Wisata Belanja Raih Rp118 Triliun: Peluang Emas bagi Ritel Indonesia

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Wisata Belanja Raih Rp118 Triliun: Peluang Emas bagi Ritel Indonesia
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pengeluaran wisatawan Indonesia ke luar negeri mencapai US$6,7 miliar (≈ Rp118,66 triliun).
  • Menteri Airlangga Hartarto dorong aliran belanja kembali ke dalam negeri lewat wisata belanja.
  • Hippindo menilai Indonesia sudah kuat di objek wisata & kuliner, namun masih lemah di segmen belanja bagi turis asing.

Pada Indonesia Retail Summit and Expo 2026 yang digelar di Swissotel PIK Avenue, Jakarta Utara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa total pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri mencapai US$6,7 miliar atau setara Rp118,66 triliun (kurs Rp17.711 per dolar). Angka ini, kata Airlangga, bukan sekadar statistik; ia merupakan “potensi yang bisa ditarik ke dalam negeri” bila wisata belanja dapat dioptimalkan.

Airlangga menekankan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia terus meningkat, namun pola pengeluaran mereka masih didominasi oleh kuliner dan belanja di luar negeri. "Kita harus mengubah perilaku itu, menjadikan belanja di Indonesia bukan sekadar tambahan, melainkan motor pertumbuhan baru," ujarnya.

Sektor ritel domestik, meski berada di tengah gejolak geopolitik—perang di Selat Hormuz, konflik Rusia‑Ukraina, hingga perang dagang AS‑China—tetap menunjukkan resiliensi. "Retail Indonesia tetap bertahan dan menjadi penopang perekonomian nasional," tambahnya.

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, menegaskan bahwa Indonesia sudah memiliki dua dari tiga pilar utama pariwisata: objek wisata dan kuliner. Namun, segmen belanja masih kurang menarik bagi turis asing. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah baru‑baru ini membuat harga barang di Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara tetangga, sehingga belanja wisatawan mulai meningkat.

Budihardjo juga menyoroti kebiasaan warga Indonesia yang cenderung berbelanja merek global saat ke luar negeri, meski produk serupa tersedia di tanah air. Ia meminta pemerintah mempermudah impor dan distribusi merek internasional yang sudah beroperasi di Indonesia, agar pilihan bagi wisatawan menjadi lebih lengkap dan mengurangi kebocoran devisa.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat dua implikasi strategis dari data ini. Pertama, aliran devisa sebesar US$6,7 miliar ke luar negeri mencerminkan defisit konsumsi luar negeri yang signifikan. Jika sebagian dari pengeluaran ini dialihkan ke dalam negeri, tidak hanya menambah pendapatan sektor ritel, tetapi juga memperkuat neraca perdagangan melalui peningkatan impor barang menengah dan akhir yang diproduksi secara lokal.

Kedua, wisata belanja dapat menjadi katalisator bagi transformasi digital ritel. Konsumen asing menuntut pengalaman omnichannel—integrasi antara toko fisik, e‑commerce, dan layanan logistik premium. Pemerintah dan asosiasi seperti Hippindo harus mempercepat regulasi yang mempermudah masuknya merek global, sekaligus mendukung brand lokal untuk bersaing di level internasional melalui standar kualitas dan sertifikasi.

Namun, ada risiko yang tak boleh diabaikan. Pelemahan rupiah yang menjadi faktor kompetitif saat ini bersifat sementara; jika nilai tukar kembali menguat, keunggulan harga dapat menghilang. Oleh karena itu, kebijakan harus fokus pada peningkatan nilai tambah produk Indonesia—misalnya melalui desain, inovasi, dan branding—bukan sekadar mengandalkan kurs.

Terakhir, sinergi antara sektor pariwisata dan ritel harus dioperasionalkan lewat paket wisata yang menggabungkan kunjungan objek budaya, kuliner, dan pusat perbelanjaan flagship. Insentif pajak bagi retailer yang berlokasi di kawasan wisata, serta program “Shop Indonesia” yang dipromosikan secara internasional, dapat mempercepat pergeseran perilaku belanja wisatawan dari luar negeri ke dalam negeri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa total pengeluaran wisatawan Indonesia ke luar negeri tahun ini?
    A: Sekitar US$6,7 miliar atau setara Rp118,66 triliun (kurs Rp17.711/USD).
  • Q: Mengapa pemerintah menargetkan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan?
    A: Karena potensi pengalihan devisa ke sektor ritel domestik dapat meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan memperbaiki neraca perdagangan.
  • Q: Apa yang dibutuhkan agar wisatawan asing lebih banyak berbelanja di Indonesia?
    A: Kemudahan impor merek global, pengembangan paket wisata belanja, serta peningkatan standar layanan ritel (omnichannel, logistik, keamanan).
Meow! Tanya Nesi!
😸