Video Commerce Melejit: 2,6 Miliar Transaksi & Target Harbolnas Rp40 Triliun 2026

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Video Commerce Melejit: 2,6 Miliar Transaksi & Target Harbolnas Rp40 Triliun 2026
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Transaksi video commerce mencapai 2,6 miliar, naik 75% dalam setahun.
  • Target Harbolnas 2026 ditetapkan Rp40 triliun, naik 10% dari tahun sebelumnya.
  • Omnichannel kini dominan: dua pertiga perdagangan offline, satu pertiga e‑commerce, membuka peluang besar bagi UMKM dan ekspor digital.

Jakarta – Pola belanja konsumen Indonesia terus bertransformasi. Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, mengungkapkan bahwa transaksi video commerce telah menembus angka 2,6 miliar dengan pertumbuhan hampir 75% dalam setahun terakhir. Angka ini mencerminkan pergeseran signifikan menuju model omnichannel, di mana konsumen menggabungkan pengalaman belanja offline dan online secara simultan.

Menurut data pemerintah, terdapat sekitar 800 ribu penjual online yang kini memanfaatkan siaran langsung untuk menampilkan produk. Dengan lebih dari 180 juta pengguna aktif media sosial yang tumbuh double‑digit (26% per tahun), ekosistem digital Indonesia menjadi lahan subur bagi AI‑driven personalization yang meningkatkan konversi penjualan.

Ekonomi digital diproyeksikan mencapai US$100 miliar pada 2025, menjadikan Indonesia pasar utama bagi video commerce. Pemerintah menargetkan Harbolnas 2026 menghasilkan transaksi senilai Rp40 triliun selama tujuh hari (10‑16 Desember). Target ini diharapkan menggerakkan kuartal keempat dan memperkuat daya beli konsumen.

Selain marketplace, pemerintah memperluas partisipasi ke platform travel, ride‑hailing, dan social commerce, memberi ruang lebih luas bagi UMKM untuk menembus pasar domestik dan internasional. Dalam konteks ASEAN, kesepakatan Digital Economic Framework Agreement (DEFA) yang dijadwalkan ditandatangani pada November di Manila diharapkan membuka jalur ekspor digital bagi produk lokal.

Analisis Pakar

Fenomena video commerce bukan sekadar hype sementara; ia menandai fase baru dalam struktur permintaan Indonesia. Dengan penetrasi internet yang kini melampaui 77% dan adopsi smartphone yang hampir merata, konsumen menuntut interaksi visual yang lebih otentik. Siaran langsung memberikan efek urgensi (FOMO) dan kepercayaan yang sulit dicapai lewat foto statis, sehingga meningkatkan rasio konversi secara signifikan.

Dari perspektif makroekonomi, pertumbuhan video commerce berpotensi menambah kontribusi sektor jasa digital ke PDB sebesar 0,4‑0,6 poin persentase per tahun. Namun, kecepatan adopsi ini menimbulkan tantangan regulasi, khususnya dalam perlindungan konsumen, keamanan data, dan persaingan usaha. Pemerintah perlu menyiapkan kerangka kebijakan yang menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan hak konsumen.

Untuk UMKM, peluang terbesar terletak pada integrasi AI untuk personalisasi penawaran dan logistik yang terhubung dengan platform lintas‑border. Investasi pada infrastruktur digital—seperti jaringan 5G dan layanan cloud lokal—akan menjadi penentu kemampuan bersaing di pasar ASEAN yang semakin terintegrasi.

Namun, tidak semua sektor akan merasakan manfaat yang sama. Retail tradisional yang belum mengadopsi strategi omnichannel berisiko kehilangan pangsa pasar. Oleh karena itu, pelaku usaha harus mempercepat transformasi digital, mengoptimalkan data konsumen, dan membangun ekosistem layanan purna jual yang kuat untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa yang dimaksud dengan video commerce?
    A: Video commerce adalah penjualan produk melalui platform video streaming atau siaran langsung, menggabungkan elemen visual, interaksi real‑time, dan integrasi checkout.
  • Q: Bagaimana Harbolnas 2026 dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia?
    A: Dengan target transaksi Rp40 triliun, Harbolnas 2026 diharapkan meningkatkan konsumsi akhir tahun, mempercepat digitalisasi UMKM, dan menambah kontribusi e‑commerce ke PDB.
  • Q: Apa manfaat DEFA bagi pelaku UMKM Indonesia?
    A: DEFA akan menyederhanakan regulasi perdagangan digital antar‑negara ASEAN, mempermudah akses pasar ekspor bagi UMKM melalui platform e‑commerce lintas‑batas.
Meow! Tanya Nesi!
😸