Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gaethje Nekat Tolak Revans Demi Bungkam McGregor Sebelum Pensiun!

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Gaethje Nekat Tolak Revans Demi Bungkam McGregor Sebelum Pensiun!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Justin Gaethje, juara kelas ringan UFC, mengaku kariernya tak lama lagi dan sedang menyeleksi lawan terakhir.
  • Meski banyak penantang berat (Topuria, Tsarukyan, Oliveira, Holloway), Gaethje justru ingin menghadapi Conor McGregor untuk membungkam mulutnya.
  • Gaethje menolak revans dengan Oliveira atau Holloway karena keduanya sudah dikalahkan Topuria, sehingga ia merasa tak perlu membalas kekalahan itu.

Juara kelas ringan UFC, Justin Gaethje, punya rencana mengejutkan sebelum gantung sarung tangan. Di usia 38 tahun yang akan datang, petarung berjuluk The Highlight ini tak mau sekadar mempertahankan sabuk—ia ingin mengakhiri karier dengan aksi spektakuler yang akan dikenang sepanjang masa. Salah satu nama yang paling menggoda? Conor McGregor, sang raja trash talk yang selama ini selalu membuat gaduh di dunia bela diri.

Usai mengalahkan Ilia Topuria di UFC Freedom 250 pada Juni lalu, Gaethje kini menjadi buruan para petarung papan atas. Nama-nama seperti Arman Tsarukyan, Charles Oliveira, Max Holloway, hingga Paddy Pimblett siap mengincar sabuknya. Namun, dalam wawancaranya dengan CBS Sports yang dikutip MMAmania, Gaethje justru mengaku tak terlalu memikirkan lawan spesifik. "Saya tahu petarung-petarung terbaik dunia sedang mengincar saya. Itulah intinya," ujarnya.

Yang menarik, Gaethje secara terbuka menolak rencana revans melawan Oliveira atau Holloway—dua nama yang pernah menyulitkannya. Alasannya? Topuria sudah lebih dulu mengalahkan keduanya, sehingga Gaethje merasa kekalahan lama itu telah "terbalaskan" secara tidak langsung. "Saya akan menganggapnya seolah-olah saya telah membalaskan kekalahan itu," katanya.

Dengan begitu, pintu terbuka lebar untuk duel impian: Gaethje vs McGregor. "Saya rasa McGregor, akan menyenangkan untuk membungkam mulutnya," ucap Gaethje dengan percaya diri. Meski McGregor sedang dalam masa pemulihan dan belum menunjukkan performa terbaiknya, Gaethje melihat ini sebagai kesempatan emas untuk menutup karier dengan gaya—dan sekaligus menutup mulut si Notorious untuk selamanya.

Namun, keputusan ini tetap dalam pertimbangan tim dan keluarga. Gaethje menegaskan bahwa ia tak tahu kapan pensiun, dan akan menjalani satu pertarungan demi satu—dengan semua diskusi diserahkan kepada orang-orang terdekatnya. "Saya sangat mengandalkan tim dan keluarga saya," tambahnya.

Analisis Pakar

Keputusan Justin Gaethje untuk lebih memilih Conor McGregor daripada revans melawan Oliveira atau Holloway adalah langkah yang sangat menarik—dan sekaligus kontroversial—di mata pengamat taktis. Dari sudut pandang strategi murni, McGregor saat ini bukanlah ancaman terbesar di divisi ringan. Ia sudah lama absen dari kancah perebutan gelar, dan rekor terakhirnya tidak menunjukkan dominasi. Namun, Gaethje bukan tipe petarung yang hanya mengejar angka atau ranking—ia mengejar legacy dan sensasi. Dan di sinilah letak kejeniusannya: duel melawan McGregor akan menjamin bayaran besar, sorotan global, dan jika menang, ia akan tercatat sebagai orang yang berhasil membungkam mulut terbesar di MMA.

Dari sisi taktik, Gaethje pasti sadar bahwa gaya bertarung McGregor—yang mengandalkan counter punching dan jarak—sebenarnya cocok dengan permainan tekan dan leg kicks khas Gaethje. Selama Gaethje bisa menjaga jarak dan menghindari left hand kanan McGregor, ia punya peluang besar untuk mendominasi. Ditambah lagi, McGregor rentan terhadap serangan ke kaki, dan Gaethje adalah salah satu penendang terbaik di divisi ini. Jadi, secara taktis, ini bukan pilihan gila—justru sangat masuk akal.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah sisi mental. McGregor adalah ahli permainan psikologis. Gaethje sendiri mengakui bahwa ia ingin "membungkam mulutnya"—itu berarti ia sudah terpancing. Dalam pertarungan level tinggi, emosi bisa menjadi pisau bermata dua. Gaethje harus tetap tenang dan tidak terbawa adu kata, karena McGregor akan mencoba membuatnya emosional dan kehilangan pola serangan. Jika Gaethje mampu menjaga kepala dingin, saya yakin ia bisa mengakhiri duel di ronde ketiga melalui TKO akibat leg kicks yang menghancurkan.

Terakhir, soal pensiun—ini adalah langkah yang bijak. Di usia 38, Gaethje sudah tidak perlu lagi membuktikan apa pun kecuali sebagai legenda. Memilih lawan yang ikonik seperti McGregor adalah cara paling elegan untuk menutup karier, sekaligus memberi hadiah terbaik untuk penggemar. Saya mendukung keputusannya, asalkan timnya memastikan bahwa kesepakatan kontrak dan jadwal benar-benar matang. Ini bukan sekadar duel; ini adalah momen sejarah yang akan menentukan bagaimana kita mengingat Justin Gaethje—apakah sebagai juara bertahan yang hati-hati, atau sebagai petarung pemberani yang menutup kisahnya dengan dentuman paling keras.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan Justin Gaethje akan bertarung melawan Conor McGregor?
    A: Belum ada tanggal resmi. Gaethje baru menyatakan ketertarikannya, dan UFC masih dalam tahap negosiasi. Kemungkinan besar di awal 2027 jika keduanya sehat.
  • Q: Apakah Gaethje tetap menjadi juara kelas ringan jika melawan McGregor?
    A: Ya, sabuknya dipertaruhkan. McGregor harus masuk peringkat top 5 untuk mendapatkan kesempatan, atau UFC bisa membuat pengecualian jika duel ini dianggap besar secara komersial.
  • Q: Mengapa Gaethje menolak revans dengan Oliveira dan Holloway?
    A: Karena keduanya sudah dikalahkan oleh Ilia Topuria, sehingga Gaethje merasa kekalahan lamanya secara tidak langsung sudah terbalaskan dan tidak perlu dibuktikan lagi lewat revans.
Meow! Tanya Nesi!
😸