Bara Gambut Kalsel Disiram 'Tepung Singkong': Inovasi Solutif atau Sekadar Pemadam Kebakaran Instan?
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ringkasan Singkat
- Polda Kalsel menguji coba formula pemadam karhutla berbasis pati singkong (tepung ubi) bantuan Mabes Polri untuk membasahi lahan gambut di Banjarbaru.
- Selain cairan tepung, polisi bekerja sama dengan GAPKI menerapkan metode suntik gambut sedalam dua meter menggunakan campuran air dan busa.
- Inovasi ini ditargetkan segera diproduksi massal untuk mengamankan tiga wilayah prioritas rawan kebakaran, termasuk area sekitar bandara.
BANJARBARU ā Upaya penanggulangan bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan memasuki babak baru yang tidak biasa. Polda Kalimantan Selatan kini mulai menguji coba metode mutakhir menggunakan cairan berbahan dasar pati singkong (tepung ubi) untuk menjinakkan api di kawasan lahan gambut Banjarbaru, khususnya di zona ring satu bandara guna mencegah kelumpuhan aktivitas penerbangan akibat kabut asap.
Kapolda Kalsel, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, mengungkapkan bahwa langkah taktis ini merupakan instruksi dan dukungan langsung dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Formula khusus yang dikirim langsung dari Mabes Polri ini diklaim mampu memperlambat laju rambatan api secara signifikan pada ekosistem gambut yang dikenal sangat sulit dipadamkan jika sudah terbakar.
Secara teknis, cairan ini memadukan pati singkong dengan amonium polifosfat, air, dan zat pembasah (wetting agent). Kandungan pati singkong berfungsi meningkatkan daya rekat (adhesi) cairan pada vegetasi dan permukaan tanah, sehingga air tidak langsung menguap atau hilang, melainkan bertahan lebih lama untuk menjaga kelembaban lahan. Sementara itu, amonium polifosfat berperan sebagai penghambat api (retardant).
Tak hanya mengandalkan penyemprotan permukaan, korps bhayangkara ini juga menggandeng GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) untuk menerapkan metode "suntik gambut". Metode ini melibatkan penetrasi pipa air dicampur busa khusus hingga kedalaman dua meter langsung ke jantung tanah gambut. Hasil uji klinis di lapangan menunjukkan penurunan suhu tanah yang drastis, mendinginkan bara api tersembunyi di bawah permukaan.
Saat ini, Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Kalsel tengah berpacu dengan waktu untuk menggandakan formula ini secara massal. Tiga wilayah krusial, yakni Guntung Damar, hutan lindung Liang Anggang, dan Pengayuan, menjadi target utama operasi pembasahan skala besar ini.
Analisis Pakar oleh Budi Santoso
Sebagai jurnalis yang telah bertahun-tahun menginvestigasi bencana karhutla di seantero Nusantara, saya melihat langkah Polda Kalsel mengadopsi teknologi cairan pati singkong ini sebagai sebuah eksperimen taktis yang menarik, namun sekaligus menyisakan tanda tanya besar. Di satu sisi, kita harus mengapresiasi upaya kepolisian yang mencoba keluar dari cara-cara konvensional "siram air lalu menguap" yang selama ini terbukti tidak efektif di lahan gambut. Penggunaan zat pembasah (wetting agent) memang secara ilmiah terbukti mampu menurunkan tegangan permukaan air sehingga bisa meresap lebih dalam ke pori-pori gambut yang hidrofobik (menolak air saat kering).
Namun, mari kita bersikap realistis dan kritis. Pertanyaan mendasarnya adalah: sejauh mana efektivitas biaya (cost-effectiveness) dan skalabilitas dari formula ini? Memadamkan api di area terbatas sekitar bandara mungkin sangat dimungkinkan dengan logistik Mabes Polri. Tetapi, ketika kita berbicara tentang ribuan hektare lahan gambut yang membara di pedalaman Kalimantan, apakah memproduksi berton-ton cairan pati singkong dan amonium polifosfat ini masuk akal secara ekonomi dan logistik? Jangan sampai inovasi ini hanya berakhir sebagai etalase "keberhasilan" sesaat di depan kamera, sementara hutan di garis belakang tetap habis terbakar tanpa penanganan yang memadai.
Hal lain yang patut kita soroti dengan kacamata investigatif adalah keterlibatan GAPKI dalam metode suntik gambut ini. Kolaborasi antara aparat penegak hukum dan asosiasi pengusaha sawit seringkali memicu skeptisisme publik. Kita tahu betul bahwa sejarah karhutla di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari masifnya pembukaan lahan (land clearing) oleh korporasi dengan cara mengeringkan gambut melalui pembuatan kanal-kanal raksasa. Keterlibatan GAPKI di sini harus dipastikan murni sebagai tanggung jawab ekologis, bukan sekadar tameng hijau (greenwashing) untuk menghindari jerat hukum pidana lingkungan. Polda Kalsel harus tetap galak dalam penegakan hukum, tanpa pandang bulu, sekalipun terhadap pihak-pihak yang kini menjadi "mitra" pemadaman mereka.
Pada akhirnya, publik harus disadarkan bahwa memadamkan karhutla dengan teknologi secanggih apa pun hanyalah upaya mengobati gejala, bukan menyembuhkan penyakitnya. Penyakit utama dari karhutla adalah rusaknya hidrologi gambut akibat keserakahan manusia. Selama restorasi gambutāyang meliputi pembasahan kembali (rewetting) melalui sekat kanal dan penanaman kembali (revegetation)ātidak dilakukan secara radikal dan konsisten, maka setiap musim kemarau tiba, kita akan terus terjebak dalam siklus yang sama: membuang-buang anggaran miliaran rupiah hanya untuk menyiram "tepung" di atas bara api yang tak pernah benar-benar padam.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Bagaimana cara kerja cairan tepung singkong dalam memadamkan karhutla?
A: Cairan ini mencampurkan pati singkong dengan amonium polifosfat dan zat pembasah. Pati singkong meningkatkan daya rekat air pada tanah gambut agar tidak mudah menguap, sementara amonium polifosfat bertindak sebagai penghambat laju api.
Q: Mengapa pemadaman di lahan gambut memerlukan metode khusus seperti suntik gambut?
A: Lahan gambut yang kering menyimpan bara api di bawah permukaan tanah hingga kedalaman beberapa meter. Metode suntik gambut menyemprotkan air dan busa langsung ke dalam tanah untuk mendinginkan sumber api bawah tanah yang tidak terjangkau penyiraman permukaan.
Q: Di mana saja wilayah prioritas penerapan formula baru ini di Kalimantan Selatan?
A: Formula ini diprioritaskan untuk tiga wilayah rawan di sekitar Banjarbaru, yaitu kawasan Guntung Damar (dekat bandara), hutan lindung Liang Anggang, dan wilayah Pengayuan.

