Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

CPO Diramal Tembus US$1.720: Mengapa Duet El Nino dan B50 Bisa Mengguncang Pasar Global?

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNBC Indonesia
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

CPO Diramal Tembus US$1.720: Mengapa Duet El Nino dan B50 Bisa Mengguncang Pasar Global?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Harga CPO global diproyeksikan melonjak hingga kisaran US$1.650 - US$1.720 per ton pada tahun 2027 akibat defisit pasokan (excess demand).
  • Penurunan produksi di Indonesia dan Malaysia dipicu oleh dampak El Nino ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga pertengahan 2027.
  • Kebijakan mandatori biodiesel B50 di Indonesia memperketat pasokan ekspor, menyisakan ruang yang sangat sempit untuk pasar internasional.

Pasar minyak nabati dunia bersiap menghadapi guncangan pasokan hebat dalam beberapa tahun ke depan. Harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) diproyeksikan bakal merangkak naik hingga menyentuh level US$1.650 hingga US$1.720 per ton pada tahun 2027. Lonjakan ini dipicu oleh fenomena excess demand (kelebihan permintaan) yang kian melebar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, biang kerok utama dari lonjakan harga ini adalah penurunan produksi global yang cukup signifikan. Produksi CPO dunia yang sempat mencapai 85,4 juta ton pada 2025 diprediksi menyusut menjadi 85,2 juta ton pada 2026, dan merosot tajam ke angka 83,6 juta ton pada 2027.

Penurunan ini merupakan dampak nyata dari anomali cuaca El Nino ekstrem yang melanda dua raksasa produsen sawit dunia, Indonesia dan Malaysia, sejak paruh kedua 2026. Dampak terparah dari kekeringan ini diperkirakan baru akan memukul produktivitas perkebunan secara masif sepanjang tahun 2027.

Di sisi lain, ambisi domestik Indonesia untuk menerapkan mandatori biodiesel B50 secara penuh pada 2027 akan menyedot sekitar 18 juta ton CPO. Dengan proyeksi produksi Indonesia yang menyusut ke angka 47,6 juta ton, ruang untuk ekspor dipastikan akan semakin terjepit. Meskipun Ketua Umum Gapki, Eddy Martono, menyebut stok akhir 2026 masih aman di kisaran 2,5-2,9 juta ton, ancaman penurunan produksi di tahun 2027 tetap tidak bisa dihindari akibat faktor cuaca di beberapa wilayah sentra.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat situasi ini sebagai skenario perfect storm (badai yang sempurna) bagi industri sawit. Kita sedang menyaksikan benturan keras antara guncangan dari sisi penawaran (supply shock) akibat El Nino dan lonjakan permintaan yang didorong oleh kebijakan politik domestik (policy-driven demand) melalui program B50. Ini bukan lagi sekadar isu komoditas biasa, melainkan tantangan makroekonomi yang sangat serius bagi Indonesia.

Di satu sisi, lonjakan harga CPO hingga US$1.720 per ton akan menjadi angin segar bagi neraca perdagangan kita dan meningkatkan profitabilitas emiten perkebunan secara signifikan. Namun, di sisi lain, ada risiko inflasi domestik yang mengintai. Ketika harga CPO global melambung, harga minyak goreng di dalam negeri akan ikut tertekan naik. Pemerintah harus ekstra hati-hati dalam mengelola keseimbangan ini agar tidak mengorbankan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

Kebijakan B50 juga merupakan pedang bermata dua. Mengalokasikan 18 juta ton CPO untuk biodiesel di tengah tren penurunan produksi adalah langkah yang sangat berani, namun berisiko tinggi. Indonesia berpotensi kehilangan pangsa pasar ekspor tradisionalnya ke negara-negara seperti India dan Uni Eropa. Jika kekosongan pasokan kita diisi oleh minyak nabati alternatif seperti kedelai atau bunga matahari, akan sangat sulit untuk merebut kembali pasar tersebut di masa depan.

Oleh karena itu, kunci keberlanjutan industri ini tidak lagi terletak pada perluasan lahan, melainkan pada revolusi produktivitas. Program replanting (peremajaan sawit rakyat) yang selama ini berjalan lambat harus diakselerasi tanpa kompromi. Tanpa adanya peningkatan produktivitas per hektar, ambisi Indonesia untuk menjadi raksasa energi hijau sekaligus penopang pangan dunia hanya akan menjadi ilusi yang memicu inflasi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa harga CPO diproyeksikan naik tajam pada tahun 2027?
A: Kenaikan harga dipicu oleh penurunan produksi global akibat dampak El Nino ekstrem di Indonesia dan Malaysia, yang diperparah oleh melonjaknya konsumsi domestik Indonesia untuk program biodiesel B50.

Q: Apa dampak kebijakan biodiesel B50 terhadap ekspor CPO Indonesia?
A: Kebijakan B50 diperkirakan menyedot hingga 18 juta ton CPO domestik pada 2027. Dengan produksi yang menurun, volume CPO yang tersedia untuk pasar ekspor akan berkurang secara signifikan.

Q: Bagaimana pengaruh minyak nabati lain terhadap pergerakan harga CPO?
A: Harga CPO tidak bergerak di ruang hampa. Jika pasokan minyak nabati alternatif seperti kedelai, bunga matahari, dan canola melimpah, hal tersebut dapat menahan atau menekan laju kenaikan harga CPO di pasar global.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ