Misi Darurat Prabowo: Panglima Jilah Ditemui di Istana, Karhutla Kalimantan Barat Jadi Sorotan Utama

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Misi Darurat Prabowo: Panglima Jilah Ditemui di Istana, Karhutla Kalimantan Barat Jadi Sorotan Utama
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Panglima Jilah dipanggil Presiden Prabowo ke Istana pada Jumat sore untuk membahas kebakaran hutan di Kalimantan Barat.
  • Menurut Panglima Jilah, kebakaran tidak terlalu parah, namun asap mengancam kesehatan, terutama anak‑anak.
  • TNI mengerahkan tiga satuan TNI untuk membantu penanganan karhutla yang meluas hingga 38.310 hektare.

Jakarta, 28 Agustus 2026Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Panglima Jilah, pemimpin besar Pasukan Merah Tariu Borneu Bangkule Rajakng (TBBR), di Istana Kepresidenan pada pukul 16.00 WIB. Kedatangan tersebut, yang diklaim sebagai “silaturahmi kenegaraan”, berfokus pada penanganan karhutla yang kini melanda Kalimantan Barat.

Panglima Jilah menegaskan bahwa agenda utama pertemuan adalah pembahasan data korban, kebutuhan bantuan personel, serta upaya mitigasi asap yang mengganggu kesehatan masyarakat, khususnya anak‑anak. “Sebenarnya tidak parah, yang paling mengganggu adalah kabut asap yang berdampak pada kesehatan, terutama anak‑anak kecil,” ujarnya.

Data BNPB per 23 Agustus mencatat total kebakaran nasional mencapai 72.798 hektare, dengan Kalimantan Barat menyumbang 38.310 hektare – angka tertinggi di antara provinsi lain. Riau menempati urutan kedua (16.249,24 ha), diikuti Kalimantan Selatan (8.019,62 ha).

Menanggapi skala bencana, TNI mengerahkan tiga satuan Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP) ke Kodam XII/Tanjungpura: Yonif TP 538/V/Brawijaya, Yonif TP 542/V/Brawijaya, dan Yonif TP 839/III/Siliwangi. Penempatan pasukan ini diharapkan mempercepat pemadaman, mengamankan wilayah terdampak, serta menekan penyebaran asap.

Analisis Pakar

Penunjukan Panglima Jilah ke istana menandakan eskalasi politik yang jarang terjadi dalam penanganan karhutla. Sementara pemerintah menyoroti “silaturahmi kenegaraan”, realitas di lapangan menunjukkan kegagalan koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan komunitas adat yang menjadi korban utama. Pendataan warga terdampak memang sudah dilakukan, namun tidak ada bukti bahwa data tersebut diintegrasikan ke dalam kebijakan bantuan yang konkret.

Selain itu, pernyataan bahwa kebakaran “tidak terlalu parah” menimbulkan pertanyaan kritis. Angka 38.310 hektare bukan sekadar statistik; ia mencerminkan hilangnya hutan primer, degradasi lahan, dan potensi konflik lahan antara perusahaan perkebunan, tambang, dan masyarakat lokal. Asap yang mengganggu kesehatan anak‑anak adalah gejala yang seharusnya memicu respons darurat, bukan sekadar catatan sampingan.

Pengiriman tiga satuan BTP menandakan keterbatasan kapasitas aparat dalam mengatasi kebakaran berskala besar. BTP biasanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, bukan pemadaman hutan. Ini menegaskan kebutuhan akan unit khusus pemadam kebakaran hutan yang dilengkapi dengan teknologi pemantauan satelit, drone, dan tim cepat respons yang terlatih.

Terakhir, kebijakan jangka panjang masih belum terdefinisi. Pemerintah harus mengintegrasikan upaya karhutla dengan program rehabilitasi ekosistem, penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal, serta pemberdayaan masyarakat adat sebagai penjaga hutan. Tanpa langkah struktural, pertemuan simbolis ini hanya akan menjadi catatan administratif tanpa dampak nyata.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Panglima Jilah dipanggil ke Istana?
  • A: Presiden Prabowo memanggilnya untuk membahas penanganan kebakaran hutan di Kalimantan Barat serta koordinasi bantuan kepada korban.
  • Q: Berapa luas area yang terbakar di Kalimantan Barat?
  • A: Menurut BNPB, wilayah yang terbakar mencapai 38.310 hektare, menjadikannya provinsi dengan kebakaran terbesar di Indonesia.
  • Q: Satuan TNI apa saja yang dikerahkan?
  • A: Tiga satuan Batalyon Teritorial Pembangunan: Yonif TP 538/V/Brawijaya, Yonif TP 542/V/Brawijaya, dan Yonif TP 839/III/Siliwangi.
Meow! Tanya Nesi!
😸