⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Poros Beijing-Teheran Menguat: Mengapa Sanksi 'D-Day' AS Gagal Goyahkan Kemitraan Iran-China?

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Poros Beijing-Teheran Menguat: Mengapa Sanksi 'D-Day' AS Gagal Goyahkan Kemitraan Iran-China?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memuji ketegasan China yang menolak mematuhi sanksi ekonomi sepihak dari Amerika Serikat.
  • Ketegangan Washington-Teheran meningkat setelah Presiden Donald Trump memberlakukan sanksi ekonomi baru bertajuk 'D-Day' akibat kebuntuan negosiasi.
  • China tetap menjadi penyelamat ekonomi utama Iran dengan terus mengimpor minyak mentah, mempertegas kegagalan strategi isolasi total yang diusung Barat.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memasuki babak baru setelah Teheran secara terbuka melayangkan pujian tinggi terhadap Beijing. Langkah diplomatis ini merespons sikap tegas China yang menolak tunduk pada tekanan sanksi ekonomi sepihak yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat terhadap Iran.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa penolakan China terhadap sanksi baru AS membuktikan bahwa kemitraan strategis antara kedua negara berada pada level yang sangat solid. Melalui pernyataan di media sosial X, Ghalibaf menyatakan bahwa hubungan bilateral ini dibangun atas dasar kesetaraan dan visi global yang sama.

"Kemitraan strategis komprehensif Iran-China berakar pada rasa saling menghormati, kerja sama saling menguntungkan, dan visi bersama untuk dunia multipolar. Hubungan ini tidak memerlukan izin siapa pun," tulis Ghalibaf, yang juga menjabat sebagai utusan khusus Iran untuk urusan China sekaligus negosiator ulung dalam dinamika diplomasi Teheran.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan penolakan keras terhadap sanksi AS. Beijing menilai sanksi tersebut tidak memiliki legitimasi hukum internasional karena tidak mengantongi mandat resmi dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Langkah koersif terbaru dari Washington ini diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump. Sanksi yang dijuluki sebagai paket 'D-Day' tersebut dijatuhkan setelah serangkaian negosiasi damai mengenai pemulihan kesepakatan program nuklir Iran menemui jalan buntu tanpa kesepakatan konkret.

Sejak AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir (JCPOA) pada tahun 2018 dan menerapkan kebijakan tekanan maksimum (maximum pressure), China telah menjelma menjadi jangkar penyelamat bagi perekonomian Iran. Meskipun AS terus mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder bagi negara mana pun yang bertransaksi dengan Teheran, volume perdagangan minyak dan produk petroleum antara Beijing dan Iran justru terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional, dinamika ini mencerminkan pergeseran struktural yang semakin nyata menuju tatanan dunia multipolar. Sikap menantang yang ditunjukkan oleh China dan Iran bukan sekadar transaksi dagang biasa, melainkan sebuah manifesto politik melawan hegemoni unipolar Amerika Serikat. Dengan menolak sanksi sepihak AS, Beijing sedang mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa hukum domestik AS tidak lagi memiliki jangkauan ekstrateritorial yang mutlak di panggung global.

Kebijakan sanksi 'D-Day' yang diusung oleh pemerintahan Donald Trump tampaknya menemui batas efektivitasnya. Ketika sebuah negara adidaya ekonomi seperti China secara sadar memilih untuk mengabaikan sanksi sekunder AS, maka efektivitas 'senjata dolar' (weaponization of the greenback) mulai terkikis. Bagi Iran, China bukan hanya sekadar pembeli minyak mentah (buyer of last resort), melainkan mitra strategis jangka panjang yang memberikan ruang bernapas bagi Teheran untuk bertahan dari isolasi finansial Barat.

Di sisi lain, posisi ganda Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai negosiator nuklir sekaligus utusan khusus untuk China menunjukkan strategi lindung nilai (hedging strategy) yang sangat taktis dari Teheran. Iran menyadari bahwa diplomasi dengan Barat harus selalu diimbangi dengan penguatan poros Timur. Jika negosiasi dengan Washington buntu, Teheran memiliki 'kartu as' berupa kemitraan 25 tahun dengan Beijing yang mencakup investasi strategis di sektor energi, infrastruktur, dan keamanan.

Bagi Washington, situasi ini menghadirkan dilema geopolitik yang rumit. Memaksakan sanksi keras terhadap entitas China yang membeli minyak Iran berisiko memicu perang dagang yang lebih destruktif dengan Beijing. Namun, membiarkan transaksi tersebut berlangsung tanpa konsekuensi akan membuat sanksi AS terlihat ompong di mata sekutu-sekutunya. Pada akhirnya, aliansi pragmatis Beijing-Teheran ini berpotensi melahirkan arsitektur keuangan alternatif yang sepenuhnya terbebas dari pengaruh sistem SWIFT dan dominasi dolar AS.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu sanksi 'D-Day' yang dijatuhkan AS ke Iran?
A: Sanksi 'D-Day' adalah paket sanksi ekonomi komprehensif terbaru yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump sebagai konsekuensi atas buntunya negosiasi damai terkait program nuklir Iran.

Q: Mengapa China menolak mematuhi sanksi AS terhadap Iran?
A: China menilai sanksi tersebut bersifat sepihak (unilateral) dan tidak memiliki dasar hukum internasional yang kuat karena tidak disetujui oleh Dewan Keamanan PBB, serta mengganggu prinsip perdagangan bebas antarnegara berdaulat.

Q: Seberapa penting peran China bagi perekonomian Iran saat ini?
A: Sangat krusial. China adalah mitra dagang terbesar dan pembeli utama minyak mentah Iran, yang membantu menjaga stabilitas ekonomi Teheran di tengah sanksi berat dan isolasi keuangan dari negara-negara Barat.

Meow! Tanya Nesi!
😸