Pulau Sembur Kini Terang 24 Jam: Pertamina NRE Siap Replikasi ke 10.000 Desa dengan PLTS+ Baterai
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Pertamina NRE berhasil membangun PLTS 1 MW dan baterai 1 MWh di Pulau Sembur, Kepri, yang memberi listrik 24 jam untuk 200 rumah dan aktivitas ekonomi.
- Sebelumnya warga hanya bergantung pada genset dengan bahan bakar mahal dan sulit didapat; kini nelayan bisa menyimpan ikan dengan cold storage sehingga harga jual meningkat.
- Perusahaan terbuka untuk mereplikasi model ini ke 10.000 desa lain yang masih belum teraliri listrik, dengan teknologi yang disesuaikan kondisi setempat.
Batam, 2 September 2026 – Pertamina New & Renewable Energy (NRE) kembali menorehkan langkah konkret dalam transisi energi nasional. Kali ini, keberhasilan diraih di Pulau Sembur, Kepulauan Riau, yang selama ini gelap gulita kecuali dari genset berbahan bakar solar. Kini, berkat sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 1 megawatt (MW) yang dipadu baterai 1 megawatt hour (MWh), pulau yang hanya berjarak satu jam perjalanan dari Singapura itu menikmati aliran listrik hampir 24 jam nonstop.
“Dulu mereka pakai diesel, tapi di pulau terpencil, bahan bakar harus diangkut pakai perahu, antre, dan harganya melambung. Dengan 1 MW dan baterai 1 MWh, kami bisa memberi listrik yang stabil sepanjang hari,” ujar CEO Pertamina NRE John Anis dalam ajang Indo EBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran, Rabu (2/9). Ia menambahkan bahwa proyek ini bukan sekadar penerangan, melainkan upaya mendorong demigrasi sumber daya manusia – yaitu membalikkan arus urbanisasi dengan menghidupkan ekonomi desa.
Dampak langsung terasa bagi sekitar 200 kepala keluarga yang mayoritas nelayan. Dengan listrik 24 jam, mereka kini bisa mengoperasikan cold storage dan ice maker untuk mengawetkan tangkapan ikan. Sebelumnya, ikan hanya bertahan beberapa jam sehingga harga jualnya murah. “Sekarang ikan bisa bertahan lebih lama, nilai tambahnya meningkat, dan pendapatan nelayan naik,” jelas John. Selain itu, Pertamina NRE juga mulai menguji coba perahu listrik yang dapat diisi ulang dari PLTS, membuka peluang transportasi laut yang lebih ramah lingkungan.
Kesuksesan ini menjadi model percontohan yang siap direplikasi. John Anis menegaskan bahwa pihaknya terbuka untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan swasta untuk menerangi 10.000 desa lain yang masih belum menikmati listrik – sebagaimana disinggung Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung. Teknologi yang digunakan bisa berupa sistem off-grid, on-grid, PLTS atap, PLTS terapung, atau kombinasi sumber energi terbarukan lainnya, disesuaikan dengan kondisi geografis dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Analisis Pakar
Keberhasilan Pertamina NRE di Pulau Sembur bukan sekadar catatan teknis, melainkan sinyal penting bagi kebijakan energi nasional. Dari sudut pandang ekonomi makro, proyek ini menawarkan solusi atas dua masalah klasik: ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dan kesenjangan akses energi antarwilayah. Dengan biaya operasional PLTS yang jauh lebih rendah dibanding genset (terutama setelah investasi awal), desa-desa terpencil bisa mengurangi subsidi BBM yang selama ini membebani APBN. Namun, tantangan terbesar bukan lagi di sisi teknologi, melainkan pada skema pembiayaan dan pemeliharaan jangka panjang. Bagaimana memastikan baterai tetap awet, panel surya terawat, dan masyarakat punya kapasitas untuk mengelola sistem? Pertamina NRE perlu menyusun mekanisme service level agreement yang jelas, mungkin melibatkan koperasi desa atau badan usaha milik desa (BUMDes) sebagai pengelola lokal.
Dari perspektif sosial-ekonomi, efek demigrasi yang diharapkan memang realistis. Listrik 24 jam membuka ruang bagi usaha mikro seperti pengelasan, bengkel, pengolahan hasil perikanan, hingga layanan digital. Tapi perlu diingat, keberhasilan di Pulau Sembur yang hanya 200 rumah tidak serta-merta bisa digeneralisasi ke 10.000 desa dengan karakteristik berbeda. Kepulauan Riau memiliki potensi surya yang tinggi, sementara daerah lain mungkin lebih cocok dengan mikrohidro atau angin. Pertamina NRE harus melakukan audit energi yang komprehensif agar tidak terjadi over-engineering yang membengkakkan biaya. Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah sangat krusial untuk menyederhanakan perizinan dan memastikan adanya dukungan fiskal, seperti insentif pajak atau pinjaman lunak.
Yang tak kalah penting adalah dampak terhadap harga energi. Saat ini, listrik PLTS off-grid masih lebih mahal daripada listrik PLN di Jawa, tetapi jauh lebih murah daripada genset. Dengan skala produksi panel dan baterai yang terus menurun harganya, dalam lima tahun ke depan, energi surya akan menjadi pilihan paling ekonomis bahkan untuk daerah terpencil. Pertamina NRE perlu segera memetakan potensi demand agregat dari ribuan desa agar bisa melakukan pengadaan massal dan menekan biaya kapital. Pemerintah juga harus memberi kepastian regulasi terkait net metering dan penyimpanan energi, agar investasi swasta di sektor ini tidak terbentur aturan.
Secara keseluruhan, langkah Pertamina NRE patut diapresiasi sebagai proof of concept yang nyata. Namun, untuk mencapai target 10.000 desa, dibutuhkan transformasi dari pendekatan proyek berbasis CSR menjadi ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Saya melihat peluang besar untuk menggandeng lembaga keuangan internasional dan pengembang energi terbarukan global, karena proyek semacam ini juga menarik bagi skema kredit karbon. Yang terpenting, keterlibatan masyarakat lokal harus menjadi fondasi, bukan sekadar penerima manfaat pasif. Hanya dengan begitu, terang di Pulau Sembur bisa menjadi terang bagi seluruh Indonesia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu PLTS dan bagaimana cara kerjanya di Pulau Sembur?
A: PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) mengubah sinar matahari menjadi listrik melalui panel surya. Di Pulau Sembur, sistem 1 MW dipadukan dengan baterai 1 MWh sehingga listrik bisa disimpan dan digunakan 24 jam, bahkan saat malam atau cuaca mendung. - Q: Berapa biaya yang harus dikeluarkan warga untuk menikmati listrik dari PLTS ini?
A: Hingga saat ini, Pertamina NRE belum merinci tarif per kWh. Namun, karena sistem dibangun sebagai proyek percontohan, kemungkinan besar subsidi dari pemerintah atau Pertamina akan menekan biaya di bawah biaya genset. Ke depan, diharapkan tarifnya kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat desa. - Q: Apakah model ini bisa diterapkan di semua desa terpencil di Indonesia?
A: Secara teknis bisa, tetapi penyesuaian teknologi sangat penting. Daerah dengan potensi angin, air, atau panas bumi akan menggunakan sumber yang paling optimal. Pertamina NRE menyatakan siap berkolaborasi dengan desa lain untuk merancang sistem yang sesuai, baik off-grid, on-grid, ataupun hibrida.


