlet. Samsuri memberi keleluasaan bagi atlet untuk menemukan ritme diri dalam berlatih. Baginya, menempel lakban adalah cara bagi anak didiknya untuk maksimal saat mengikuti programnya. "Ya, benar itu idenya dia [Eko]. Atlet lain malah ikut-ikut. Tapi memang, lakban itu membantu atlet selama latihan," tutur Samsuri.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat olahraga yang sudah mengikuti perjalanan angkat besi Indonesia sejak era Eko Yuli masih junior, saya bisa mengatakan bahwa trik lakban ini adalah cerminan dari kecerdasan dan kedewasaan seorang legenda. Angkat besi seringkali dipandang sebagai olahraga brute force, namun kenyataannya, aspek mental dan psikologis memegang porsi sangat besar. Eko, dengan pengalaman puluhan tahun, menemukan cara sederhana nan murah untuk menjebol kebuntuan konsentrasi. Ini bukan soal lakban, melainkan soal disiplin visual – sebuah teknik yang mirip dengan “soft focus” dalam meditasi atau “gaze stabilization” yang dipakai atlet tembak dan panahan. Luar biasa bahwa ia mampu mengadaptasi benda sepele di gym menjadi alat latihan mental yang ampuh.
Saya juga mengapresiasi pelatih Samsuri yang memberikan ruang kreativitas kepada atletnya. Di era pelatihan modern, pendekatan kaku sudah ketinggalan zaman. Justru dengan memberi kebebasan seperti ini, atlet dapat menemukan ritme dan ritual pribadi yang membuat mereka lebih percaya diri. Eko telah menjadi role model tidak hanya lewat prestasi, tetapi juga lewat inovasi kecil yang berdampak besar. Ketika atlet junior melihat Eko menempel lakban dan kemudian berhasil meraih medali, mereka secara otomatis meniru, dan itu menjadi budaya positif di Pelatnas. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan di dalam tim tidak harus selalu dari pelatih; seorang atlet senior bisa menjadi motor perubahan.
Namun, ada catatan kritis yang perlu disorot. Ketergantungan pada titik fokus fisik bisa menjadi kelemahan ketika berada di arena yang tidak mendukung, seperti yang dialami Eko di Olimpiade Tokyo 2020. Saat itu, ia harus mengandalkan imajinasi karena arena gelap. Ini menandakan bahwa latihan mental juga perlu memasukkan skenario tanpa titik fokus visual. Eko berhasil mengatasinya, tetapi atlet lain yang baru meniru teknik lakban mungkin belum memiliki kapasitas imajinasi yang sama. Oleh karena itu, pelatih harus mengintegrasikan latihan konsentrasi dalam berbagai kondisi, termasuk tanpa alat bantu, agar mental atlet tidak kaget di kejuaraan besar. Eko sendiri adalah contoh bahwa pengalaman dan jam terbang membuatnya fleksibel, namun untuk generasi penerus, perlu ada program penguatan mental yang lebih terstruktur.
Terakhir, saya salut dengan konsistensi Eko di usia 37 tahun. Di usia yang umumnya lifter mulai menurun, ia masih menjadi andalan dan bahkan berbagi ilmunya. Ini adalah warisan tak ternilai untuk angkat besi Indonesia. Saya yakin, trik lakban ini akan menjadi cerita klasik yang diwariskan turun-temurun, seperti halnya gaya angkatan atau teknik pernapasan. Jika saja setiap atlet punya satu kebiasaan kecil yang ampuh seperti ini, maka persiapan Asian Games 2026 akan jauh lebih matang. Mari kita doakan agar para penerus Eko mampu membawa pulang emas, dan siapa tahu, lakban-lakban di dinding itu menjadi saksi lahirnya juara-juara baru.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa fungsi lakban bagi Eko Yuli Irawan saat latihan?
A: Lakban berfungsi sebagai titik fokus visual untuk menjaga konsentrasi dan stabilitas pikiran saat mengangkat beban, membantu mengalihkan perhatian dari rasa berat dan lelah. - Q: Apakah atlet lain di Pelatnas PB PABSI juga menggunakan trik lakban?
A: Ya, banyak atlet lain meniru trik ini. Mereka menempel lakban dengan berbagai bentuk seperti titik kecil atau huruf X di dinding sebagai titik pandang masing-masing. - Q: Bagaimana Eko Yuli mencari titik fokus saat bertanding jika tidak boleh memasang lakban?
A: Saat bertanding, Eko mencari objek yang berada segaris dengan pandangan matanya, seperti kamera, papan skor, atau benda mati lainnya. Bahkan dalam kondisi gelap, ia membayangkan titik fokus tersebut.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Liga Champions Matchday 4: Barcelona Tantang Aston Villa, MU Menjamu Roma

Kendala Teknis Motor Cederai Peluang Almansa di Sepang, Senggolan Danish Bikin Gagal Podium
Kimi Antonelli Cetak Sejarah sebagai Juara Dunia Formula One Termuda
