Polri Gelar Pelatihan P3K & Safety Riding untuk Pengemudi Ojek Online: Janji Turunkan Kecelakaan?

Otomotif
Doni SuryaDoni Surya
Doni Surya
Doni Surya
Reviewer Mobil

Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

Polri Gelar Pelatihan P3K & Safety Riding untuk Pengemudi Ojek Online: Janji Turunkan Kecelakaan?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Korlantas Polri mengadakan Gebyar Keselamatan Lalu Lintas di Pusdiklantas Polri, Tangerang Selatan.
  • Pelatihan mencakup Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) dan teknik safety riding khusus untuk pengemudi ojol.
  • Irjen Wibowo menargetkan penurunan pelanggaran dan fatalitas kecelakaan lewat inisiatif ini.

Dalam upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas yang terus meningkat, Irjen Wibowo, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, memimpin Gebyar Keselamatan Lalu Lintas pada Kamis (27/8) di Pusdiklantas Polri, Tangerang Selatan. Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Keselamatan Lalu Lintas ini menargetkan ribuan pengemudi ojek online (ojol) yang menjadi tulang punggung transportasi mikro di kota‑kota besar.

Menurut Irjen Wibowo, pelatihan ini tidak sekadar menambah skill mengemudi, melainkan juga menanamkan etika, disiplin, dan kemampuan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) yang dapat menyelamatkan nyawa korban kecelakaan sebelum bantuan medis tiba. "Harapannya, kawan‑kawan ojol setelah mendapatkan kegiatan pelatihan ini nantinya akan memiliki tambahan kemampuan, tambahan keterampilan, sehingga ini akan bermanfaat bagi mereka dalam menjalankan rutinitas mencari nafkah," ujarnya.

Materi yang disampaikan meliputi teknik pengereman darurat, penggunaan helm yang tepat, serta prosedur penanganan korban luka ringan hingga berat. Selain itu, peserta diajarkan cara berkomunikasi dengan petugas lalu lintas dan layanan medis, sehingga respons pertama dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

Irjen Wibowo menegaskan bahwa ojol memiliki potensi menjadi "pelopor keselamatan lalu lintas" di tengah masyarakat. Dengan menurunkan angka pelanggaran dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan, diharapkan tercipta efek domino yang menurunkan fatalitas kecelakaan secara nasional.

Analisis Pakar

Langkah Korlantas Polri ini memang terkesan progresif, namun masih menyisakan pertanyaan kritis tentang efektivitas jangka panjangnya. Pelatihan singkat selama satu hari tidak cukup untuk mengubah perilaku mengemudi yang sudah tertanam kuat, terutama pada pengemudi yang mengandalkan kecepatan untuk menambah pendapatan. Tanpa mekanisme monitoring dan penegakan hukum yang konsisten, pengetahuan yang didapat dapat cepat terkubur oleh tekanan ekonomi.

Selanjutnya, fokus pada PPGD memang penting, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak pengemudi ojol tidak memiliki akses mudah ke peralatan medis dasar seperti perban atau tourniquet. Pemerintah perlu menyertakan distribusi kit pertolongan pertama sebagai bagian integral dari program, bukan sekadar materi teori.

Dari sudut pandang kebijakan, inisiatif ini seharusnya diintegrasikan dengan regulasi yang mewajibkan sertifikasi keselamatan bagi semua pengemudi platform digital. Tanpa standar wajib, pelatihan bersifat sukarela dan berisiko menjadi “kegiatan PR” yang tidak menghasilkan perubahan signifikan pada statistik kecelakaan.

Terakhir, peran platform ojek online (Gojek, Grab, dan sejenisnya) belum diangkat secara jelas. Mengingat mereka memegang kendali atas algoritma penugasan yang mendorong kecepatan, kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, platform, dan asosiasi pengemudi sangat diperlukan. Hanya dengan sinergi lintas sektoral, harapan menurunkan angka pelanggaran dan fatalitas dapat terwujud secara realistis.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Siapa yang menjadi target utama pelatihan ini?
    A: Pengemudi ojek online (ojol) yang terdaftar di platform digital di wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya.
  • Q: Apa saja materi yang diajarkan dalam pelatihan?
    A: Pelatihan mencakup Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), teknik safety riding, etika berlalu lintas, dan prosedur komunikasi dengan petugas.
  • Q: Bagaimana cara mengukur keberhasilan program ini?
    A: Keberhasilan dapat diukur lewat penurunan angka pelanggaran lalu lintas, peningkatan kepatuhan helm, dan statistik penurunan fatalitas kecelakaan yang melibatkan ojol dalam jangka waktu 6‑12 bulan.
Meow! Tanya Nesi!
😾