Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Pidato Prabowo di Rusia Bongkar 'Perang Dingin Baru': Rantai Pasok Global Resmi Jadi Senjata!

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Pidato Prabowo di Rusia Bongkar 'Perang Dingin Baru': Rantai Pasok Global Resmi Jadi Senjata!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo Subianto di Forum Ekonomi Timur ke-11 (EEF) di Vladivostok menyebut perdagangan global saat ini digunakan sebagai senjata oleh negara-negara tertentu.
  • Prabowo menyoroti terfragmentasinya geopolitik dunia yang membentuk ulang rantai pasok global berdasarkan kecurigaan, bukan lagi efisiensi.
  • Indonesia mendorong pentingnya diversifikasi arsitektur keuangan global agar tidak bergantung pada satu sistem pembayaran saja, demi menjaga kelancaran perdagangan internasional.

Vladivostok – Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik tajam terhadap kondisi ekonomi dan geopolitik global saat berpidato di Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11 yang digelar di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). Di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku usaha, Prabowo menegaskan bahwa dunia sedang memasuki era 'perang dingin' baru, di mana instrumen ekonomi mulai digunakan sebagai senjata.

"Kita bertemu pada masa yang sulit. Saat ini perdagangan berkali-kali digunakan sebagai senjata," tegas Prabowo, melukiskan realitas pahit yang tengah dihadapi banyak negara berkembang.

Menurut Prabowo, ketegangan geopolitik yang meruncing telah memaksa negara-negara untuk memikirkan ulang strategi ekonomi mereka. Rantai pasok global yang selama puluhan tahun dibangun atas dasar efisiensi dan saling ketergantungan, kini perlahan mulai dirombak.

"Rantai pasok dibentuk kembali berdasarkan kecurigaan. Keuangan terpecah berdasarkan geografi," ujar Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya tersebut, menyiratkan bagaimana blok-blok ekonomi raksasa dunia kini mulai membangun tembok proteksi.

Kendati demikian, alih-alih pesimistis, Prabowo melihat fragmentasi ini sebagai peluang emas untuk membangun jembatan-jembatan kerja sama baru yang lebih konkret. Ia mengajak negara-negara yang hadir agar memperkuat kolaborasi di berbagai sektor vital.

"Justru karena dunia sedang terfragmentasi, setiap jembatan yang dibangun di sini dalam bidang pangan, energi, ilmu pengetahuan, logistik, dan perdagangan merupakan jawaban praktis," tutur Prabowo.

Tak hanya menyoroti soal barang dan jasa, Prabowo juga memberikan perhatian serius terhadap sistem keuangan internasional. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak boleh menaruh kepercayaan mutlak pada satu arsitektur keuangan saja, karena kerentanan terhadap satu titik kegagalan (single point of failure) bisa melumpuhkan seluruh lalu lintas perdagangan.

"Kita tidak boleh bergantung pada satu arsitektur keuangan karena jika satu sistem terganggu, sistem lain harus tetap mampu memfasilitasi aliran dana yang menjaga perdagangan tetap berjalan," paparnya.

Prabowo menekankan pentingnya kanal pembayaran dan mekanisme penyelesaian transaksi (settlement) yang kokoh agar roda ekonomi internasional tidak mudah macet saat terjadi guncangan geopolitik. Namun, ia buru-buru mengklarifikasi bahwa diversifikasi ini bukan berarti menciptakan tatanan baru untuk menggantikan sistem lama.

"Melainkan memastikan bahwa sistem keuangan global lainnya dapat beroperasi berdampingan dengan pengaturan yang sudah ada untuk menjaga kesinambungan, stabilitas, dan kepercayaan dalam perdagangan internasional," jelasnya.

Analisis Pakar

Pidato Prabowo di Vladivostok ini sejatinya bukan sekadar retorika diplomatik belaka, melainkan sebuah cerminan mendalam (mirror) dari realitas ekonomi internasional yang sedang dihadapi Indonesia dan negara-negara Global South. Menyebut perdagangan sebagai 'senjata' merupakan pernyataan yang sangat berani dan jujur. Kita tengah menyaksikan masifnya penerapan kebijakan tarif, embargo teknologi, hingga pembekuan aset (seperti yang sering terjadi dalam dinamika hubungan AS-Tiongkok), yang menunjukkan bahwa ekonomi tidak lagi bicara soal untung-rugi semata, melainkan sudah menjadi instrumen proyeksi kekuasaan (power projection) sebuah negara.

Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20, Indonesia tentu memiliki 'kulit' yang sangat terdampak dalam gesekan blok ekonomi ini. Pernyataan Prabowo bahwa 'rantai pasok dibentuk berdasarkan kecurigaan' adalah fakta empiris. Kita bisa melihat bagaimana kebijakan *reshoring* dan *nearshoring* di negara maju membuat banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, harus memutar otak agar tidak sekadar menjadi penonton dalam perubahan peta manufaktur dunia. Di sinilah peran diplomasi ekonomi, seperti yang ditunjukkan lewat keikutsertaan di EEF, menjadi sangat krusial untuk menarik investasi dan membangun *supply chain* yang lebih resilien.

Dari sisi arsitektur keuangan, imbauan Prabowo agar dunia tidak bergantung pada satu sistem keuangan sangat relevan, terutama melihat ketegangan geopolitik yang kerap kali berdampak pada stabilitas mata uang dan kelancaran transaksi lintas batas (*cross-border transactions*). Indonesia sendiri saat ini sedang gencar membangun kerja sama *Local Currency Settlement* (LCS) dengan Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan sebagai langkah mitigasi. Ini adalah langkah konkret agar rupiah tidak terlalu 'terjebak' dalam dinamika dolar AS yang sangat rentan dimanfaatkan sebagai senjata oleh negara adidaya. Diversifikasi sistem pembayaran ini pada akhirnya adalah soal kedaulatan ekonomi.

Secara keseluruhan, pidato ini menunjukkan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo tengah menjalankan politik luar negeri yang sangat pragmatis namun strategis. Indonesia tidak ingin terjebak dalam dikotomi blok Barat versus Timur, melainkan ingin tampil sebagai 'jembatan'β€”seperti yang digaungkan Prabowo. Membangun kerja sama di sektor pangan, energi, dan logistik dengan berbagai pihak adalah manifestasi dari konsep 'bebas dan aktif' yang diadaptasi ke dalam konteks gejolak geopolitik era modern. Pesan utamanya jelas: di tengah dunia yang terfragmentasi, kerja sama konkret (pragmatis) adalah satu-satunya jalan agar negara berkembang tidak menjadi tumbal dari perang dingin versi baru.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Kapan dan di mana Prabowo menyampaikan pidato tentang perdagangan sebagai senjata?
A: Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato tersebut pada Kamis (3/9/2026) di Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11 yang diselenggarakan di Vladivostok, Rusia.

Q: Apa makna pernyataan Prabowo bahwa perdagangan digunakan sebagai senjata?
A: Pernyataan tersebut merujuk pada praktik beberapa negara besar yang menggunakan kebijakan tarif, embargo, dan sanksi ekonomi untuk menekan negara lain demi kepentingan geopolitik, sehingga perdagangan tidak lagi murni soal bisnis melainkan alat kekuasaan.

Q: Mengapa Prabowo menekankan pentingnya sistem keuangan global yang beragam?
A: Prabowo menekankan hal tersebut guna mengantisipasi risiko jika terjadi gangguan pada satu sistem keuangan dominan (misalnya dolar AS), agar aktivitas perdagangan dan investasi internasional tetap bisa berjalan normal tanpa terhambat oleh tekanan politik dari satu negara adidaya.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸