Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Berhenti Obral Bahan Mentah! Mengapa 'Hilirisasi' ala Indonesia Masih Jauh dari Kata 'Sukses' Menurut Pakar UI

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Berhenti Obral Bahan Mentah! Mengapa 'Hilirisasi' ala Indonesia Masih Jauh dari Kata 'Sukses' Menurut Pakar UI
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • RESSED UI menegaskan hilirisasi bukan sekadar membangun smelter, melainkan integrasi rantai pasok dari hulu tambang hingga produk akhir industri.
  • Indonesia memiliki cadangan mineral strategis raksasa (42% nikel global), namun masih terjebak pada ekspor bahan mentah yang nilai tambahnya rendah.
  • Pemerintah mendorong substitusi impor melalui produksi dalam negeri (misal: kabel bawah laut) untuk memperkuat kedaulatan ekonomi.

Jakarta, CNBC Indonesia - Ali Ahmudi, Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI), melontarkan kritik tajam terkait arah sektor pertambangan nasional. Menurutnya, Indonesia harus segera meninggalkan 'mentalitas pedagang bahan mentah' dan beralih ke model hilirisasi terintegrasi yang mampu menciptakan nilai tambah signifikan di dalam negeri.

Ali menekankan bahwa hilirisasi sejati bukan sekadar berdirinya pabrik pemurnian (smelter). "Hilirisasi itu bukan hanya membangun smelter. Harus ada kepastian suplai dari hulu, kemudian hasil olahannya juga harus tersambung ke industri hilir sampai menjadi produk akhir," tegasnya. Tanpa koneksi hulu-hilir yang solid, kekayaan mineral seperti batu bara dan nikel hanya akan menjadi komoditas mentah yang dijual murah ke pasar global.

Secara data, Indonesia memang sedang berada di posisi strategis. Dengan menguasai 42% cadangan nikel dunia, serta posisi teratas untuk timah dan peringkat atas untuk bauksit, emas, dan tembaga, negeri ini memiliki modal besar. Namun, Ali menyayangkan masih adanya cadangan strategis yang dikuasai pihak asing, meski sebagian besar sudah di bawah MIND ID sebagai BUMN Holding Pertambangan.

Senada dengan visi tersebut, Ahmad Erani Yustika dari Satuan Tugas Hilirisasi menyebut bahwa Prabowo Subianto menetapkan dua target utama: menaikkan nilai tambah dan memangkas ketergantungan impor. Contohnya adalah kabel bawah laut yang selama ini diimpor, padahal Indonesia kaya tembaga. "Kalau dulu kita impor, maka kita produksi sendiri. Kalau ada sisa baru ekspor," tutup Erani.

Analisis Pakar

Sebagai pelaku industri dan pemerhati makroekonomi, saya melihat wacana hilirisasi ini sudah saatnya lepas dari retorika politis dan masuk ke tahap eksekusi teknis yang brutal. Selama ini, kita terjebak dalam euforia 'pembangunan smelter' sebagai simbol kemajuan, padahal smelter hanyalah titik tengah (midstream). Jika industri hilir kita—seperti pabrik baterai kendaraan listrik atau manufaktur komponen elektronik—tidak tumbuh seiring dengan kapasitas pemurnian, maka kita hanya akan berakhir menjadi 'tukang olah' bagi industri asing, bukan pemilik nilai.

Masalah kepemilikan juga krusial. Regulasi yang mewajibkan peningkatan kepemilikan nasional melalui MIND ID harus dibarengi dengan efisiensi tata kelola. Jangan sampai kita menguasai cadangan, namun tidak memiliki teknologi dan pasar. Jika kita hanya mengandalkan BUMN tanpa sinergi dengan investor strategis yang membawa teknologi transfer, UUD 1945 Pasal 33 hanya akan menjadi tinta mati di atas kertas.

Lebih lanjut, strategi substitusi impor yang digaungkan pemerintah adalah langkah logis namun penuh risiko. Menghentikan impor kabel bawah laut untuk menggunakan produksi dalam negeri memerlukan standar kualitas yang setara dengan pasar global. Jika proteksi domestik justru memicu inefisiensi karena tidak adanya kompetisi, kita berisiko membuat industri kita menjadi 'anak emas' yang rapuh saat menghadapi tekanan ekonomi global.

Intinya, hilirisasi adalah maraton, bukan lari sprint 100 meter. Kita butuh ekosistem yang menyambung, regulasi yang adil, dan kemampuan menyerap produk akhir di pasar domestik maupun internasional. Jika tidak, kita hanya sedang membangun monumen beton di tengah hutan tambang yang tidak memberikan kesejahteraan nyata bagi rakyat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa yang dimaksud dengan hilirisasi tambang?
A: Hilirisasi adalah proses mengolah bahan tambang mentah menjadi produk setengah jadi atau produk jadi untuk meningkatkan nilai jual sebelum dipasarkan.

Q: Mengapa Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar namun masih impor produk turunannya?
A: Karena selama ini fokus lebih banyak pada ekspor bijih mentah atau smelter dasar, sementara industri hilir (pembuatan baterai/barang jadi) masih terbatas dan bergantung pada pasokan luar negeri.

Q: Apa peran MIND ID dalam hilirisasi nasional?
A: MIND ID sebagai BUMN Holding Pertambangan berperan mengonsolidasikan cadangan strategis negara untuk memastikan pengelolaan mineral memberikan nilai tambah maksimal bagi perekonomian nasional.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸