Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Autopsy: Dead Body Can Talk – Ketika Mayat Bisa 'Bicara'? Kisah Nyata Dokter Forensik Indonesia yang Bikin Merinding!

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: CNN Selebriti
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Autopsy: Dead Body Can Talk – Ketika Mayat Bisa 'Bicara'? Kisah Nyata Dokter Forensik Indonesia yang Bikin Merinding!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Film Autopsy: Dead Body Can Talk diangkat dari perjalanan nyata dr. Sumy Hastry Purwanti, dokter forensik polisi wanita pertama di Asia yang bergelar doktor.
  • Dibintangi Masayu Anastasia sebagai dr. Sumy, film ini bukan horor supranatural, melainkan thriller psikologis yang menguji sains vs firasat.
  • Rilis 3 September dengan label D17+, film ini menggandeng konsultan forensik untuk menjaga akurasi prosedur medis dan detail jasad.

Pernah kepikiran, gimana rasanya jadi dokter forensik yang setiap hari berhadapan dengan mayat? Autopsy: Dead Body Can Talk siap membawa kamu ke dalam dunia mencekam sekaligus menegangkan dari sudut pandang Sumy Hastry Purwanti, seorang spesialis forensik kepolisian yang kariernya benar-benar nyata. Film terbaru garapan Ozan Ruz ini bukan sekadar tontonan horor biasa, tapi lebih ke tekanan psikologis dan perdebatan seru antara bukti ilmiah dan naluri seorang ahli.

Masayu Anastasia berperan sebagai dr. Sumy, yang harus mengungkap berbagai kematian tidak wajar—dari kasus mutilasi perempuan tanpa identitas hingga ekshumasi kematian ibu dan anak di Subang. Dibantu asisten setia Yatna (Riyuka Bunga) dan pembuat film dokumenter Mojo (Ge Pamungkas), dr. Sumy mulai merasakan firasat-firasat aneh yang sulit dijelaskan secara logika. Sementara itu, penyidik Rendra (Teuku Rifnu Wikana) justru meragukan metode intuitifnya dan lebih percaya pada fakta fisik. Konflik ini yang bikin cerita makin greget!

Nggak cuma drama investigasi, film ini juga menyoroti bagaimana dr. Sumy harus menjaga integritas, keluarga, dan kredibilitas profesionalnya. Apakah sains dan perasaan bisa berjalan seiring demi keadilan? Itu pertanyaan besar yang akan menggelitik penonton.

Di balik layar, tim produksi benar-benar serius—mereka mendatangkan konsultan forensik untuk melatih pemain dan memastikan tata rias prostetik mirip asli. Jadi, siap-siap melihat detail luka dan jasad yang bikin merinding! Autopsy: Dead Body Can Talk tayang 3 September di bioskop, dan cocok banget buat kamu yang doyan thriller medis dengan sentuhan misteri.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat budaya pop, saya salut dengan keberanian Ozan Ruz mengangkat kisah nyata dr. Sumy Hastry Purwanti—seorang Polri berpangkat perwira tinggi sekaligus perempuan pertama di Asia yang meraih gelar doktor forensik. Film ini punya potensi besar untuk mengedukasi publik tentang betapa kompleksnya pekerjaan forensik di Indonesia, yang seringkali cuma dilihat dari sisi sensasional di layar kaca. Dengan mengusung 'ketegangan psikologis' bukan 'horor supranatural', Autopsy memberi ruang bagi penonton untuk menghargai sains, tapi juga mengakui bahwa intuisi—terutama dari praktisi berpengalaman—bisa menjadi alat yang tak kalah penting.

Saya tertarik pada bagaimana film ini mempertanyakan batas antara logika dan naluri. Kasus-kasus nyata yang ditangani dr. Sumy, seperti identifikasi Noordin M. Top dan Dulmatin, serta teka-teki pembunuhan Subang, menunjukkan bahwa dunia forensik tak selalu hitam-putih. Ada dimensi psikologis dan emosional yang memengaruhi pengambilan keputusan. Namun, saya juga penasaran apakah film ini akan terjebak dalam romantisme 'firasat' tanpa cukup menonjolkan metode ilmiah yang ketat. Untungnya, dengan melibatkan konsultan forensik, setidaknya akurasi prosedur medis tetap terjaga—ini langkah cerdas agar film tidak kehilangan kredibilitas.

Dari sisi penceritaan, konflik antara dr. Sumy dan penyidik Rendra adalah cerminan nyata dari perdebatan di dunia kriminalistik: ilmu pengetahuan vs pengalaman lapangan. Saya harap film ini memberi porsi yang seimbang, tidak membuat sains terlihat dingin atau intuisi terkesan mistis. Lagipula, label D17+ menandakan bahwa film ini menyasar penonton dewasa yang siap diajak berpikir kritis. Menarik juga untuk melihat bagaimana sorotan pada kehidupan pribadi dr. Sumy—keluarga dan integritas—akan membangun kedalaman karakter, karena selama ini tokoh forensik sering digambarkan sebagai robot tanpa emosi.

Terakhir, saya rasa Autopsy bisa menjadi tren baru bagi film Indonesia: mengadaptasi kisah nyata dari profesi yang jarang diekspos, tanpa mengandalkan jumpscare. Jika berhasil, ini bisa membuka jalan bagi lebih banyak film bertema sains dan keadilan yang dikemas menghibur. Tapi tentu, semua bergantung pada eksekusi dan bagaimana penonton menerima ending yang (mungkin) tidak sepenuhnya 'happy'. Saya sendiri sudah tidak sabar menyaksikan bagaimana Masayu Anastasia membawakan peran berat ini—semoga filmnya sehidup cerita aslinya!

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah film Autopsy: Dead Body Can Talk benar-benar kisah nyata?
    A: Ya, film ini diadaptasi dari perjalanan karier dr. Sumy Hastry Purwanti, dokter forensik Polri yang telah menangani berbagai kasus besar nasional dan internasional selama lebih dari 25 tahun.
  • Q: Siapa saja pemain utama di film ini?
    A: Film dibintangi Masayu Anastasia sebagai dr. Sumy, Samuel Rizal, Teuku Rifnu Wikana, Ge Pamungkas, Riyuka Bunga, dan Indra Frimawan.
  • Q: Kapan film Autopsy: Dead Body Can Talk tayang di bioskop?
    A: Film ini akan rilis pada 3 September dan menyasar penonton usia 17 tahun ke atas (D17+).

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
😸