Siasat InJourney Poles Bandara & Sehatkan Keuangan: Transformasi Setengah Hati atau Lompatan Besar?

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Siasat InJourney Poles Bandara & Sehatkan Keuangan: Transformasi Setengah Hati atau Lompatan Besar?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • InJourney berkomitmen memperkuat ekosistem pariwisata dan aviasi Indonesia dari hulu ke hilir melalui integrasi BUMN.
  • Fokus utama transformasi terletak pada penyehatan neraca keuangan holding serta peningkatan kualitas layanan di berbagai bandara tanah air.
  • Direktur Utama InJourney, Maya Watono, membeberkan strategi integrasi ini dalam dialog eksklusif di CNBC Indonesia.

Jakarta, CNBC Indonesia – Di tengah tantangan pemulihan ekonomi global dan domestik, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau yang lebih dikenal sebagai InJourney terus memacu langkah transformasinya. Sebagai holding BUMN pariwisata dan pendukung, entitas ini memikul tanggung jawab besar untuk tidak hanya sekadar bertahan, melainkan merevolusi lanskap industri pariwisata nasional.

Dalam dialog eksklusif di program Closing Bell CNBC Indonesia, Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menegaskan komitmen kuat perusahaan dalam mengintegrasikan seluruh lini bisnis dari hulu ke hilir. Langkah ini krusial untuk menciptakan sinergi yang kokoh guna memperkuat ekosistem pariwisata dan aviasi di Indonesia.

Transformasi ini tidak main-main. Fokus utama yang kini tengah digarap adalah penyehatan struktur keuangan korporasi pasca-pandemi, yang dibarengi dengan peningkatan standar pelayanan (service excellence) di seluruh bandara kelolaan. Dengan mengintegrasikan pengelolaan bandara, hotel, hingga destinasi wisata super prioritas, InJourney optimistis mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi negara.

Analisis Pakar

Memandang langkah InJourney dari kacamata ekonomi makro, pembentukan holding ini sebenarnya adalah obat penawar yang sudah lama dinantikan untuk mengatasi fragmentasi sektor pariwisata kita. Selama bertahun-tahun, ego sektoral antar-BUMN—mulai dari operator bandara, maskapai, hingga pengelola hotel—menjadi penghambat utama efisiensi. Integrasi di bawah payung InJourney secara teoritis mampu memangkas biaya operasional yang tumpang tindih (cost efficiency) dan mengoptimalkan alokasi modal. Namun, tantangan terbesarnya adalah menyelaraskan budaya kerja yang berbeda di tiap anak usaha serta menyelesaikan beban utang warisan masa lalu, khususnya di sektor aviasi.

Menyehatkan keuangan sembari memoles layanan bandara adalah dua target yang sering kali saling bertolak belakang dalam jangka pendek. Peningkatan layanan bandara membutuhkan belanja modal (CapEx) yang tidak sedikit untuk modernisasi teknologi and fasilitas. Di sisi lain, penyehatan keuangan menuntut efisiensi ketat dan pengurangan beban utang. Di sinilah kepemimpinan Maya Watono diuji. InJourney harus mampu menerapkan strategi asset-light atau menggandeng mitra strategis global melalui skema Kemitraan Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) agar tidak membebani neraca keuangan holding secara berlebihan.

Dari perspektif multiplier effect, keberhasilan transformasi InJourney akan menjadi katalisator penting bagi pertumbuhan PDB Indonesia. Sektor pariwisata menyumbang devisa yang signifikan dan menyerap jutaan tenaga kerja. Jika konektivitas udara (aviasi) dan kesiapan destinasi (pariwisata) dapat terintegrasi dengan mulus, kita akan melihat lonjakan kunjungan wisatawan berkualitas (quality tourism) yang membelanjakan lebih banyak uang di dalam negeri, bukan sekadar mengejar kuantitas turis murah. Ini adalah kunci untuk memperkuat nilai tukar Rupiah secara struktural melalui pos pendapatan jasa.

Namun, kita juga harus tetap bersikap kritis. Transformasi ini tidak boleh hanya menjadi kosmetik di permukaan atau sekadar restrukturisasi kertas di atas meja birokrasi. Pemerintah dan manajemen InJourney harus memastikan bahwa tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) ditegakkan tanpa kompromi. Transparansi dalam proses merger, akuisisi, dan pengelolaan aset negara di bawah holding ini wajib dijaga agar tidak memicu risiko fiskal baru bagi APBN di masa mendatang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu InJourney dan apa perannya dalam pariwisata Indonesia?
A: InJourney (PT Aviasi Pariwisata Indonesia) adalah Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung yang bertugas mengintegrasikan ekosistem pariwisata dan aviasi nasional, mulai dari bandara, hotel, hingga pengelolaan destinasi wisata.

Q: Mengapa penyehatan keuangan menjadi fokus utama InJourney saat ini?
A: Sektor aviasi dan pariwisata terdampak sangat parah oleh pandemi COVID-19. Penyehatan keuangan diperlukan untuk mengurangi beban utang masa lalu, meningkatkan efisiensi operasional, dan memastikan keberlanjutan bisnis holding ke depan.

Q: Bagaimana cara InJourney meningkatkan kualitas layanan bandara tanpa membebani keuangan?
A: InJourney menerapkan strategi integrasi pengelolaan bandara, digitalisasi layanan untuk efisiensi biaya, serta membuka peluang kemitraan strategis dengan pihak swasta global guna mendanai pengembangan infrastruktur.

Meow! Tanya Nesi!
😸