Trauma Sinabung: Ratusan Warga Kuta Tengah Enggan Pulang, Bayang-bayang Pengungsian Abadi Menghantui

Ringkasan Singkat
- Sebanyak 490 warga Desa Kuta Tengah dievakuasi ke Desa Sukatepu akibat peningkatan status aktivitas Gunung Sinabung.
- Warga mengalami trauma mendalam akibat siklus erupsi sejak 2010, membuat mereka enggan kembali ke rumah meski situasi mungkin berubah.
- PVMBG menaikkan status waspada setelah terdeteksi kolom abu setinggi 3.500 meter dan gempa vulkanik berkelanjutan.
KARO – Ketakutan bukan sekadar reaksi spontan, melainkan luka lama yang terbuka kembali bagi warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Pasca peningkatan status aktivitas Gunung Sinabung, ratusan warga memilih bertahan di pengungsian Desa Sukatepu daripada harus bertaruh nyawa kembali ke rumah mereka.
Roy Sembiring, salah satu pengungsi yang membawa serta istri, orang tua, dan kedua anaknya, mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengungsi adalah pilihan rasional di tengah ketidakpastian. Bagi Roy, memori kelam erupsi tahun 2010 yang memaksanya berpindah-pindah lokasi pengungsian selama satu dekade adalah trauma yang tak terhapuskan. Ia baru bisa menetap kembali di Kuta Tengah pada tahun 2020, namun kini ancaman itu kembali hadir.
"Kami diminta pemerintah untuk mengungsi, kami mau karena takut juga erupsi susulan," ujar Roy dengan nada getir, menggambarkan betapa rapuhnya rasa aman warga di zona merah.
Senada dengan Roy, Eva Br Sinulingga mengungkapkan kekhawatiran yang sama. Ia berharap aktivitas vulkanik segera mereda, namun ada ketakutan besar bahwa mereka akan terjebak dalam siklus pengungsian bertahun-tahun seperti masa lalu. "Jangan sampai seperti yang lalu bertahun-tahun di pengungsian," tuturnya.
Keresahan warga ini beralasan. Berdasarkan data PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, status Gunung Sinabung resmi ditingkatkan sejak 31 Agustus 2026. Keputusan ini diambil setelah gunung api tersebut memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 3.500 meter dan mencatat aktivitas gempa vulkanik yang terjadi secara kontinu. Sebanyak 490 jiwa telah dievakuasi oleh Satgas ke lokasi yang lebih aman di Kecamatan Naman Teran.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati pola bencana di Indonesia, saya melihat fenomena di Karo ini bukan sekadar masalah mitigasi bencana teknis, melainkan masalah trauma sistemik. Pemerintah seringkali hanya fokus pada evakuasi fisik (memindahkan orang dari titik A ke titik B), namun abai terhadap rehabilitasi psikologis warga yang telah hidup dalam ketidakpastian selama belasan tahun. Kasus Roy Sembiring adalah bukti nyata bahwa 'rumah' bagi warga Sinabung bukan lagi tempat berlindung, melainkan sumber kecemasan.
Kritik saya tertuju pada manajemen jangka panjang penanganan pengungsi. Mengapa pola 'pindah-pindah pengungsian' bisa terjadi sejak 2010 hingga 2020? Ini menunjukkan adanya kegagalan dalam perencanaan tata ruang berbasis risiko bencana. Seharusnya, pemerintah sudah memiliki solusi permanen berupa relokasi total bagi warga yang tinggal di zona bahaya tinggi, bukan sekadar memberikan tenda darurat atau shelter sementara yang justru memperpanjang penderitaan mental warga.
Selain itu, komunikasi risiko dari PVMBG dan pemerintah daerah harus lebih transparan dan humanis. Warga tidak boleh hanya diberi tahu 'untuk mengungsi', tetapi harus diberikan kepastian mengenai kapan mereka bisa pulang dan apa jaminan keamanan yang diberikan negara. Jika pola penanganan hanya bersifat reaktif—ada erupsi lalu evakuasi, reda lalu pulang—maka kita hanya sedang memelihara trauma kolektif yang akan meledak menjadi apatisme warga terhadap instruksi pemerintah di masa depan.
Negara harus hadir bukan hanya sebagai petugas evakuasi, tetapi sebagai penjamin hidup yang layak. Relokasi permanen dengan penyediaan lahan produktif baru adalah satu-satunya jalan keluar agar warga tidak lagi dihantui ketakutan akan 'pengungsian abadi'. Jangan sampai kita baru bertindak setelah jatuh korban jiwa, karena pada titik itu, mitigasi sudah terlambat dan hanya menjadi formalitas administratif belaka.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Mengapa warga Desa Kuta Tengah enggan kembali ke rumah mereka?
A: Karena adanya trauma mendalam akibat erupsi berulang sejak tahun 2010 yang membuat mereka harus berpindah-pindah pengungsian selama bertahun-tahun.
Q: Apa penyebab peningkatan status Gunung Sinabung baru-baru ini?
A: Peningkatan status dipicu oleh munculnya kolom abu setinggi 3.500 meter dan terekamnya aktivitas gempa vulkanik yang berlangsung secara berkelanjutan.
Q: Berapa jumlah warga yang dievakuasi dan ke mana mereka dibawa?
A: Sebanyak 490 warga dievakuasi oleh Satgas dari Desa Kuta Tengah menuju lokasi pengungsian di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Ditlantas Polda Metro Buka Dua Gerai SIM Keliling di Jakarta pada Minggu

Polda Metro Siagakan Lima Kantong Parkir Besar untuk Jaga Ketertiban Apel Akbar Palestina di Monas

Kapolda Metro Tekankan Penataan Lingkungan sebagai Kunci Akar Permasalahan Narkoba di Kampung Muara Bahari
