Kakorlantas Tuding Ojol Jadi Garda Depan Keselamatan Jalan: Janji atau Sekadar Panggung?

Otomotif
Siska AmeliaSiska Amelia
Siska Amelia
Siska Amelia
Rider & Reviewer

Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Kakorlantas Tuding Ojol Jadi Garda Depan Keselamatan Jalan: Janji atau Sekadar Panggung?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Irjen Wibowo mengajak pengemudi ojol menjadi pelopor keselamatan lalu lintas dalam acara Gebyar Keselamatan Lalu Lintas.
  • Acara digelar di Pusdiklantas Polri, Tangerang Selatan, dengan ribuan peserta dari Jabodetabek.
  • Kakorlantas menekankan kemitraan strategis melalui program Polantas Karib, namun implementasinya masih dipertanyakan.

Jakarta, 27 Agustus 2024 – Dalam sebuah upacara yang dibalut retorika keselamatan, Irjen Wibowo, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, menobatkan para pengemudi ojol sebagai “pelopor keselamatan berlalu lintas”. Pernyataan itu disampaikan saat membuka Gebyar Keselamatan Lalu Lintas di Pusdiklantas Polri, Tangerang Selatan, pada Kamis (27/8).

Wibowo menegaskan bahwa pengemudi ojol kini tidak sekadar penyedia jasa transportasi, melainkan “wajah” dalam menumbuhkan budaya tertib jalan. “Saya selalu mendorong agar seluruh rekan-rekan pengemudi ojol dapat menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas, menjadi contoh dalam disiplin etika berkendara serta kepatuhan terhadap seluruh aturan lalu lintas,” ujarnya.

Menurutnya, pengemudi ojol adalah “mitra strategis” Korlantas, selaras dengan program Polantas Karib yang menekankan kemitraan aktif, responsif, dan berintegritas. Namun, di balik jargon tersebut, sejumlah pertanyaan kritis muncul: apakah kebijakan ini sekadar simbolik atau ada rencana konkret untuk menurunkan angka kecelakaan yang melibatkan ojol?

Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Keselamatan Lalu Lintas, dihadiri oleh masyarakat umum dan perwakilan komunitas ojol. Ribuan peserta dari seluruh wilayah Jabodetabek berkumpul, namun mayoritas tampak lebih terfokus pada hiburan daripada substansi kebijakan.

Wibowo menutup dengan harapan bahwa peserta tidak pulang sebagai “peserta” semata, melainkan sebagai “agen keselamatan lalu lintas”. Pernyataan ini menimbulkan skeptisisme, mengingat catatan historis Korlantas yang sering kali mengumumkan program tanpa tindak lanjut yang memadai.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua lapisan dalam inisiatif ini. Pertama, ada upaya politis untuk menampilkan Polri sebagai pelopor keselamatan, terutama menjelang pemilihan umum mendatang. Mengangkat ojol sebagai “garda depan” memberikan citra progresif, namun tanpa mekanisme pengawasan yang jelas, inisiatif ini berisiko menjadi “greenwashing”.

Kedua, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kecelakaan yang melibatkan ojol masih tinggi. Data Korlantas 2023 mencatat lebih dari 12.000 kecelakaan melibatkan kendaraan roda dua yang beroperasi sebagai layanan transportasi daring. Tanpa regulasi yang mengikat, pelatihan wajib, atau insentif bagi pengemudi yang patuh, seruan menjadi “pelopor” hanyalah slogan kosong.

Program Polantas Karib memang menjanjikan kemitraan yang “aktif, responsif, intuitif, dan berintegritas”. Namun, sejauh ini belum ada laporan transparan tentang alokasi anggaran, standar pelatihan, atau mekanisme sanksi bagi pelanggar. Keterlibatan platform ojol seperti Gojek dan Grab dalam penyusunan kebijakan masih samar, menimbulkan potensi konflik kepentingan.

Terakhir, peran media dan masyarakat sipil sangat penting untuk menuntut akuntabilitas. Jika Korlantas tidak menyediakan data terukur pasca‑program, maka inisiatif ini akan menjadi contoh klasik kebijakan “hanya untuk tampilan”. Pengawasan independen, audit berkala, dan pelibatan akademisi dalam evaluasi program harus menjadi syarat mutlak sebelum kita menganggap ojol sebagai agen perubahan yang nyata.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa tujuan utama program Gebyar Keselamatan Lalu Lintas?
    A: Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran keselamatan jalan, khususnya melibatkan pengemudi ojol sebagai agen perubahan.
  • Q: Bagaimana Polantas Karib mendukung pengemudi ojol?
    A: Melalui kemitraan strategis, pelatihan, dan kampanye bersama, meski detail implementasinya belum dipublikasikan secara transparan.
  • Q: Apakah ada data terbaru tentang kecelakaan yang melibatkan ojol?
    A: Data Korlantas 2023 mencatat lebih dari 12.000 kecelakaan melibatkan kendaraan roda dua layanan daring, namun data pasca‑program masih belum tersedia.
Meow! Tanya Nesi!
😾