Sinyal Damai dari Jombang: Di Balik 'Dapur Umum' Muhammadiyah di Muktamar NU ke-35
Menyajikan kajian agama Islam yang menyejukkan dan relevan dengan kehidupan modern.

Ringkasan Singkat
- Aksi Simpatik di Akar Rumput: PD Muhammadiyah Jombang mendirikan posko kesehatan, membagikan lebih dari 12.600 porsi bakso gratis, dan menerjunkan ratusan personel Kokam untuk menyukseskan Muktamar NU ke-35.
- Sinergi Tanpa Sekat: Inisiatif ini murni gerakan kemanusiaan dan persaudaraan tanpa muatan politis, yang telah mendapatkan restu langsung dari panitia lokal Muktamar NU.
- Kolaborasi Keamanan: Ratusan personel Kokam bahu-membahu bersama Banser dan Pagar Nusa untuk menjaga kondusivitas lalu lintas di sekitar Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas.
Di tengah riuh rendah dan tensi tinggi yang kerap mewarnai forum tertinggi warga Nahdliyin, sebuah potret kesejukan justru tersaji di luar ruang sidang. Pelaksanaan Muktamar NU ke-35 yang dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menjadi panggung nyata betapa dewasanya hubungan antara dua ormas Islam terbesar di Indonesia.
Bukan sekadar hadir sebagai undangan seremonial, Pengurus Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Jombang mengambil peran aktif di garis depan pelayanan. Mereka mendirikan posko kemanusiaan yang menyediakan konsumsi gratis, layanan medis, hingga bantuan pengamanan demi kelancaran hajatan akbar lima tahunan tersebut.
Penanggung Jawab Posko Muhammadiyah sekaligus Bendahara PD Muhammadiyah Jombang, Sugeng Santoso, menegaskan bahwa langkah ini adalah buah dari komunikasi intensif dan keakraban yang telah lama terbina di tingkat lokal. Menurutnya, perbedaan tata cara ibadah (furu'iyah) sama sekali bukan penghalang untuk saling mendukung dalam urusan kemanusiaan dan kemasyarakatan.
"Kami di tingkat pimpinan rutin menggelar pertemuan bulanan. Begitu NU punya hajat besar, kami merasa terpanggil untuk ikut berpartisipasi. Ini adalah wujud nyata dari kerukunan dan kerja sama yang melampaui perbedaan teologis," ujar Sugeng saat ditemui di lokasi posko.
Sugeng juga menepis spekulasi adanya motif politik atau kepentingan terselubung di balik aksi ini. Ia menegaskan gerakan ini murni didorong oleh rasa bangga warga Jombang atas terpilihnya daerah mereka sebagai tuan rumah muktamar. Sebelum posko didirikan, pihak Muhammadiyah telah berkoordinasi dan mengantongi izin dari Ketua Panitia Lokal Muktamar, KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozak).
Antusiasme para muktamirin dan penggembira (muhibbin) di lapangan rupanya melampaui prediksi awal. Dapur umum Muhammadiyah, yang didukung langsung oleh armada mobil dapur umum milik PW Muhammadiyah Jawa Timur, awalnya menargetkan distribusi 10.000 porsi bakso. Namun, dalam waktu tiga hari, jumlah yang tersalurkan melonjak hingga mencapai 12.600 porsi.
Selain urusan perut, aspek kesehatan para peserta juga menjadi perhatian serius. Muhammadiyah menyiagakan posko kesehatan yang memberikan layanan pemeriksaan tekanan darah hingga pertolongan pertama bagi pengunjung yang kelelahan. Guna mengantisipasi lonjakan pasien, PW Muhammadiyah Jatim bahkan turut memobilisasi tenaga medis dari jaringan rumah sakit Muhammadiyah di luar Jombang untuk memperkuat tim lokal.
Pemandangan paling menarik terlihat di sektor keamanan luar ring pesantren. Sebanyak 100 hingga 200 personel Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) diterjunkan ke jalanan. Tanpa canggung, mereka berdiri sejajar dengan Banser, Pagar Nusa, serta aparat TNI-Polri untuk mengurai kemacetan dan menjaga ketertiban arus lalu lintas.
Analisis Pakar
Sebagai seorang jurnalis yang telah mengamati dinamika sosial-politik Indonesia selama puluhan tahun, saya melihat fenomena di Jombang ini bukan sekadar aksi bagi-bagi bakso gratis atau pamer kemesraan sesaat. Ini adalah sebuah tamparan keras sekaligus kritik otokritik bagi para elite politik dan tokoh agama di tingkat pusat yang kerap mengeksploitasi perbedaan identitas demi syahwat kekuasaan.
Mengapa aksi sederhana ini terasa begitu luar biasa? Jawabannya terletak pada kontras yang tajam antara realitas akar rumput dan panggung elite. Di tingkat atas, kita sering disuguhi narasi rivalitas—baik dalam perebutan pengaruh di birokrasi, alokasi anggaran pendidikan, hingga kontestasi politik elektoral. Namun, apa yang ditunjukkan oleh warga Muhammadiyah dan NU di Jombang membuktikan bahwa 'akar rumput' kita jauh lebih dewasa dan waras dibanding para elitenya.
Sinergi antara Kokam dan Banser di lapangan juga mengirimkan pesan geopolitik Islam yang sangat kuat ke dunia internasional. Di saat banyak negara Muslim di Timur Tengah terjebak dalam konflik sektarian yang tak berkesudahan, Indonesia menampilkan wajah Islam yang moderat, toleran, dan kolaboratif. Pertemuan dua kekuatan paramiliter sipil ini dalam satu komando pengamanan lalu lintas adalah simbol bahwa pertahanan sosial kita sangat solid.
Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana merawat momentum 'diplomasi bakso' ini agar tidak menguap begitu muktamar usai. Tantangan elektoral di depan mata, seperti Pilkada serentak, sering kali menjadi ujian terberat bagi kerukunan ini. Elit kedua ormas harus mampu menginstitusionalkan kerja sama taktis di lapangan ini menjadi kolaborasi strategis jangka panjang, terutama dalam mengawal isu-isu krusial bangsa seperti pemberantasan korupsi, ketimpangan ekonomi, dan kemunduran demokrasi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa saja bentuk bantuan yang diberikan Muhammadiyah dalam Muktamar NU ke-35?
A: Muhammadiyah mendirikan posko yang menyediakan lebih dari 12.600 porsi bakso gratis, layanan pemeriksaan kesehatan gratis, serta menerjunkan 100-200 personel Kokam untuk membantu pengamanan lalu lintas.
Q: Apakah aksi kemanusiaan Muhammadiyah ini sudah mendapat izin dari pihak NU?
A: Ya, sebelum mendirikan posko, pihak PD Muhammadiyah Jombang telah berkoordinasi dan mendapatkan izin serta sambutan hangat dari Ketua Panitia Lokal Muktamar NU, KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozak).
Q: Bagaimana bentuk kolaborasi keamanan antara Muhammadiyah dan NU di lokasi?
A: Personel Kokam Muhammadiyah bekerja sama secara harmonis di lapangan bersama Banser, Pagar Nusa, dan aparat TNI-Polri untuk mengatur arus lalu lintas dan menjaga kondusivitas di luar area pesantren.


