Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Terlalu 'Glow Up' Jadi Copet? Jujur-Jujuran Review 'Operasi Pesta Copet' yang Bikin Dilema Skena!

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: CNN Selebriti
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Terlalu 'Glow Up' Jadi Copet? Jujur-Jujuran Review 'Operasi Pesta Copet' yang Bikin Dilema Skena!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Film debut sutradara Edy Khemod (drummer Seringai) ini sukses banget menangkap atmosfer festival musik Pestapora yang super autentik dan relate dengan anak muda.
  • Akting Iqbaal Ramadhan sebagai copet dinilai kurang meyakinkan karena fisiknya yang dianggap terlalu mulus, borjuis, dan kurang memancarkan aura lelah karena kesulitan ekonomi.
  • Meskipun elemen ketegangan (suspense) ala film heist-nya terasa kurang greget, chemistry geng copet dan akting ciamik dari Fauzan Lubis berhasil menyelamatkan film ini.

Halo, Pop Culture Enthusiasts! Nadia Putri di sini, siap nemenin kalian nge-teh sore sambil bahas film lokal yang lagi anget-angetnya diomongin di tongkrongan. Yup, apalagi kalau bukan Operasi Pesta Copet! Film panjang pertama garapan drummer Seringai, Edy Khemod, ini bener-bener jadi magnet buat anak konser dan pencinta skena musik tanah air.

Bayangin aja, film ini berlatar di tengah riuh pikuknya festival Pestapora! Dari detik pertama, kita langsung disuguhi atmosfer festival yang dapet banget. Kaos-kaos band kayak The Adams, Teenage Death Star, sampai Seringai berseliweran bikin kita ngerasa kayak lagi ikutan antre tiket konser beneran. Ditambah lagi penjelasan soal moshpit dan kelakuan penonton konser yang bikin penonton awam pun nggak bakal kebingungan pas nonton.

Tapi, tunggu dulu. Di balik visualnya yang estetik dan musiknya yang juara, ada satu hal yang bikin netizen dan penonton garuk-garuk kepala. Siapa lagi kalau bukan sang pemeran utama, Iqbaal Ramadhan yang berperan sebagai Ijal.

Jujur ya gengs, akting Iqbaal itu nggak jelek. Tapi untuk peran seorang copet yang terhimpit ekonomi? Hmm, wajah Iqbaal tuh masih terlalu 'mulus' dan borjuis! Nggak kelihatan ada gurat-gurat lelah khas orang yang pusing mikirin besok makan apa. Istilahnya, dia kurang latihan 'merendah' untuk peran ini. Alhasil, aksi copet-mencopet yang harusnya bikin kita deg-degan malah terasa kayak cerita sampingan aja. Judulnya agak misleading, sih!

Untungnya, penyelamat film ini datang dari jajaran cast lain. Penampilan Fauzan Lubis sebagai Silet bener-bener juara! Gestur dan cara bicaranya natural banget kayak abang tongkrongan kelas bawah yang lihai nyari celah hidup. Ditambah lagi kekompakan Kristo Immanuel (Adut), Kawai Labiba (Melodi), dan Zulfa Maharani (Tia) yang bikin dinamika persahabatan mereka terasa hangat dan manis di tengah kerasnya hidup.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat budaya pop, saya melihat ada ambisi yang terlalu muluk dari Edy Khemod dan Rino Sarjono dalam film ini. Menggabungkan ketegangan ala film heist dengan potret sosial-ekonomi kaum marjinal di tengah gemerlap festival musik itu seperti mencampur minyak dan air kalau tidak dieksekusi dengan presisi tinggi. Sayangnya, ketegangan (suspense) yang harusnya jadi motor utama film heist malah melempem dan kalah saing dengan drama kehidupan anak skenanya.

Fenomena 'salah casting' pada karakter utama juga menjadi catatan kritis saya. Kasus Iqbaal Ramadhan di film ini adalah contoh klasik bagaimana industri film kita kadang masih takut keluar dari zona nyaman 'star power'. Iqbaal adalah magnet bioskop, itu fakta yang tak terbantahkan. Namun, menaruhnya sebagai representasi korban ketimpangan kelas sosial tanpa transformasi fisik yang ekstrem justru merusak 'suspension of disbelief' penonton. Kita tidak melihat Ijal si copet miskin, kita melihat Iqbaal Ramadhan yang sedang menyamar jadi copet.

Namun, apresiasi setinggi-tingginya harus diberikan pada representasi subkultur musiknya. Edy Khemod berhasil membawa 'jiwa' festival musik Indonesia ke layar lebar tanpa terasa cringe atau dipaksakan. Detail-detail kecil seperti etika moshpit, merchandise, hingga cameo-cameo musisi lokal terasa sangat organik. Ini membuktikan bahwa ketika kreator datang dari komunitas itu sendiri, hasilnya akan terasa sangat jujur dan menghargai audiensnya.

Pada akhirnya, Operasi Pesta Copet adalah sebuah eksperimen berani yang patut diapresiasi meski belum sepenuhnya matang. Film ini mungkin gagal memberikan ketegangan ala film kriminal kelas kakap, tetapi sukses besar sebagai surat cinta untuk skena musik festival Indonesia dan potret solidaritas anak muda yang hangat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Siapa sutradara film Operasi Pesta Copet?
A: Film ini disutradarai oleh Edy Khemod, yang juga dikenal luas sebagai drummer dari band metal legendaris Indonesia, Seringai.

Q: Mengapa akting Iqbaal Ramadhan di film ini menuai kritik?
A: Iqbaal dinilai kurang meyakinkan memerankan karakter copet miskin karena penampilan fisiknya yang dianggap terlalu bersih, mulus, dan kurang mencerminkan karakter yang mengalami kesulitan ekonomi berat.

Q: Apakah film Operasi Pesta Copet ini berdasarkan kisah nyata?
A: Ya, film ini terinspirasi dari beberapa pengalaman nyata dan pengamatan Edy Khemod selama berkecimpung di dunia festival musik tanah air, khususnya fenomena pencopetan di tengah konser.

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
😸