Polri Gelar Pelatihan Safety Riding untuk Pengemudi Ojek Online: Langkah Besar atau Sekadar Gimik?
Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Ringkasan Singkat
- Irjen Wibowo menegaskan komitmen Polantas KARIB lewat pelatihan keselamatan bagi ribuan pengemudi ojol di Pusdiklantas Polri, Tangerang Selatan.
- Pelatihan mencakup Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan teknik safety riding, dengan harapan pengemudi menjadi "agen keselamatan lalu lintas".
- Acara melibatkan komunitas ojol dan masyarakat Jabodetabek, namun menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas jangka panjang dan dukungan struktural.
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Wibowo, pada Kamis (27/8) menegaskan bahwa pengemudi ojek online (ojol) adalah mitra strategis dalam upaya pelayanan publik. Dalam rangkaian Gebyar Keselamatan Lalu Lintas yang digelar di Pusdiklantas Polri, Tangerang Selatan, ribuan peserta dari seluruh Jabodetabek mengikuti sesi pelatihan yang meliputi Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan Safety Riding.
Wibowo menekankan bahwa program Polantas KARIB bertujuan membangun kemitraan yang "aktif, responsif, intuitif, dan berintegritas". Ia menambahkan, "Saya tidak ingin rekanārekan pulang hanya sebagai peserta, melainkan sebagai agen keselamatan lalu lintas."
Namun, di balik retorika tersebut, muncul pertanyaan kritis: apakah pelatihan satu hari cukup untuk mengubah perilaku mengemudi yang selama ini dipengaruhi oleh tekanan ekonomi, kurangnya regulasi, dan infrastruktur yang tidak memadai? Sejauh mana Korlantas Polri dapat memastikan bahwa ilmu yang diberikan tidak hanya menjadi materi kuliah singkat, melainkan terintegrasi dalam praktik harian pengemudi?
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat inisiatif ini sebagai langkah simbolik yang perlu diimbangi dengan kebijakan struktural. Pelatihan PPGD dan safety riding memang penting, namun tanpa dukungan regulasi yang menegakkan standar keselamatan kendaraan, serta insentif bagi pengemudi untuk menerapkan pengetahuan tersebut, program ini berisiko menjadi "kegiatan foto" belaka. Korlantas harus mengaitkan pelatihan dengan mekanisme monitoring berkelanjutan, misalnya melalui aplikasi yang memantau kepatuhan pengemudi terhadap protokol keselamatan.
Selanjutnya, peran pemerintah daerah dan platform rideāhailing belum dioptimalkan. Platform seperti Gojek dan Grab memiliki data perilaku pengemudi yang dapat dimanfaatkan untuk menilai efektivitas pelatihan. Kolaborasi yang lebih mendalamāmisalnya, mengintegrasikan modul keselamatan ke dalam proses onboarding driverāakan menghasilkan dampak yang lebih signifikan dibandingkan pelatihan adāhoc.
Terakhir, aspek sosialāekonomi tidak boleh diabaikan. Banyak pengemudi ojol bekerja lebih dari 12 jam sehari demi memenuhi target pendapatan. Tanpa penyesuaian tarif atau jaminan kesejahteraan, mereka cenderung mengorbankan keselamatan demi kecepatan. Kebijakan subsidi bahan bakar, asuransi kecelakaan, atau skema insentif bagi driver yang lolos audit keselamatan dapat menjadi pendorong nyata perubahan perilaku.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa saja materi yang diajarkan dalam pelatihan Polantas KARIB untuk pengemudi ojol?
A: Pelatihan mencakup Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), teknik safety riding, penggunaan helm yang tepat, serta pengetahuan dasar peraturan lalu lintas. - Q: Siapa saja yang dapat mengikuti pelatihan ini?
A: Acara terbuka untuk semua pengemudi ojek online yang terdaftar di wilayah Jabodetabek serta masyarakat umum yang tertarik pada keselamatan lalu lintas. - Q: Bagaimana Korlantas Polri memastikan pelatihan ini berdampak jangka panjang?
A: Hingga kini, Korlantas belum mengumumkan mekanisme monitoring pascaāpelatihan; namun diharapkan akan ada evaluasi berkala dan kerja sama dengan platform rideāhailing untuk menilai perubahan perilaku.


