Ribuan Santri Sambut Prabowo di Muktamar NU: Simbol Politik atau Religiusasi?

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ribuan Santri Sambut Prabowo di Muktamar NU: Simbol Politik atau Religiusasi?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo Subianto tiba di arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, disambut ribuan santri dan warga.
  • Acara dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming serta sejumlah menteri, menandai kehadiran politikus tinggi di forum keagamaan.
  • Kehadiran politikus menimbulkan pertanyaan tentang penggunaan platform keagamaan untuk kepentingan kampanye menjelang pemilu 2029.

Jombang, 27 Agustus 2026 – Pada sore hari Kamis (27/8), Prabowo Subianto menginjakkan kaki di Muktamar NU ke-35 yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Rejo, Jombang. Ribuan santri, warga, dan muktamirin berdesakan di sepanjang Jalan KH Wahab Hasbullah, menyambut kedatangan sang presiden dengan sorak, teriakan, dan lambaian tangan.

Prabowo tiba pada pukul 15.12 WIB menaiki kendaraan taktis berwarna merah, ā€œMaungā€, dan langsung melambaikan tangan ke kerumunan. Suasana berubah menjadi khidmat ketika seluruh kerumunan menyanyikan Indonesia Raya diikuti oleh mars Syubbanul Wathon NU, sambil menonton tayangan langsung di layar raksasa yang dipasang di luar tenda utama.

Sebelum kedatangan presiden, Wakil Presiden Gibran Rakabuming beserta sejumlah menteri – termasuk Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti – telah memasuki area pada pukul 15.00 WIB.

Kehadiran jajaran tinggi pemerintahan di tengah forum keagamaan menimbulkan spekulasi bahwa Muktamar NU dijadikan panggung politik menjelang pemilihan umum 2029. Para pengamat menyoroti bahwa penggunaan simbol keagamaan untuk menambah legitimasi politik bukan hal baru, namun intensitasnya kini tampak semakin terukur.

Selain simbolik, ada pula isu praktis yang belum terjawab: bagaimana keamanan dan ketertiban dijaga di tengah kerumunan yang diperkirakan mencapai puluhan ribu orang? Laporan lapangan menunjukkan kurangnya fasilitas dasar seperti tempat duduk, toilet, dan penanganan medis, yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan dan keselamatan.

Analisis Pakar

Menurut saya, Budi Santoso, kehadiran Prabowo di Muktamar NU bukan sekadar kunjungan simbolis. Ini merupakan strategi politik yang terukur, memanfaatkan jaringan massa NU yang luas untuk memperkuat basis dukungan di wilayah Jawa Timur – daerah yang secara historis menjadi batu loncatan bagi partai-partai politik nasional. Dengan menampilkan diri di tengah ribuan santri, Prabowo berusaha menanamkan citra ā€œpemimpin yang dekat dengan rakyatā€ sekaligus mengukuhkan aliansi dengan ormas keagamaan yang memiliki pengaruh politik signifikan.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa pendekatan ini menimbulkan dilema etis. Muktamar NU seharusnya menjadi forum internal keagamaan, bukan arena kampanye politik. Penggunaan ruang keagamaan untuk kepentingan partai atau calon dapat mengaburkan batas antara keagamaan dan politik, berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi keagamaan yang seharusnya netral.

Selanjutnya, kehadiran sejumlah menteri menandakan sinergi antara eksekutif dan ormas, yang dapat menimbulkan persepsi konflik kepentingan. Apabila kebijakan publik selanjutnya dipengaruhi oleh tekanan politik yang muncul dari dukungan ormas, maka prinsip good governance dapat terancam. Pengawasan lembaga legislatif dan masyarakat sipil menjadi krusial untuk memastikan tidak terjadi ā€œpolitisasiā€ agenda keagamaan.

Terakhir, aspek logistik dan keamanan tampak kurang mendapat perhatian. Mengingat skala acara dan potensi kerumunan besar, pemerintah seharusnya menyiapkan infrastruktur yang memadai – mulai dari fasilitas kesehatan hingga pengaturan lalu lintas. Kegagalan dalam hal ini tidak hanya menimbulkan risiko fisik, tetapi juga menurunkan citra pemerintah dalam mengelola acara publik berskala nasional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Prabowo Subianto hadir di Muktamar NU?
  • A: Kedatangan Prabowo dipandang sebagai upaya memperkuat dukungan politik di kalangan santri NU menjelang pemilu 2029, sekaligus menampilkan solidaritas dengan ormas keagamaan terbesar di Indonesia.
  • Q: Siapa saja pejabat pemerintah yang hadir bersama Prabowo?
  • A: Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti.
  • Q: Apakah ada kritik terkait penggunaan Muktamar NU sebagai panggung politik?
  • A: Ya, banyak pengamat menilai kehadiran politisi tinggi di forum keagamaan dapat mencampuradukkan batas antara keagamaan dan politik, menimbulkan potensi konflik kepentingan dan menurunkan netralitas lembaga keagamaan.
Meow! Tanya Nesi!
😸