Prabowo Ganti 'Jas Merah' dengan 'Jas Hijau'—Apakah Ulama Jadi Kunci Indonesia Maju?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan akronim “Jas Hijau” di Muktamar ke‑35 Nahdlatul Ulama sebagai seruan agar tidak melupakan jasa ulama.
- Ia menyoroti peran Hasyim Asy'ari dan para kiai dalam Pertempuran Surabaya 1945, mengklaim kontribusi mereka krusial bagi kemerdekaan.
- Prabowo mengaitkan patriotisme NU dengan lagu “Ya Lal Wathon” serta menekankan bahwa hubungan pemerintah‑ulama menjadi prasyarat Indonesia maju.
JAKARTA, 27 Agustus 2024 – Pada pembukaan Muktamar ke‑35 Nahdlatul Ulama di Kab. Jombang, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan slogan baru, “Jas Hijau: Jangan Sekali‑kali Melupakan Jasa Ulama”. Slogan ini dimaksudkan sebagai balasan terhadap istilah “Jas Merah” yang konon pernah diucapkan Soekarno, yang mengingatkan bangsa agar tidak melupakan sejarah.
Prabowo menegaskan bahwa hubungan dekat antara pemerintah dan ulama adalah prasyarat bagi Indonesia yang ingin menapaki jalur negara maju. “Jika Indonesia ingin menjadi negara maju, pemerintah harus menjaga hubungan dekat dengan ulama‑ulama,” ujarnya di depan ribuan delegasi NU.
Dalam rangka menguatkan argumennya, presiden mencontohkan peran Hasyim Asy'ari serta para kiai dan santri dalam Pertempuran Surabaya 10‑11 November 1945. Ia mengingatkan resolusi jihad yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945, yang memerintahkan umat Islam untuk berperang melawan tentara Sekutu dan NICA. “Kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan di Jakarta, namun diuji di Surabaya. Di sana, peran ulama, kiai, dan pesantren sangat besar,” kata Prabowo.
Presiden juga memuji NU sebagai organisasi yang “memiliki jiwa patriotik tinggi”. Ia menyoroti lagu “Ya Lal Wathon”, yang diciptakan oleh Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah belasan tahun sebelum proklamasi. “Lagu itu sudah memuat semangat nasionalisme, padahal pada saat itu negara belum terbentuk secara jelas,” ujar Prabowo.
Seruan “Jas Hijau” ini menimbulkan beragam reaksi. Sebagian kalangan menilai langkah tersebut sebagai upaya politisasi agama, sementara yang lain melihatnya sebagai upaya memperkuat kohesi nasional dengan mengangkat peran sejarah keagamaan.
Analisis Pakar
Menurut saya, Budi Santoso, pimpinan redaksi dan jurnalis senior investigasi, penggunaan istilah “Jas Hijau” bukan sekadar retorika simbolik. Ia berpotensi menjadi alat politik untuk meraih dukungan massa Muslim, khususnya basis NU yang masih menjadi kekuatan sosial‑politik terbesar di Indonesia. Dengan menempatkan ulama di garis depan narasi pembangunan, Prabowo secara tidak langsung menegaskan bahwa legitimasi kebijakan pemerintah akan diukur dari seberapa baik ia mengakomodasi tuntutan keagamaan.
Namun, ada risiko serius bila pemerintah menganggap “jangan melupakan jasa ulama” sebagai mandat kebijakan. Sejarah memang menunjukkan peran penting para kiai dalam pertempuran 1945, namun mengangkat satu kelompok ke dalam agenda pembangunan dapat menimbulkan ketimpangan representasi. Indonesia adalah negara plural, dan kebijakan yang terlalu berfokus pada satu aliran keagamaan dapat menyingkirkan suara‑suara minoritas serta menimbulkan polarisasi.
Selanjutnya, penekanan pada “hubungan dekat” antara pemerintah dan ulama harus diwaspadai dari sudut pandang sekularisme konstitusional. Konstitusi menjamin kebebasan beragama, namun juga menegaskan pemisahan antara urusan negara dan urusan agama. Jika hubungan ini menjadi terlalu intim, dapat mengaburkan batas-batas tersebut, membuka peluang intervensi keagamaan dalam pembuatan kebijakan publik, terutama di bidang pendidikan, hukum, dan ekonomi.
Terakhir, penggunaan simbol “Jas Hijau” sebagai brand politik menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi kebijakan. Apakah pemerintah akan menyalurkan sumber daya khusus untuk lembaga keagamaan? Bagaimana transparansi alokasi dana? Tanpa jawaban konkret, slogan ini berisiko menjadi “green‑wash” politik—hanya tampak hijau di permukaan, namun tidak menghasilkan perubahan struktural yang mendukung peran ulama secara produktif dalam pembangunan nasional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa arti sebenarnya dari slogan “Jas Hijau” yang dilontarkan Prabowo?
- A: “Jas Hijau” merupakan akronim yang diartikan “Jangan Sekali‑kali Melupakan Jasa Ulama”, dimaksudkan untuk menekankan pentingnya peran ulama dalam sejarah dan pembangunan Indonesia.
- Q: Bagaimana peran Hasyim Asy'ari dalam Pertempuran Surabaya?
- A: Hasyim Asy'ari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945, menyerukan para kiai, santri, dan pesantren untuk berperang melawan pasukan Sekutu dan NICA, sehingga memberikan dukungan moral dan material bagi pejuang Surabaya.
- Q: Apakah “Jas Hijau” berarti pemerintah akan memberikan bantuan khusus kepada Nahdlatul Ulama?
- A: Hingga kini belum ada kebijakan resmi yang mengikat. Slogan lebih bersifat simbolik, namun banyak pihak menilai bahwa hal ini dapat membuka peluang alokasi anggaran atau program khusus bagi organisasi keagamaan.


